Deep Vein Thrombosis: Gumpalan Darah di Kaki yang Berbahaya

(0)
20 Sep 2020|dr. Levina Felicia
Ditinjau olehdr. Karlina Lestari
Deep vein thrombosis atau DVTDeep vein thrombosis atau DVT merupakan munculnya gumpalan darah dalam vena
Deep vein thrombosis (DVT) merupakan kondisi medis yang serius, namun dapat dicegah. DVT melibatkan terbentuknya gumpalan darah di kaki dan dapat menimbulkan komplikasi yang mengancam nyawa bila dibiarkan. Sebenarnya, apa yang dimaksud dengan DVT dan seperti apa komplikasinya?

Apa itu deep vein thrombosis atau DVT?

Trombosis vena dalam alias DVT adalah kondisi yang terjadi ketika gumpalan darah (trombus) terbentuk pada satu atau lebih vena pada bagian dalam. DVT paling sering terjadi di kaki.Deep vein thrombosis dapat menyebabkan komplikasi yang berbahaya. Karena itu, pasien harus segera menghubungi dokter bila mengalami gejalanya yang dapat berupa:
  • Pembengkakan pada kaki yang muncul tiba-tiba
  • Nyeri atau pegal saat berjalan atau berdiri
  • Hangat di area yang terasa nyeri
  • Pelebaran pembuluh darah vena
  • Kulit tampak berwarna kemerahan atau kebiruan
Gejala-gejala tersebut biasanya hanya melibatkan satu kaki. Namun selain pada kaki bagian bawah, DVT juga dapat muncul di lengan dengan gejala sebagai berikut:
  • Sakit leher
  • Nyeri bahu
  • Pembengkakan pada lengan atau tangan
  • Warna kebiruan pada kulit
  • Nyeri yang berpindah dari lengan ke telapak tangan
  • Kelemahan pada tangan
Meski demikian, ada pula sebagian penderita yang tidak mengalami gejala apapun. Sebagai akibatnya, kondisi ini baru terdeteksi ketika komplikasi sudah terjadi.

10 penyebab deep vein thrombosis

Beberapa hal yang dapat memicu terjadinya deep vein thrombosis meliputi:
  • Usia

DVT dapat dialami pada segala usia, namun risiko akan meningkat pada orang berusia lebih dari 40 tahun.
  • Duduk dalam jangka waktu lama

Ketika seseorang duduk dalam waktu lama, otot pada kaki akan semakin relaks. Hal ini menyebabkan darah sulit bersirkulasi seperti biasa dan gumpalan darah lebih rawan terbentuk. Kondisi ini biasanya dialami pada orang dalam perjalanan jauh, baik dalam pesawat atau kendaraan darat.
  • Tirah baring

Pasien yang menjalani tirah baring (bed rest) dalam waktu lama di rumah sakit juga berisiko mengalami deep vein thrombosis.
  • Hamil

Bayi dalam kandungan meningkatkan tekanan pada pembuluh darah vena di kaki dan panggul. Gumpalan darah dapat terjadi hingga enam minggu pascapersalinan.
  • Obesitas

Orang dengan indeks massa tubuh (IMT) 30 atau lebih, memiliki risiko lebih tinggi mengalami deep vein thrombosis.
  • Kondisi medis tertentu

Kondisi seperti irritable bowel disease (IBD), kanker, dan penyakit jantung dapat meningkatkan risiko DVT.
  • Memiliki kelainan darah genetik

Beberapa penyakit genetik dapat menyebabkan darah lebih kental dari biasanya.
  • Cedera pada pembuluh darah vena

Hal ini dapat disebabkan oleh patah tulang, operasi, atau jenis cedera lainnya.
  • Merokok

Merokok dapat menyebabkan darah lebih kental dari normal dan kerusakan dinding pembuluh darah. Hal ini dapat memicu pembentukan gumpalan darah yang berujung pada deep vein thrombosis.
  • Pil kontrasepsi atau terapi pengganti hormon

Hormon estrogen dapat meningkatkan kemampuan darah untuk menggumpal.

Komplikasi ini bisa terjadi bila deep vein thrombosis dibiarkan

Ketika gumpalan darah yang terbentuk pada deep vein thrombosis pecah, gumpalan ini bisa mengalir ke paru-paru dan menyebabkan penyumbatan pembuluh darah arteri di paru-paru. Kondisi yang dikenal dengan emboli paru ini dapat menyebabkan kerusakan paru-paru dan organ lainnya yang mengancam nyawa.Gejala yang menjadi tanda bahaya emboli paru meliputi:
  • Sesak napas mendadak
  • Nyeri dada atau rasa tidak nyaman yang memburuk ketika pasien menarik napas dalam atau batuk
  • Perasaan hampir pingsan, pusing, atau pingsan
  • Nadi yang cepat
  • Batuk darah

Apa yang harus dilakukan untuk menangani deep vein thrombosis?

Bagi pasien yang mengalami DVT, dokter akan mencegah agar gumpalan darah tidak membesar dan menuju paru-paru. Pengobatan yang dilakukan juga akan mengurangi risiko deep vein thrombosis yang berulang.Langah-langkah pengobatan tersebut bisa berupa:
  • Obat-obatan

Dokter akan meresepkan obat-obatan pengencer darah untuk mengurangi gumpalan darah. Obat ini perlu dikonsumsi selama enam bulan.Pada pasien dengan gejala yang parah atau gumpalan darah yang besar, dokter mungkin akan memberikan obat jenis trombolitik. Akan tetapi, obat ini tidak terlalu sering diberikan karena memiliki efek samping berupa perdarahan.
  • Inferior vena cava (IVC) filter

Bagi pasien yang tidak dapat mengonsumsi obat atau tidak membaik setelah pemberian obat, dokter dapat memasukan alat khusus ke dalam pembuluh darah pasien. Alat ini dapat menyaring gumpalan darah sebelum mencapai paru-paru.
  • Stoking kompresi

Stoking khusus ini dapat mencegah penumpukan darah di pembuluh darah vena.Deep vein thrombosis termasuk kondisi yang berbahaya jika terus dibiarkan. Komplikasinya dapat mengancam jiwa penderita, jadi gejalanya mesti dikenali sedini mungkin.Segera konsultasikan ke dokter apabila Anda mengalami keluhan yang dicurigai sebagai DVT. Mulai dari pegal saat berjalan, kaki yang bengkak, bagian yang sakit terasa hangat saat disentuh, hingga pelebaran pembuluh darah vena.
pembekuan darahdeep vein thrombosis
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/deep-vein-thrombosis/symptoms-causes/syc-20352557
Diakses pada 20 September 2020
WebMD. https://www.webmd.com/dvt/what-is-dvt-and-what-causes-it#1
Diakses pada 20 September 2020
Healthline. https://www.healthline.com/health/deep-venous-thrombosis
Diakses pada 20 September 2020
Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/153704
Diakses pada 20 September 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait