Ciri-Ciri Penyakit Difteri yang Penting untuk Anda Ketahui

Ciri-ciri penyakit difteri bisa mirip dengan flu
Sakit tenggorokan dapat menjadi salah satu ciri-ciri penyakit difteri

Difteri adalah infeksi bakteri serius yang menyerang selaput lendir tenggorokan dan hidung. Kondisi ini umumnya terjadi pada anak-anak, namun dapat pula terjadi pada siapa saja. 

Difteri memiliki ciri-ciri yang mirip dengan flu biasa sehingga sering dianggap enteng dan tidak segera ditangani. Oleh sebab itu, penting untuk mengetahui ciri-ciri penyakit difteri berikut ini.

Penyebab difteri ternyata bakteri

Difteri disebabkan oleh suatu jenis bakteri, yaitu Corynebacterium diphtheriae. Kondisi ini dapat menyebar melalui kontak dari orang ke orang, atau kontak dengan benda-benda yang mengandung bakteri tersebut. Anda juga dapat terkena bakteri ini jika berada di sekitar orang yang terinfeksi ketika mereka sedang bersin, batuk, atau mengeluarkan ingusnya.

Anak-anak di bawah usia 5 tahun dan lansia di atas 60 tahun merupakan kelompok usia yang berisiko terkena difteri. Anda juga lebih berisiko terkena difteri jika tidak melakukan vaksin difteri, memiliki kelainan pada sistem kekebalan tubuh, dan hidup dalam lingkungan yang tak sehat atau kumuh.

Setelah terinfeksi, bakteri akan melepaskan zat berbahaya yang disebut toksin atau racun. Racun pun menyebar melalui aliran darah dan menyebabkan timbulnya lapisan abu-abu tebal yang dapat terbentuk di hidung, tenggorokan, lidah, atau jalan napas. 

Dalam beberapa kasus, racun ini juga bisa merusak organ lain seperti jantung, otak, dan ginjal sehingga dapat menyebabkan komplikasi yang mengancam jiwa. Secara keseluruhan, 5-10% orang yang terinfeksi difteri berujung pada kematian. Sementara, pada orang yang terinfeksi di bawah usia 5 tahun atau di atas 40 tahun tingkat kematiannya mencapai hingga 20%. 

Ciri-ciri penyakit difteri

Ciri-ciri penyakit difteri tergantung pada bakteri penyebab dan area tubuh yang terjangkit. Umumnya, ciri-ciri difteri muncul 2-5 hari setelah seseorang terinfeksi. Sebagian orang bisa saja tidak menunjukkan ciri-ciri apa pun, sementara yang lain dapat mengalami gejala ringan yang mirip dengan flu

Adanya lapisan abu-abu tebal di tenggorokan atau amandel menjadi ciri difteri yang khas. Lapisan tersebut juga bisa berubah warna menjadi kehijauan, kebiruan, atau bahkan hitam jika telah terjadi pendarahan. Selain itu, lapisan tersebut dapat memanjang ke sistem pernapasan menuju paru-paru. 

Ciri-ciri difteri lainnya yang mungkin terjadi, yaitu:

  • Demam
  • Pembengkakan kelenjar di leher
  • Batuk yang keras
  • Sakit tenggorokan
  • Kulit kebiruan
  • Berliur
  • Keluarnya cairan di hidung
  • Mual dan muntah
  • Sakit kepala
  • Perasaan tak nyaman
  • Sulit bernapas atau menelan
  • Perubahan penglihatan
  • Berbicara cadel
  • Menunjukkan tanda-tanda syok, seperti pucat, dingin, berkeringat, dan detak jantung cepat.

Selain pada tenggorokan, difteri juga bisa terjadi pada kulit. Ciri-ciri difteri kulit adalah timbulnya bisul di kulit dan kemerahan pada area kulit yang terkena. 

Tidak semua gejala di atas dapat Anda rasakan, bisa jadi hanya sebagian saja. Satu hal lain yang perlu Anda ingat adalah meski orang yang menderita difteri terkadang tidak menunjukkan gejala apa pun, namun mereka masih bisa menularkan infeksi tersebut hingga 6 minggu setelah terjadinya infeksi awal. 

Komplikasi penyakit difteri

Jika penyakit ini tak segera mendapat perawatan yang tepat, maka semakin besar peluang terjadinya komplikasi. Beberapa komplikasi penyakit difteri yang mungkin terjadi, yaitu:

  • Miokarditis 

Miokarditis adalah peradangan otot jantung. Kondisi ini dapat menyebabkan terjadinya berbagai masalah jantung. Semakin besar tingkat infeksi bakteri difteri, maka semakin tinggi pula toksisitas terhadap jantung. Masalah jantung biasanya muncul 10-14 hari setelah dimulainya infeksi, namun bisa juga lebih dari itu. Masalah jantung yang terkait dengan difteri, meliputi:

  • Perubahan yang terlihat pada monitor elektrokardiografi (EKG).
  • Bilik jantung berhenti berdetak bersama (disosiasi atrioventrikular).
  • Blok jantung komplet, di mana terjadi gangguan pada aliran listrik yang menggerakan jantung.
  • Aritmia ventrikel yang merupakan gangguan irama jantung.
  • Gagal jantung, di mana jantung tak dapat mempertahankan tekanan darah dan sirkulasi yang cukup.

Jika toksin difteri telah memengaruhi jantung, maka Anda harus waspada karena kondisi ini bisa mengancam nyawa.

  • Neuritis

Neuritis adalah radang jaringan saraf yang dapat mengakibatkan kerusakan saraf. Komplikasi ini jarang terjadi dan biasanya muncul setelah infeksi pernapasan yang parah pada penderita difteri. Umumnya, kondisi ini dapat berkembang sebagai berikut:

  • Pada minggu ke-3, terjadi kelumpuhan langit-langit lunak yang terletak di bagian belakang atap mulut.
  • Pada minggu ke-5, terjadi kelumpuhan otot mata, tungkai, dan diafragma.
  • Pneumonia dan gagal napas juga dapat terjadi karena lumpuhnya diafragma.

Oleh sebab itu, ketika Anda mencurigai diri Anda terkena difteri, segera periksakan diri pada dokter untuk mengetahui penyebab pasti dan cara mengatasinya.

Pengobatan penyakit difteri

Perawatan medis dengan segera sangat diperlukan ketika Anda didiagnosis terkena difteri. Langkah pertama pengobatan adalah dengan injeksi toksin. Obat ini digunakan untuk menetralisir racun yang diproduksi oleh bakteri. 

Jika Anda curiga memiliki alergi terhadap antitoksin, pastikan Anda memberitahu dokter. Dokter mungkin hanya akan memberi Anda antitoksin dengan dosis kecil dan secara bertahap menaikkan jumlahnya. 

Tak hanya antitoksin, dokter juga akan meresepkan antibiotik, seperti erythromycin atau penicillin, untuk membantu menghilangkan infeksi. Selama perawatan, dokter akan menyarankan Anda untuk dirawat di rumah sakit untuk mencegah penularan kepada orang lain. Pengobatan akan sangat efektif jika diberikan sesegera mungkin sehingga pemeriksaan dini sangatlah diperlukan. 

Healthline. https://www.healthline.com/health/diphtheria#diagnosis
Diakses pada 31 Januari 2020
Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/159534.php#diagnosis
Diakses pada 31 Januari 2020

Artikel Terkait