Depresi Saat Hamil, Bisakah Terjadi?


Bukan hanya baby blues hingga postpartum depression saja yang bisa dialami setelah persalinan. Menurut penelitian, sekitar 7% ibu hamil bisa mengalami hal ini, terutama di negara berpendapatan menengah ke bawah.

(0)
01 Mar 2021|Azelia Trifiana
Depresi saat hamil dapat mengganggu perkembangan bayiDepresi saat hamil dapat mengganggu perkembangan bayi
Bukan hanya baby blues hingga postpartum depression saja yang bisa dialami setelah persalinan. Depresi saat hamil juga tidak mustahil terjadi. Menurut penelitian, sekitar 7% ibu hamil bisa mengalami hal ini, utamanya di negara berpendapatan menengah ke bawah.Depresi ketika tengah mengandung ditandai dengan rasa sedih dan tidak bersemangat yang terjadi terus menerus. Perempuan lebih rentan mengalami hal ini, fase kehamilan atau usia produktif bisa menjadi momentum awal kemunculan depresi.

Gejala depresi saat hamil

Beberapa gejala dan tanda-tanda depresi saat hamil sama seperti pada orang yang tidak sedang hamil, yaitu:Meski demikian, ada petunjuk yang bisa dijadikan indikasi terjadinya depresi saat hamil, seperti:
  • Sangat mengkhawatirkan kondisi janin dalam kandungan
  • Tidak percaya diri siap menjadi orangtua
  • Tidak lagi merasa bahagia melakukan aktivitas yang dulu disukai
  • Tidak merespons terhadap hiburan
  • Enggan memeriksakan diri untuk antenatal care
  • Merokok
  • Mengonsumsi alkohol berlebih
  • Kenaikan berat badan kurang dari target
  • Muncul suicidal thought
Menurut beberapa penelitian, episode depresif ini bisa terjadi lebih sering pada trimester pertama dan ketiga.

Penanganan depresi saat hamil

Ibu hamil yang mengalami depresi mungkin saja enggan memeriksakan kandungannya hingga mengonsumsi makanan yang diperlukan. Risiko mengalami postpartum depression pun meningkat ketika sudah melahirkan kelak.Setidaknya, direkomendasikan bagi tenaga medis untuk melakukan pemeriksaan adakah gejala depresi dan cemas berlebih setidaknya sekali selama kehamilan. Dalam pemeriksaan ini, ibu hamil akan diminta menjawab beberapa pertanyaan seputar mood dan rasa cemas.Jawaban akan dinilai dan dijadikan identifikasi apakah ada kecenderungan mengalami depresi.Selain itu, dokter juga bisa bertanya apakah ibu hamil pernah merasa tidak berdaya atau tidak bergairah melakukan apapun selama beberapa waktu belakangan. Meski demikian, tetap ada ruang terjadinya bias atau kesalahan karena jenis pertanyaan dan kesadaran akan pentingnya kesehatan mental antara satu orang dan lainnya.Berdasarkan tingkatan depresi yang dialami, penanganan yang terbukti paling efektif adalah terapi perilaku kognitif dan terapi interpersonal. Bahkan, kedua jenis konseling ini menurunkan risiko terjadinya gangguan mood hingga 39%.Penjelasan keduanya adalah:
  • Terapi perilaku kognitif

Bentuk terapi psikologis yang fokus untuk mengubah pola pikir, keyakinan, dan perilaku seorang individu. Seorang terapis akan membantu ibu mengidentifikasi pikiran yang berbahaya kemudian membantu menyusun strategi untuk melawan kecemasan berlebih.
  • Terapi interpersonal

Bertujuan untuk mengidentifikasi faktor sosial, psikologis, dan biologis yang mungkin berpengaruh pada mood ibu hamil. Konselor akan bekerja sama dengan pasien untuk membangkitkan rasa percaya dirinya sebagai seorang ibu.Tak hanya itu, dilakukan juga cara agar transisi peran dari seorang perempuan menjadi ibu lebih mulus. Pemicu stres interpersonal yang mungkin muncul juga sebisa mungkin dihadapi, baik itu dari urusan rumah tangga, pekerjaan, siklus tidur, dan lainnya.Dalam kedua jenis penanganan itu, dicari juga apa saja potensi masalah yang belum terjadi. Sebagai contoh nantinya ketika bayi sudah lahir, ibu akan mengemban tugas baru sebagai ibu menyusui.Sejak dini, dipaparkan bagaimana tugas baru ini akan menyita waktu, tenaga, dan juga pikiran sehingga adaptasi diharapkan berjalan lebih mulus.Meski demikian, jenis penanganan depresi harus disesuaikan dengan karakter setiap orang. Terapi psikologis biasanya diberikan pertama kali bagi yang mengalami perinatal depression ringan. Namun, tidak menutup kemungkinan diberikan tambahan penanganan lain dan juga perubahan gaya hidup.Sayangnya, depresi saat hamil kerap kali terjadi tanpa terdeteksi. Perubahan siklus tidur atau energi dianggap sebagai bagian dari fase kehamilan, bukannya gangguan psikologis.Belum lagi, ada rasa enggan mendiskusikan dengan tenaga medis tentang mood swing selama hamil karena stigma yang melekat pada orang depresi. Ada pula tendensi fokus lebih pada urusan fisik ibu hamil saja ketimbang kesehatan mentalnya.Rantai semacam ini harus diputus. Kesehatan mental sama krusialnya seperti kesehatan fisik. Orang terdekat perlu mendengarkan dan memberikan dukungan sekuat tenaga untuk ibu hamil agar risiko depresi tidak kian besar.

Catatan dari SehatQ

Ibu hamil yang merasakan gejala atau curiga ada tanda-tanda depresi, tak perlu merasa bersalah atau malu untuk mencari bantuan.Mengalami depresi saat hamil bukan berarti Anda adalah sosok ibu yang buruk. Setiap perempuan rentan mengalami depresi dan pahami bahwa Anda tidak sendirian dalam hal ini.Untuk berdiskusi lebih lanjut seputar risiko mengalami depresi saat hamil, tanyakan langsung pada dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Download sekarang di App Store dan Google Play.
menjaga kehamilanmengatasi depresidepresi
Healthline. https://www.healthline.com/health-news/what-parents-should-know-about-postpatrum-and-peripartum-treatment
Diakses pada 14 Februari 2021
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/pregnancy-week-by-week/in-depth/depression-during-pregnancy/art-20237875
Diakses pada 14 Februari 2021
Mind. https://www.mind.org.uk/information-support/types-of-mental-health-problems/postnatal-depression-and-perinatal-mental-health/postnatal-and-antenatal-depression/
Diakses pada 14 Februari 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait