Claustrophobia Adalah Takut Ruang Sempit, Kenali Tanda-tandanya

Penderita claustrophobia bisa ketakutan ketika berada di dalam lift
Takut berada di dalam lift merupakan salah satu bentuk claustrophobia

Apakah Anda merasa takut ketika berada di dalam lift, kamar yang tak berjendela, atau bahkan pesawat terbang? Jika iya, bisa jadi Anda memiliki claustrophobia. Kondisi ini merupakan salah satu fobia yang paling umum terjadi di dunia sehingga penting bagi Anda untuk memahaminya.

Apa itu claustrophobia?

Istilah claustrophobia berasal dari kata claustrum (Latin) yang berarti tempat tertutup dan phobos (Yunani) yang berarti takut. Berdasarkan dari asal-usul katanya, claustrophobia adalah ketakutan tak beralasan dan intens terhadap ruang yang tertutup atau sempit. 

Orang dengan claustrophobia akan berusaha menghindari ruangan yang kecil atau situasi yang bisa memicu kepanikan dirinya. Definisi ruangan kecil pun dapat bervariasi, tergantung pada tingkat keparahan fobianya. 

Umumnya, orang dengan fobia ini akan menghindari naik pesawat, kereta, atau lift. Selain itu, penderita claustrophobia akan bergegas mencari jalan keluar setiap memasuki ruangan yang penuh, merasa takut pintu akan tertutup ketika berada di dalam ruangan, dan berada dekat pintu keluar saat berada di tempat yang ramai.

Berbagai situasi dapat memicu claustrophobia, seperti berada di lift yang penuh, berada di ruangan kecil tak berjendela, naik pesawat terbang atau mobil kecil, menjalani MRI atau CT scan, berada di ruangan besar yang penuh atau sesak, melewati terowongan, berada di toilet umum, dan semacamnya.

Penyebab claustrophobia

Pada umumnya, claustrophobia terjadi selama masa kanak-kanak atau remaja. Sayangnya, belum diketahui secara pasti apa yang menyebabkan fobia ini. Namun, faktor lingkungan dipercaya memiliki peran yang besar. 

Selain itu, fobia ini juga dikaitkan dengan disfungsi amigdala, yang merupakan bagian otak yang mengontrol rasa takut. Di samping itu, fobia ini juga dapat disebabkan oleh peristiwa traumatis sebagai berikut:

  • Pernah terjebak dalam ruang yang sempit untuk waktu yang lama
  • Mengalami turbulensi saat naik pesawat
  • Pernah dihukum di ruangan kecil, seperti kamar mandi
  • Ditinggalkan di ruang yang sempit, misalnya lemari
  • Terpisah dari orangtua ketika berada di tempat yang ramai.

Anda juga lebih mungkin mengalami claustrophobia jika orangtua atau anggota keluarga Anda yang lain memilikinya. Dengan kata lain, ketika seorang anak melihat dan mengamati orang terdekatnya takut terhadap ruang kecil yang tertutup, maka ia juga akan merasakan ketakutan yang sama.

Gejala claustrophobia

Ketika berada dalam situasi yang memicunya, gejala claustrophobia yang muncul bisa saja ringan atau bahkan berat. Anda juga dapat merasa seperti terkena serangan panik. Beberapa gejala yang dapat terjadi, antara lain:

  • Berkeringat
  • Gemetaran
  • Sangat takut atau panik
  • Cemas
  • Sesak napas
  • Hiperventilasi
  • Detak jantung cepat dan tekanan darah tinggi
  • Hot flashes
  • Mulut kering
  • Mati rasa 
  • Tersedak
  • Sesak atau nyeri dada
  • Mual
  • Pusing atau pingsan
  • Kebingungan.

Claustrophobia juga mencakup rasa takut akan terkurung atau terjebaknya diri pada satu area tertentu sehingga mengantri di kasir juga dapat menyebabkan munculnya gejala pada beberapa orang. Jika Anda merasa mengalami fobia ini dan mengganggu keseharian, sebaiknya segera cari bantuan dari psikolog atau psikiater.

Cara mengatasi claustrophobia

Setelah Anda didiagnosis mengalami claustrophobia, psikolog akan merekomendasikan satu atau beberapa opsi perawatan untuk mengatasi fobia ini. Beberapa perawatan yang mungkin dilakukan adalah sebagai berikut:

  • Terapi perilaku kognitif untuk melatih kembali pikiran Anda sehingga tak merasa terancam lagi oleh ruang atau tempat yang Anda takuti. Terapi ini dilakukan dengan memasukkan Anda ke ruangan kecil secara bertahap dan meyakinkan bahwa Anda mampu mengatasi ketakutan atau kecemasan yang terjadi. 
  • Terapi obat antidepresan dan obat penenang dapat membantu mengendalikan gejala claustrophobia yang terjadi.
  • Melakukan latihan pernapasan dalam, bermeditasi, dan latihan relaksasi otot dapat membantu mengatasi pikiran negatif dan kecemasan yang Anda rasakan.
  • Beberapa suplemen dan produk alami juga dapat membantu Anda mengatasi kepanikan dan kecemasan. Selain itu, Anda bisa menggunakan minyak esensial yang dapat memberi efek menenangkan seperti minyak lavender. Namun, ini hanya bentuk pengobatan alternatif.

Umumnya, pengobatan tersebut dilakukan dua sesi dalam seminggu yang berlangsung selama kira-kira 10 minggu atau bisa lebih. Jika pengobatan dilakukan dengan tepat, maka Anda akan terbebas dari claustrophobia yang sangat mengganggu.

Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/37062#treatment
Diakses pada 16 Maret 2020
Healthline. https://www.healthline.com/health/claustrophobia#treatment
Diakses pada 16 Maret 2020

Artikel Terkait