Dampak Orangtua Bertengkar di Hadapan Anak yang Perlu Diwaspadai

(0)
25 Mar 2021|Nenti Resna
Ditinjau olehdr. Reni Utari
Anak dapat menjadi korban dari orangtua bertengkarOrangtua bertengkar di hadapan anak dapat membawa dampak buruk
Pertengkaran orangtua kadang tidak bisa dihindari. Meski demikian, pertengkaran ini tidak boleh dilakukan di depan anak, apalagi jika anak masih berusia dini. Tahukah Anda kalau dampak orangtua bertengkar di depan anak tidak main-main? Jika hal ini sering terjadi, pertengkaran orangtua dapat berdampak secara fisik dan mental pada anak-anak, bahkan terus bertahan hingga dewasa.

Dampak orangtua bertengkar terhadap anak

Sejumlah dampak buruk dari orangtua bertengkar terhadap anak yang perlu Anda waspadai, di antaranya:

1. Berperilaku agresif

Pertengkaran keluarga atau orangtua dapat membentuk cara menyelesaikan masalah yang buruk pada anak-anak. Mereka bisa mempercayai bahwa menyelesaikan masalah harus dilakukan dengan bertengkar.Oleh karena itu, tidak mengherankan jika anak di kemudian hari akan mencoba menyelesaikan masalahnya dengan orang lain menggunakan cara yang sama.

2. Gangguan emosional

Pertengkaran orangtua, khususnya yang melibatkan pertengkaran fisik atau kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), dapat menyebabkan tekanan emosional yang sangat besar pada anak. Kondisi ini dapat memicu masalah kecemasan dini dan gangguan kesehatan mental anak lainnya.

3. Hubungan orangtua dan anak yang buruk

Orangtua yang sering bertengkar cenderung sibuk dengan masalah pribadi mereka sehingga kebutuhan anak dapat terabaikan.Selain itu, orangtua mungkin kesulitan mengungkapkan kehangatan dan rasa sayang pada anak, saat berada dalam kondisi tertekan karena masalah dengan pasangannya.

4. Gangguan belajar

Pertengkaran orangtua akan menciptakan lingkungan yang membuat anak tertekan. Kondisi ini dapat membuat pikiran anak terpaku dalam ketakutan dan ketidakpastian. Pada akhirnya, kondisi ini membuat anak sulit berkonsentrasi pada berbagai hal, misalnya belajar.

5. Kegagalan dalam hubungan

Melihat orangtua berantem terus-menerus akan membuat anak tumbuh dengan mempelajari hal yang sama.Ketika beranjak dewasa, anak yang sering melihat orangtua bertengkar dapat mengalami gangguan dalam hubungannya. Bisa jadi, ia juga akan takut memulai hubungan karena khawatir terluka.

6. Gangguan kesehatan

Sering melihat orangtua atau keluarga bertengkar dapat menyebabkan anak merasa cemas, depresi, gangguan perilaku, dan tidak berdaya.Kondisi ini dapat membuat anak mencoba mencari pelarian untuk memperoleh kenyamanan. Misalnya, mencari kenyamanan dengan makan berlebihan atau malah tidak mau makan. Selain itu, anak dapat terjerumus ke dalam penggunaan obat-obatan terlarang dan merokok, yang dapat berdampak pada kesehatanSelain itu, ia juga dapat menderita sakit kepala, sakit perut, insomnia, fobia, dan gangguan kesehatan lainnya.

7. Harga diri rendah

Anak yang sering menjadi saksi pertengkaran orangtuanya dapat memiliki perasaan malu, bersalah, tidak berharga, dan tidak berdaya. Akibatnya, ia mulai memiliki harga diri yang rendah.Kondisi ini mungkin akan membuatnya kesulitan menghadapi kehidupan di masa depan. Sebab, ia tidak dapat mempertahankan citra diri yang baik secara pribadi atau di bidang profesional.

Cara mengatasi trauma pada anak yang menyaksikan pertengkaran orangtua

Ada kalanya pertengkaran orangtua menjadi besar dan keduanya bisa lepas kendali. Hal ini dapat terjadi di hadapan anak atau terdengar oleh anak yang berada di ruangan lain.Walaupun orangtua mungkin menganggapnya tidak berarti, hal tersebut dapat melukai perasaan anak secara mendalam dan menyebabkan dampak jangka panjang seperti trauma. Sebaiknya lakukan hal-hal berikut untuk mengatasi trauma pada anak akibat pertengkaran orangtua.

1. Diskusikan pertengkaran tersebut dengan anak

Anda tidak perlu membahas secara spesifik masalah penyebab pertengkaran. Namun, sebaiknya Anda dan pasangan mendiskusikan hal tersebut dengan anak secara baik-baik.Ungkapkan bahwa ada perbedaan pendapat antara ayah dan ibu, serta tidak seharusnya orangtua bertengkar penuh emosi dan tidak terkendali.

2. Yakinkan anak bahwa pertengkaran tidak memengaruhi hubungan

Selanjutnya, Anda perlu meyakinkan anak bahwa pertengkaran tersebut bukan berarti orangtua memiliki masalah yang sangat besar.Ungkapkan bahwa Anda dan pasangan masih baik-baik saja dan mencintai dirinya. Yakinkan bahwa orangtua tidak akan berpisah (bercerai) karena pertengkaran tersebut.

3. Berikan pernyataan penutup

Terakhir, ungkapkan kepada anak bahwa keluarganya masih baik-baik saja. Katakan padanya bahwa terkadang orang dapat bertengkar dan terbawa emosi, tapi sekarang semuanya sudah baik-baik saja.Bertengkar bukan berarti semuanya akan berakhir, dan kalian masih saling mencintai walaupun ada hal-hal yang tidak disepakati.

4. Meminta bantuan terapis

Jika pertengkaran Anda dan pasangan kerap terjadi, serta dikhawatirkan dapat membahayakan kesehatan mental anak, pertimbangkan untuk berkonsultasi dengan konselor pernikahan dan keluarga.Anda dan pasangan dapat mempelajari keterampilan yang bermanfaat mengurangi pertengkaran besar, serta membentuk hubungan yang lebih harmonis.Apabila Anda meyakini bahwa mental anak telah terdampak, sebaiknya segera bawa anak untuk melakukan terapi pemulihan dari trauma dengan psikolog anak.Jika Anda punya pertanyaan seputar masalah kesehatan anak, Anda bisa bertanya langsung dengan dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ secara gratis. Unduh aplikasi SehatQ sekarang di App Store atau Google Play.
membesarkan anakrumah tangga
Very Well Family. https://www.verywellfamily.com/how-parents-fighting-affects-children-s-mental-health-4158375
Diakses 11 Maret 2021
Parenting First Cry. https://parenting.firstcry.com/articles/impacts-of-parents-fighting-on-children/
Diakses 11 Maret 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait