Inilah 5 Ciri-Ciri Bayi Buta yang Bisa Segera Dikenali Orangtua

(0)
Ciri ciri bayi buta bisa langsung dilihat dari bola mata bayiPerhatikan ciri-ciri bayi buta yang terlihat pada bola mata bayi
Ciri ciri bayi buta perlu diketahui segera agar Anda bisa segera mendapatkan pertolongan untuk buah hati. Pertolongan medis bisa membantu memperbaiki penglihatan si kecil di masa mendatang.Di Indonesia, kasus kebutaan pada anak cukup banyak. Menurut Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan (Pusdatin Kemenkes), jumlah anak penyandang kebutaan mencapai 5.921 jiwa. Sementara dalam skala global, World Health Organization (WHO) memperkirakan jumlah anak penyandang kebutaan mencapai 1,4 juta jiwa. Itu kenapa WHO bersama International Agency for the Prevention of Blindness (IAPB) mencanangkan visi memberantas kebutaan pada anak sejak tahun 2020. Penyebab bayi buta kemungkinan bisa berasal dari penyakit bawaan, kelainan genetik, hingga kekurangan nutrisi tertentu. Oleh karena itu, penting bagi setiap orangtua mengenali ciri-ciri kebutaan pada bayi sedini mungkin.

Ciri ciri bayi buta

Guna mendeteksi gangguan penglihatan pada bayi sedari dini, ada ciri-ciri bayi buta yang bisa diperhatikan. Beberapa tandanya bahkan bisa dilihat secara kasat mata.Tanda-tanda bayi mengalami kebutaan bisa dilihat dari refleks, perilakunya, hingga mengamati bola matanya secara langsung. Berikut inilah ciri-ciri bayi buta yang bisa Anda perhatikan pada buah hati Anda:

1. Terlalu sering menggosok mata

Menggosok mata adalah tanda oculodigital syndrome
Menurut penelitian yang terbit pada jurnal Middle East African Journal of Ophthalmology, ciri-ciri bayi buta yang bisa diperhatikan dari perilakunya adalah terlalu sering menggosok atau bahkan menekan mata.Riset tersebut memaparkan, menggosok-gosok mata umumnya menjadi ciri dari oculodigital syndrome. Sindrom tersebut kerap ditemui pada anak dengan kondisi gangguan mata bawaan bernama Leber’s congenital amaurosis.Gangguan ini adalah gangguan penglihatan yang diakibatkan adanya kelainan bawaan yang berupa kelainan bentuk pada retina mata (distrofi retina). Riset pada jurnal National Center of Biotechnology Information memaparkan jika retina mengalami gangguan bawaan, hal ini mengakibatkan kebutaan pada anak bahkan sejak usia satu tahun.Retina merupakan lapisan pada mata yang berguna untuk menangkap cahaya yang masuk ke mata. Cahaya tersebut kemudian dikirim ke otak melalui saraf untuk memunculkan gambar visual.

2. Pergerakan bola mata tidak teratur

Ciri-ciri kebutaan dilihat dari gerakan bola mata yang tidak teratur
Gerakan bola mata yang acak atau tidak teratur alias nystagmus adalah satu dari sekian banyak ciri-ciri bayi buta.Gejala nystagmus kerap dijumpai pada bayi. Bahkan, nystagmus merupakan salah satu tanda kebutaan yang diakibatkan beragam jenis, seperti optic nerve hypoplasia dan Leber’s optic nerve.Berdasarkan temuan yang terbit pada Journal of Academy of Medical Sciences of Bosnia and Herzegovina, gerakan bola mata yang tidak beraturan juga ditemukan pada penderita retinitis pigmentosa.Menurut National Eye Institution, retinitis pigmentosa dapat diartikan sebagai kelainan genetik yang menyebabkan kerusakan dan kehilangan sel retina. Hal ini menyebabkan bayi kehilangan penglihatan pada malam hari dan kehilangan sebagian penglihatan. Efek jangka panjangnya pun menyebabkan kebutaan.

3. Mata juling

Mata juling kerap ditemukan pada bayi prematur
Biasanya, ciri-ciri bayi buta yang mudah terlihat kasat mata adalah mata juling. Riset yang diterbitkan pada Middle East African Journal of Ophthalmology menunjukkan, juling merupakan salah satu tanda kebutaan yang diakibatkan retinopathy of prematurity.Riset ini juga memaparkan, retinopathy of prematurity adalah penyebab 60% kasus kebutaan di negara berkembang.Retinopathy of prematurity biasanya muncul pada bayi yang lahir prematur. Penelitian yang terbit pada The Journal of Clinical Investigation menunjukkan, kelainan mata ini membuat pertumbuhan pembuluh mata pada retina tidak normal dan menyebabkan retina terlepas.

4. Mata terlihat keruh

Mata keruh pada anak disebabkan katarak
Mata keruh sebagai ciri ciri bayi buta juga bisa menandakan adanya katarak pada bayi. Sebenarnya, WHO menyatakan, katarak pada bayi diidentifikasikan sebagai penyebab kebutaan yang bisa dihindari.Sayangnya, menurut temuan yang terbit pada jurnal The Scientific Journal of The Royal College of Ophthalmologists menunjukkan, katarak pada bayi merupakan penyumbang lima hingga dua puluh persen kebutaan bayi di dunia.Katarak adalah gangguan mata yang diakibatkan adanya lapisan buram yang merupakan salah satu ciri ciri bayi buta, menghalangi lensa mata. Akibatnya, pandangan pun tidak jernih dan ketajaman penglihatan menurun.Selain itu, mata keruh pun juga diakibatkan keratomalacia. Dalam hal ini, bayi kekurangan vitamin A.Riset yang terbit pada jurnal Community Eye Health Journal memaparkan, sebelum terjadi keratomalacia, bola mata pun mengalami kekeringan (xerophthalmia).Keratomalacia menyebabkan bola mata keruh akibat adanya penumpukan cairan mata yang mengental dan lalu mengalir pada mata. Hal ini dikarenakan adanya kematian jaringan pada kornea. Hal ini mampu menyebabkan kebutaan pada bayi.

5. Tidak merespon cahaya yang cukup terang

Bayi buta tidak merespon cahaya yang silau
Salah satu ciri ciri bayi buta bisa dilihat dari refleksnya saat melihat cahaya yang cukup menyilaukan. Hal ini pun disampaikan pada riset yang dipaparkan pada jurnal Community Eye Health Journal.Dalam riset ini, jika bayi usia delapan minggu tidak menunjukkan respon sama sekali terhadap cahaya, seperti cahaya dari jendela terbuka, mata bayi harus diteliti lebih lanjut untuk mengetahui adanya kecenderungan kebutaan.Tidak hanya di atas. Ciri-ciri bayi buta pun bisa dilihat pada reaksi mata bayi saat melihat benda ataupun orang di dekatnya. Community Eye Health Journal merangkumnya ke beberapa poin berikut:
  • Tidak berkedip saat cahaya tepat di atas mata bayi.
  • Tidak mampu fokus menatap wajah pada usia 3 bulan ke atas.
  • Tidak merespon saat orang lain tersenyum pada usia 3 bulan ke atas.
  • Tidak bisa fokus dan mengikuti gerakan benda atau orang pada usia 4 bulan ke atas.
  • Tidak berkedip saat ancaman mendekati bayi pada usia 5 bulan ke atas.
  

Catatan dari SehatQ

Ciri bayi buta bisa dilihat dari penampilan mata hingga respon bayi saat ada cahaya atau benda mendekatinya. Mengetahui ciri-ciri bayi buta sejak dini mampu menolong mereka di masa yang mendatang. Sebab, bukan tidak mungkin jika kebutaan tersebut masih bisa cepat teratasi sehingga penglihatan mereka bisa lebih membaik ketika dewasa. Memang, tidak semua penyebab kebutaan bisa dicegah. Ada jenis kelainan mata bawaan bernama optic nerve hypoplasia dan membuat bayi buta sejak lahir. Menurut riset terbitan Oman Journal of Ophthalmology, kebutaan akibat optic nerve hypoplasia disebabkan oleh saraf optik yang menipis dan mengalami keterbelakangan.Jika buah hati Anda memiliki ciri-ciri kebutaan seperti di atas, jangan panik. Anda bisa konsultasi lebih dulu kepada dokter melalui chat di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ.Download aplikasinya sekarang di Google Play dan Apple Store.
xeroftalmiamata julingbayi prematur
Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. https://www.kemkes.go.id/resources/download/pusdatin/buletin/buletin-disabilitas.pdf (Diakses pada 25 September 2020)World Health Organization. https://www.who.int/blindness/Vision2020_report.pdf (Diakses pada 25 September 2020)National Organization for Rare Disorders. https://rarediseases.org/rare-diseases/optic-nerve-hypoplasia/ (Diakses pada 25 September 2020)Oman Journal of Ophthalmology. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3779419/ (Diakses pada 25 September 2020)Middle East African Journal of Ophthalmology. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3119278/ (Diakses pada 25 September 2020)American Academy of Ophthalmology.https://eyewiki.aao.org/Leber_Congenital_Amaurosis (Diakses pada 25 September 2020)National Eye Institution. https://www.nei.nih.gov/learn-about-eye-health/eye-conditions-and-diseases/retinitis-pigmentosa (Diakses pada 25 September 2020)The Journal of Clinical Investigation. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2929716/. (Diakses pada 25 September 2020)The Scientific Journal of The Royal College of Ophthalmologists. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5023808/ (Diakses pada 25 September 2020)Community Eye Health Journal. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3936686/ (Diakses pada 25 September 2020)Community Eye Health Journal. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4995840/ (Diakses pada 25 September 2020)Community Eye Health Journal. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4995840/table/T1/?report=objectonly (Diakses pada 25 September 2020)
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait