Hikikomori Picu Isolasi Sosial secara Ekstrem, Apa Dampaknya terhadap Kesehatan?


Hikikomori membuat pelakunya memilih untuk melakukan isolasi dan menarik diri dari lingkungan sosial. Kondisi ini dapat memicu munculnya gangguan kesehatan mental, di antaranya depresi, kecemasan, demensia, hingga keinginan untuk bunuh diri.

(0)
Hikikomori adalah fenomena melakukan isolasi dan menarik diri dari lingkungan sosialHikikomori dapat memberi pengaruh buruk terhadap kesehatan mental pelakunya
Pada masa pandemi seperti sekarang ini, banyak orang yang memilih untuk mengisolasi diri di rumah. Langkah ini dilakukan untuk membantu mencegah dan menghentikan penyebaran virus coronaBerbeda dari orang-orang di negara lain yang baru mulai mengisolasi diri pada masa pandemi, fenomena menarik diri dari lingkungan sosial sudah terjadi di Jepang sejak puluhan tahun lalu. Fenomena ini dikenal dengan istilah hikikomori. 

Apa itu hikikomori?

Hikikomori adalah sebuah fenomena sosial yang terjadi di Jepang, di mana sebagian besar masyarakat dengan kategori usia remaja dan dewasa muda hampir tidak melakukan kontak sosial sama sekali, kecuali dengan anggota keluarga mereka.Fenomena ini ditandai dengan tindakan isolasi ekstrem pelakunya dari lingkungan sosial. Ada sejumlah faktor yang dianggap menjadi penyebab munculnya fenomena ini, antara lain globalisasi, penggunaan media sosial, dan perkembangan teknologi. Hikikomori pada awalnya terjadi di Jepang pada akhir tahun 90-an. Studi terbaru menyebutkan, fenomena ini sudah menyebar ke negara lain seperti Korea Selatan, Hong Kong, Italia, Oman, Maroko, Amerika Serikat, India, Finlandia, hingga Prancis.

Benarkah hikikomori merupakan gangguan kesehatan mental?

Selama ini, banyak orang yang menghubungkan hikikomori dengan gangguan kesehatan mental. Faktanya, penarikan diri yang dilakukan pelakunya seringkali tak selalu berkaitan dengan adanya gangguan kesehatan mental dalam diri mereka.Menurut sebuah studi, disebutkan bahwa hikikomori bisa saja dipicu oleh gangguan kejiwaan. Namun, fenomena ini juga dapat muncul sebagai bentuk dari sindrom terikat budaya (culture-bound syndrome).

Dampak buruk hikikomori terhadap kesehatan mental

Hikikomori bisa saja muncul tanpa ada kaitannya dengan gangguan kesehatan mental. Meski begitu, bukan tidak mungkin fenomena ini dapat memberikan pengaruh buruk bagi kesehatan mental pelakunya.Dampak buruk isolasi ekstrem, layaknya hikikomori, terhadap kesehatan mental yaitu memicu kemunculan kondisi-kondisi seperti:Tak hanya memengaruhi kesehatan mental, sejumlah penelitian juga menghubungkan kesepian serta isolasi dengan penyakit jantung. Selain itu, kedua kondisi tersebut diketahui turut meningkatkan risiko mengalami obesitas dan kanker payudara.

Bagaimana cara mengatasi hikikomori?

Hikikomori dapat memberi pengaruh buruk terhadap kesehatan jika berlangsung dalam waktu lama dan tidak mendapatkan penanganan. Beberapa tindakan yang bisa dilakukan untuk membantu mengatasi kondisi ini, meliputi:
  • Dukungan keluarga

Pelaku hikikomori lebih senang menyendiri dan mengurung diri mereka di dalam rumah. Oleh sebab itu, dukungan keluarga sangat diperlukan untuk membantu para pelakunya keluar dari fenomena ini.Jika anggota keluarga Anda menunjukkan tanda-tanda penarikan diri dari lingkungan sosial, beri bantuan dengan cara dengarkan keluh kesah mereka tanpa menghakimi. Dari situ, Anda dapat tahu apa yang menjadi penyebab mereka mengisolasi diri. Saat sudah mulai terbuka, beri dorongan secara perlahan agar mereka mau berkonsultasi dengan ahli.
  • Berkonsultasi dengan ahli

Berkonsultasi dengan ahli bertujuan untuk mencari tahu penyebab pelaku melakukan hikikomori. Usai mengetahui kondisi apa yang mendasarinya, psikolog atau psikiater mungkin akan memberi terapi untuk membantu menghilangkan perilaku isolasi diri.

Catatan dari SehatQ

Hikikomori adalah fenomena di mana pelakunya memilih untuk melakukan isolasi dan menarik diri dari lingkungan sosial. Kondisi ini bisa saja dipicu oleh gangguan kesehatan mental, namun juga dapat muncul sebagai bentuk dari culture-bound syndrome.Jika tak segera mendapat penanganan, fenomena ini dapat memberi pengaruh buruk terhadap kesehatan fisik dan mental. Hikikomori dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, obesitas, kanker payudara, depresi, demensia, skizofrenia, hingga keinginan untuk bunuh diri.Untuk berdiskusi lebih lanjut mengenai kondisi ini dan cara mengatasinya, tanyakan langsung ke dokter di aplikasi kesehatan SehatQ. Download sekarang di App Store dan Google Play.
depresikesehatan mentaldemensiagangguan kecemasan
ZME Science. https://www.zmescience.com/science/hikikomori-loneliness/
Diakses pada 17 Mei 2021
Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/isolation-and-mental-health
Diakses pada 17 Mei 2021
Firstpost. https://www.firstpost.com/health/hikikomori-how-to-identify-and-deal-with-the-symptoms-of-extreme-social-withdrawal-7932661.html
Diakses pada 17 Mei 2021
NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4912003/
Diakses pada 17 Mei 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait