Delirium Vs. Demensia, Penyakit Lupa yang Picu Penurunan Kesadaran

Delirium dan demensia sebenarnya adalah gangguan yang berbeda, meski sulit dibedakan
Delirium merupakan perubahan mendadak pada otak, yang mengakibatkan kebingungan

Delirium dan demensia adalah dua kondisi penyakit lupa yang sering menyebabkan gangguan kognitif. Keduanya dapat mengakibatkan kesulitan mengingat (pikun) dan gangguan berkomunikasi.

Delirium adalah perubahan secara mendadak pada otak yang menyebabkan kebingungan. sedangkan demensia adalah penurunan kemampuan fungsi otak. Delirium dan demensia adalah dua kondisi gangguan yang berbeda. Namun kadangkala, keduanya sulit dibedakan. 

[[artikel-terkait]]

Mengenali perbedaan penyakit lupa delirium dan demensia

Seringkali, delirium terjadi pada pasien penyakit lupa dengan demensia. Hal ini menyebabkan kesulitan untuk mengidentifikasi kondisi pasien: apakah mengalami delirium, demensia, atau malah keduanya?

Hingga saat ini, masih belum ada tes laboratorium yang bisa digunakan untuk membedakan delirium dan demensia. Namun, wawancara dan pemeriksaan fisik mendalam, bisa membantu membedakan kondisi delirium dan demensia.

Berikut ini beberapa perbedaan antara keduanya.

1. Proses terjadinya penyakit lupa delirium dan demensia

Demensia pada umumnya terjadi secara perlahan dan bertahap, untuk dapat disadari, baik oleh penderita maupun orang sekitarnya. Mengetahui latar belakang dan kehidupan sehari-hari seseorang, dapat membantu mengevaluasi kondisinya.

Berbeda dari demensia, delirium merupakan proses perubahan yang terjadi secara mendadak. Pada suatu hari, mungkin penderita demensia terlihat baik-baik saja. Namun keesokan hari, mungkin ia tampak sangat kebingungan, hingga kesulitan mengenakan bajunya sendiri.

2. Penyebab

Penyebab dari demensia adalah beberapa penyakit seperti gangguan pembuluh darah, penyakit Alzheimer, lewy body dementia, atau penyakit lainnya. Sementara itu, delirium terjadi akibat penyakit seperti infeksi saluran kencing, radang paru-paru, dehidrasi, intoksikasi obat-obatan, atau sindrom putus obat dan alkohol.

3. Durasi

Pada umumnya, demensia bersifat kronis, progresif, dan tidak dapat disembuhkan. Meski demikian, ada beberapa tipe demensia yang dapat disembuhkan. Seperti halnya kekurangan vitamin B12 dan gangguan fungsi kelenjar tiroid.

Delirium dapat berlangsung selama beberapa hari hingga bulan. Pada umumnya, delirium bersifat sementara, apabila penyebabnya dapat teridentifikasi dan diobati.

4. Kemampuan berkomunikasi

Penderita demensia mungkin dapat mengalami kesulitan menemukan kalimat yang tepat, pada saat berkomunikasi. Bersamaan dengan semakin parahnya demensia, penderitanya juga dapat mengalami kemunduran dalam mengekspresikan dirinya.

Sementara itu, delirium secara signifikan mengganggu kemampuan seseorang untuk berbicara secara runtut atau jelas.

5. Pemusatan perhatian dan daya ingat

Pada demensia, kewaspadaan umumnya tidak terganggu, hingga mencapai stadium akhir. Namun, gangguan memori atau daya ingat dapat timbul, mulai dari awal terjadinya penyakit. Pada delirium, hal yang sebaliknya terjadi. Gangguan memori biasanya tidak atau sedikit terganggu.

Meski demikian, penderita delirium mengalami gangguan kewaspadaan dan pemusatan perhatian yang sangat buruk.

6. Terapi

Beberapa obat-obatan dapat digunakan oleh penderita demensia yang disebabkan oleh penyakit Alzheimer. Namun, obat-obatan tersebut sekadar memperlambat gejala demensia, seperti gangguan daya ingat dan perubahan perilaku, bukan menyembuhkannya.

Delirium membutuhkan terapi secara cepat oleh dokter. Hal ini karena delirium biasanya disebabkan oleh gangguan fisik atau adanya infeksi. Apabila delirium diakibatkan oleh adanya infeksi, pemberian antibiotik dapat menghilangkan gejala delirium.

Mengetahui perbedaan delirium dan demensia, akan sangat membantu dokter untuk memberikan penanganan yang cepat dan tepat, pada orang terdekat Anda yang mengalaminya.

Artikel Terkait

Banner Telemed