Lakukan Deteksi Dini Gejala Malaria Sebelum Mengonsumsi Obat Malaria

Nyamuk Anopheles betina adalah penyebar penyakit malaria
Gigitan nyamuk Anopheles betina yang terinfeksi parasit Plasmodium dapat menyebarkan penyakit malaria

Penyakit malaria selalu identik dengan gigitan nyamuk. Namun sebenarnya penyebab penyakit malaria adalah karena infeksi parasit Plasmodium yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles betina yang terinfeksi parasit.

Malaria biasanya terjadi di daerah tropis dan subtropis, termasuk Indonesia. Meskipun demikian, ciri ciri malaria atau gejala malaria masih belum banyak dikenali oleh masyarakat dan bisa dianggap sebagai demam tinggi saja.

Apa saja gejala malaria?

Gejala malaria umumnya muncul 10-15 hari setelah digigit oleh nyamuk betina yang telah terinfeksi oleh parasit Plasmodium yang merupakan penyebab penyakit malaria. 

Parasit penyebab penyakit malaria tersebut pada awalnya tidak akan memunculkan ciri ciri malaria yang terlihat jelas dan cenderung disangka sebagai gejala pilek atau flu biasa. Beberapa gejala malaria yang terlihat secara umum adalah:

Ciri ciri malaria yang juga bisa dialami adalah batuk, sakit di dada atau perut, diare, pembengkakan pada organ hati, kulit dan mata yang berwarna kuning (jaundice), peningkatan pernapasan, anemia, dan pembesaran limpa.

Demam pada penyakit malaria dapat membentuk suatu pola yang dikenal sebagai serangan malaria dan berlangsung selama 6-10 jam, serta terbagi menjadi tiga tahapan, yaitu tahap dingin, tahap panas, dan tahap berkeringat.

Gejala malaria dalam tahap dingin termanifestasi dalam bentuk menggigil dan sensasi dingin. Setelahnya, di tahap panas, gejala malaria yang muncul adalah sakit kepala, demam, dan muntah.

Bagi anak kecil, gejala malaria dalam tahap panas bisa memicu kejang. Tahapan terakhir atau tahap berkeringat menimbulkan gejala malaria berupa berkeringat, kelelahan, dan suhu tubuh yang kembali normal.

Apa saja obat malaria yang tersedia?

Para penderita penyakit malaria tidak perlu khawatir karena terdapat penanganan dan obat malaria yang dapat diberikan untuk membantu kesembuhan. 

Obat malaria yang sering digunakan untuk mengobati penyakit malaria adalah obat malaria jenis artemisinin-based combination therapies (ACTs) dan chloroquine phosphate. Umumnya, dokter akan memberikan ACTs terlebih dahulu.

Obat malaria ACTs merupakan kombinasi dari dua atau lebih obat yang dapat membasmi parasit penyebab penyakit malaria. 

Sementara, obat malaria chloroquine phosphate merupakan obat malaria yang digunakan untuk parasit yang masih bisa ditanggulangi dengan obat tersebut. 

Namun, obat malaria chloroquine phosphate sudah jarang digunakan karena beberapa parasit penyebab penyakit malaria mulai kebal terhadap obat malaria tersebut. 

Selain obat malaria di atas, dokter juga bisa menggunakan obat malaria, berupa mefloquine, kombinasi quinine sulfate dengan doxycycline, primaquine phosphate, dan kombinasi atovaquone dengan proguanil.

Umumnya, penyakit malaria adalah penyakit yang bisa ditanggulangi dengan obat-obat malaria di atas. Namun saat ini, parasit penyebab penyakit malaria yang kebal terhadap obat malaria mulai bermunculan.

Oleh karenanya, sebagai respon untuk mengatasi kemunculan dari parasit penyebab penyakit malaria yang kebal obat malaria, maka pengembangan dan penelitian mengenai obat malaria baru yang lebih efektif sedang diupayakan.

Bagaimana dengan obat malaria alami?

Faktanya, obat malaria alami yang telah digunakan sejak ratusan tahun lamanya sudah diteliti dan dibuat sebagai komponen utama dari obat malaria modern yang diberikan oleh dokter.

Meskipun demikian, ada baiknya jika Anda berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu sebelum menggunakan obat malaria alami yang dijual di pasaran atau diklaim mampu menghilangkan gejala malaria. 

Segera tangani penyakit malaria!

Penyakit malaria tidak boleh dianggap remeh dan harus segera dilakukan pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut. Penyakit malaria yang tidak segera diatasi akan mengakibatkan berbagai komplikasi, seperti:

  • Anemia yang parah
  • Tekanan darah rendah
  • Gangguan neurologi atau saraf
  • Tidak normalnya proses pembekuan darah
  • Cedera ginjal akut
  • Adanya darah dalam urin
  • Kadar gula darah yang menurun
  • Peningkatan kadar keasaman dalam darah dan cairan dalam jaringan
  • Hiperparasitemia atau kondisi saat lima persen sel darah merah sudah terinfeksi parasit penyebab penyakit malaria
  • Peradangan pada paru-paru yang mengganggu proses pertukaran oksigen

Oleh karenanya, konsultasikan ke dokter untuk menjalani pemeriksaan bila Anda atau kerabat mengalami gejala malaria yang telah diuraikan di atas.

CDC. https://www.cdc.gov/malaria/about/disease.html
Diakses pada 07 Agustus 2019

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/malaria/symptoms-causes/syc-20351184
Diakses pada 07 Agustus 2019

Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/165749.php
Diakses pada 07 Agustus 2019

NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC527695/
Diakses pada 07 Agustus 2019

WebMD. https://www.webmd.com/a-to-z-guides/malaria-symptoms#1
Diakses pada 07 Agustus 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed