Dampak Buruk Stonewalling, Bungkam untuk Menghindari Konflik dengan Pasangan


Stonewalling dilakukan dengan mendiamkan atau menolak berkomunikasi dengan pasangan secara sengaja ketika bertengkar. Langkah ini dilakukan untuk menghindari amarah atau justru menenangkan diri.

(0)
Stonewalling dilakukan untuk menghindari amarah atau menenangkan diri saat bertengkarStonewalling dilakukan dengan mendiamkan pasangan ketika bertengkar
Dalam sebuah hubungan, pertikaian antar pasangan merupakan hal yang biasa. Ketika tengah bertengkar, setiap pasangan umumnya mempunyai cara masing-masing untuk menyelesaikan masalah. Meski begitu, tidak jarang juga pasangan memilih saling diam satu sama lain, menunggu hingga situasi mereda atau ada yang mengalah. Metode mendiamkan pasangan dengan sengaja pada saat bertengkar ini dikenal dengan istilah stonewalling.

Apa itu stonewalling?

Stonewalling adalah kondisi yang terjadi ketika pasangan menolak berkomunikasi atau sengaja mendiamkan Anda saat bertengkar. Hal ini biasanya dilakukan untuk menghindari amarah atau sekadar menenangkan diri.Bagi orang yang kurang peka, mereka mungkin tak sadar saat pasangannya tengah melakukan stonewalling. Beberapa tanda yang bisa dilihat, antara lain:
  • Pasangan mengabaikan Anda saat berbicara
  • Pasangan memutar mata saat diajak berbicara
  • Pasangan menolak untuk melakukan kontak mata dengan Anda
  • Pasangan tidak mendengarkan dan mengabaikan kekhawatiran Anda
  • Pasangan tiba-tiba mencari kesibukan lain saat Anda hendak membicarakan sesuatu yang serius
  • Pasangan menolak untuk berbicara, jika bicara biasanya untuk membela diri atau menyalahkan Anda
Sering dipakai meredam konflik, stonewalling  sayangnya kurang efektif untuk menyelesaikan masalah. Bagi salah satu pihak, metode ini bisa terasa sangat menyakitkan, bahkan membuat frustrasi. Selain itu, cara ini juga dapat mengurangi kemampuan pasangan untuk menyelesaikan masalah dan berinteraksi secara intim.

Penyebab pasangan memilih untuk melakukan stonewalling

Stonewalling dilakukan untuk menghindari konflik dengan pasangan
Untuk menghindari perdebatan dengan pasangan, banyak orang memilih melakukan stonewalling
Bagi beberapa orang, perilaku stonewalling mungkin muncul dari ketakutan, kecemasan, atau frustrasi yang mereka rasakan. Beberapa faktor yang dapat menjadi pemicunya, antara lain:
  • Menghindari konflik yang dapat menguras emosi
  • Keinginan untuk mengurangi ketegangan dalam situasi emosional
  • Ketakutan akan reaksi pasangan
  • Keyakinan bahwa pasangannya tidak memiliki keinginan untuk menyelesaikan masalah
  • Cara memanipulasi siituasi untuk mendapatkan apa yang diinginkan
  • Cara memancing konflik yang lebih besar untuk mengakhiri hubungan

Dampak stonewalling terhadap hubungan dengan pasangan

Entah apa yang menjadi pemicunya, bungkam ketika menghadapi konflik berpotensi membuat hubungan Anda dan pasangan hancur. Selain memberikan dampak buruk terhadap hubungan, stonewalling juga dapat memicu sejumlah gejala kesehatan.Menurut sebuah studi di tahun 2016, pasangan yang melakukan stonewalling dikaitkan dengan kemunculan gejala kesehatan seperti sakit punggung, leher kaku, hingga nyeri otot. Sementara itu, korban dari pasangan yang bungkam mengalami gejala peningkatan tekanan darah, pusing, dan detak jantung cepat. 

Bagaimana cara menghilangkan kebiasaan stonewalling?

Komunikasi adalah salah satu hal yang paling penting dalam hubungan. Menerapkan perilaku stonewalling tidak akan menyelesaikan masalah, dan malah berpotensi memicu konflik yang lebih besar. Untuk menghilangkan kebiasaan ini, Anda bisa mengikuti terapi konseling bersama dengan pasangan. Metode ini dapat membantu Anda dan pasangan untuk mencari tahu perilaku yang menjadi pemicu stonewalling.Setelah berhasil diidentifikasi, Anda dan pasangan akan diajarkan pendekatan komunikasi untuk menyelesaikan konflik. Sejumlah strategi yang dapat diterapkan untuk menyelesaikan masalah, di antaranya:
  • Menerima umpan balik yang diberikan pasangan dengan baik
  • Mengakui persepsi atau tindakan salah yang dilakukan
  • Saling sepakat untuk menunda percakapan pada topik yang dapat memicu perdebatan hingga situasi lebih kondusif
  • Menggunakan kata-kata yang netral, bukan dengan nada tuduhan
  • Berbicara pada tempat di mana salah satu pasangan tidak merasa terpojokkan
  • Menetapkan waktu maksimal untuk bungkam sebelum kemudian kembali memulai percakapan
Menghilangkan kebiasaan stonewalling memang membutuhkan waktu. Namun, perilaku ini secara perlahan akan hilang dengan sendirinya jika Anda dan pasangan menerapkan cara-cara di atas. 

Catatan dari SehatQ

Stonewalling merupakan salah satu cara yang sering diterapkan ketika pasangan terlibat dalam masalah. Berbagai macam alasan menjadi penyebab seseorang menerapkan metode ini, mulai dari menghindari konflik, rasa takut akan reaksi pasangan, hingga pancingan untuk mengakhiri hubungan.Apabila diterapkan secara terus-menerus, perilaku ini dapat merusak hubungan Anda dengan pasangan. Selain itu, bungkam ketika ada masalah juga bisa memicu gejala kesehatan seperti nyeri otot, sakit punggung, hingga tekanan darah tinggi.Untuk berdiskusi lebih lanjut terkait stonewalling dan cara untuk menghilangkan kebiasaan ini, tanyakan langsung ke dokter di aplikasi kesehatan SehatQ . Download sekarang di App Store dan Google Play.
percintaanmenjalin hubunganmempertahankan pernikahan
Very Well Mind. https://www.healthline.com/health/stonewalling
Diakses pada 2 April 2021
Very Well Mind. https://www.verywellmind.com/coping-when-your-spouse-shuts-down-4097175
Diakses pada 2 April 2021
Better Help. https://www.betterhelp.com/advice/relations/is-stonewalling-a-form-of-abuse/
Diakses pada 2 April 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait