Bagaimana Cara Membedakan Penyakit Klamidia dengan Gonorea?

Klamidia dan gonorea ditandai dengan nyeri pada perut bagian bawah
Baik klamidia maupun gonorea sama-sama menyerang kelamin

Infeksi klamidia merupakan infeksi menular seksual yang paling umum dialami. Penyakit ini sering tidak disadari karena tidak bergejala. Ciri-ciri penyakit klamidia mirip dengan infeksi menular seksual lainnya, seperti gonorea, sehingga membuat keduanya menjadi sulit dibedakan.

Kedua penyakit ini disebabkan oleh infeksi bakteri. Klamidia disebabkan oleh bakteri Chlamydia trachomatis, sedangkan gonorea disebabkan oleh bakteri Neisseria gonorrhoeae. Keduanya ditularkan melakui hubungan seksual yang tidak terproteksi, baik secara vaginal, anal, maupun oral.

Perbedaan Ciri-ciri Penyakit Klamidia dengan Gonorea

Ciri-ciri penyakit klamidia yang dapat diidentifikasi, antara lain:

  • Nyeri saat buang air kecil
  • Nyeri perut bagian bawah
  • Cairan abnormal dari penis/vagina
  • Cairan abnormal dari rektum
  • Nyeri rektum
  • Keluar darah dari rektum
  • Nyeri saat berhubungan seksual pada wanita
  • Nyeri dan bengkak pada testis
  • Nyeri saat melakukan ejakulasi

Ciri-ciri di atas juga dapat ditemukan pada penyakit gonorea. Perbedaan ciri-ciri penyakit klamidia dan gonorea terletak pada kemunculan gejalanya. Gejala penyakit klamidia tidak langsung terjadi setelah terinfeksi. Gejala baru akan muncul dalam rentang 1 sampai 3 hari. Sementara itu, gejala gonorea akan lebih cepat muncul. Pria memiliki gejala yang lebih berat daripada wanita apabila terinfeksi penyakit ini.

Membedakan penyakit klamidia dan gonorea dapat dilakukan pemeriksaan sederhana, yaitu tes amine. Tes ini dilakukan dengan meneteskan KOH pada sekret yang keluar. Jika hasil tes mengeluarkan bau tidak sedap, maka membuktikan adanya infeksi klamidia. Akan tetapi, pemeriksaan ini memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang rendah untuk memastikan klamidia.

Untuk memastikan adanya infeksi klamidia, dokter akan melakukan pemeriksaan tambahan setelah menemukan ciri-ciri penyakit klamidia pada Anda. Salah satunya dengan pemeriksaan urine. Pemeriksaan urine bertujuan untuk melihat adanya infeksi. Selain itu, urine juga dapat dites dalam uji pertumbuhan bakteri untuk mengetahui pasti bakteri yang menginfeksi tubuh Anda. Sedangkan, untuk mencari adanya tanda infeksi bakteri, pemeriksaan darah dapat dilakukan.

Pemeriksaan yang paling akurat untuk memastikan ciri-ciri penyakit klamidia adalah dengan melakukan tes amplifikasi asam nukleat atau Nucleic Acid Amplification Test (NAATs). Tes ini dapat dilakukan dengan mengambil sampel dari uretra, leher rahim, rektum, faring, atau urine.

Skrining Infeksi Klamidia

Seseorang yang terinfeksi seringkali tidak menunjukkan ciri-ciri penyakit klamidia. Oleh karena itu, dianjurkan untuk dilakukan skrining pada pria maupun wanita yang berisiko tinggi untuk terinfeksi penyakit menular seksual.

Seseorang dapat digolongkan ke dalam kelompok berisiko tinggi apabila mereka memiliki pasangan seksual lebih dari satu, sering berganti pasangan, tidak menggunakan kondom saat berhubungan, dan melakukan hubungan seksual sesama jenis.

Kelompok wanita berusia 25 tahun ke bawah yang aktif berhubungan seksual merupakan kelompok yang paling berisiko mengalami penularan infeksi klamidia. Kelompok ini dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan setiap tahun. Skrining juga dianjurkan pada ibu hamil. Prosedur ini bisa dilakukan pada pemeriksaan kehamilan awal. Hal ini bertujuan mencegah terjadinya infeksi dari ibu ke bayi saat melahirkan.

Pengobatan Klamidia dan Gonorea

Setelah mengidentifikasi ciri-ciri penyakit klamidia dan menerima hasil pemeriksaan, dokter dapat memberikan antibiotik yang sesuai untuk mengobati infeksi. Bakteri penyebab klamidia dapat diatasi dengan pemberian azitromisin atau doksisiklin. Dokter akan menyesuaikan dengan obat yang paling sensitif. Gejala akan segera membaik setelah Anda meminum antibiotik.

Sangat penting untuk mengikuti dosis yang dianjurkan oleh dokter dan menyelesaikan pengobatan sampai tuntas. Konsumsi yang tidak tuntas dapat menyebabkan bakteri menjadi resisten terhadap obat yang Anda konsumsi.

Hindari melakukan hubungan seksual sampai infeksi benar-benar tuntas. Hal ini membutuhkan waktu sekitar 2 minggu. Sebelum Anda melakukan pengobatan hingga tuntas, Anda tetap berisiko dapat menularkan bakteri dalam tubuh Anda ke orang lain.

Selain ciri-ciri penyakit yang serupa, pengobatan pada gonorea juga menggunakan obat-obatan yang sama seperti klamidia, yaitu antibiotik. Pengobatan dapat dilakukan dengan penggunaan antibiotik ganda, yaitu menggunakan injeksi ceftriakson dan meminum azitromisin.

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/chlamydia/symptoms-causes/syc-20355349
Diakses pada Mei 2019

American Family Physician. https://www.aafp.org/afp/2012/1215/p1127.html
Diakses pada Mei 2019

Healthline. https://www.healthline.com/health/sexually-transmitted-diseases/chlamydia-vs-gonorrhea
Diakses pada Mei 2019

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Banner Telemed