Cermati Penyebab Rambut Rontok agar Tak Berakhir pada Kebotakan

Penyebab rambut rontok bermacam-macam dari pengaruh hormon hingga keturunan
Anda dikatakan mengalami rambut rontok bila rambut yang gugur lebih dari 100 helai per hari

Rambut rontok bisa terjadi setiap hari, sehingga kerap dianggap sepele sampai akhirnya mengakibatkan kebotakan. Sebelum ini terjadi, ada baiknya Anda berkonsultasi ke dokter kulit untuk menemukan penyebab rambut rontok serta mendiskusikan perawatan yang tepat.

Mengalami kerontokan rambut (alopecia) sebetulnya termasuk hal yang wajar. Normalnya, orang akan mengalami rambut rontok sebanyak 50 hingga 100 helai per hari. Jumlah ini sangat sedikit juga dibandingkan dengan 100 ribu helai rambut yang ada di kulit kepala. Rambut baru pun bisa bermunculan dan menggantikan helai-helai yang gugur.

Kapan Anda dianggap mengalami rambut rontok?

Kerontokan rambut bisa berakhir pada komplikasi permanen pada sebagian orang, yaitu berupa kebotakan. Lagi pula, tentu mustahil untuk selalu menghitung jumlah helai yang rontok, bukan?

Nah, salah satu cara mudah mengetahui bahwa Anda mengalami kerontokan rambut di luar kewajaran ialah jika ada terlalu banyak helai yang gugur saat Anda menyisir. Rambut juga akan menjadi lebih tipis atau tampak area-area kulit kepala yang tidak ditumbuhi rambut atau botak.

Untuk mengatasi rambut rontok, perlu diketahui penyebabnya terlebih dulu. Dengan ini, penanganan pun bisa diperoleh dengan tepat.

Apa penyebab rambut rontok hingga botak?

Faktor genetik memainkan peranan penting sebagai pemicu di balik rambut rontok pada pria maupun wanita. Dengan kata lain, rambut Anda berisiko menipis, rontok, hingga botak jika memiliki orangtua atau saudara kandung yang juga pernah mengalami masalah yang sama.

Rambut rontok yang dipengaruhi tersebut biasanya mulai terjadi pada usia 30 atau 40-an. Bahkan, tidak jarang kondisi menuju kebotakan ini berawal sejak masa pubertas jika hormon Anda ‘membangunkan’ risiko kebotakan genetik tersebut.

Di samping faktor genetik, penyebab rambut rontok lainnya bisa berupa kondisi-kondisi di bawah ini:

  • Perubahan hormon, contohnya kehamilan, pascamelahirkan, penggunaan alat kontrasepsi tertentu, hingga menopause. Selain itu, hormon testosterone juga dikatakan sebagai penyebab dari kebotakan pada pria.
  • Masalah kesehatan. Berbagai penyakit bisa memicu kerontokan rambut, misalnya gangguan kelenjar tiroid, alopecia areata (kondisi autoimun yang menyerang folikel rambut), sampai infeksi di kulit kepala. Beberapa masalah kesehatan, seperti lichen planus dan sejumlah tipe lupus, juga dapat menyebabkan kebotakan permanen.
  • Perawatan atau pengobatan medis. Pasien yang tengah menjalani penanganan untuk penyakit kanker, tekanan darah tinggi, artritis, depresi, dan penyakit jantung juga bisa mengalami kerontokan rambut sebagai efek sampingnya.
  • Syok atau perubahan fisik yang drastis, misalnya penurunan berat badan yang ekstrem maupun demam tinggi.
  • Gangguan mental, seperti trichotillomania (kelainan mental yang membuat penderita suka menarik rambutnya sendiri).
  • Gaya hidup, contohnya sering gonta-ganti gaya rambut (seperti, mewarnai atau mengeriting rambut), menguncir terlalu kencang, serta menerapkan pola makan rendah protein, zat besi, maupun nutrisi lainnya.

Pada beberapa penyebab rambut rontok, kondisi kerontokan mungkin bisa dihentikan ketika pemicunya tidak lagi dilakukan atau telah ditangani. Sebagai contoh, rambut rontok pada pengidap kanker yang menjalani kemoterapi, bisa saja berhenti dengan sendirinya ketika kemoterapi telah selesai.

Meski begitu, penyebab-penyebab rambut rontok lainnya mungkin saja tidak dapat dihindari. Sebagai akibatnya, kebotakan pun kemudian terjadi.

7 Cara menangani rambut rontok

Dokter akan merekomendasikan pengobatan atau perawatan sesuai dengan penyebab rambut rontok yang Anda alami. Berikut beberapa penanganan rambut rontok yang mungkin bisa menjadi pilihan Anda:

  • Minoxidil. Obat ini dipercaya ampuh dalam memperlambat kerontokan rambut dan menumbuhkan kembali rambut di kulit kepala botak jika gejala kerontokan baru Anda alami.
  • Spironolactone. Obat berbentuk pil ini bisa menghalangi hormon pria yang menyebabkan kebotakan. Spironolactone juga kadang-kadang digunakan untuk mengatasi kebotakan pada wanita.
  • Finasteride. Meski sejatinya berfungsi menangani gangguan prostat, obat ini ternyata juga dapat digunakan untuk mengatasi masalah kebotakan pada pria.
  • Kortikosteroid. Pada pengidap alopecia areata yang memicu rambut rontok dan pitak akibat kondisi autoimun, kerontokan bisa berhenti tanpa penanganan khusus. Namun kortikosteroid oles atau suntik terkadang digunakan untuk mempercepat tumbuh kembalinya rambut.
  • Anthralin. Sama seperti kortikosteroid, obat oles ini juga digunakan untuk menangani alopecia areata. Anthralin akan mengendalikan peradangan yang terjadi pada folikel-folikel rambut.
  • Sinar laser. Dewasa ini, telah banyak beredar alat-alat yang dilengkapi dengan sinar laser untuk menstimulasi tumbuhnya rambut-rambut baru. Misalnya, dalam bentuk sisir.
  • Transplantasi rambut. Prosedur ini dilakukan dengan memindahkan folikel-folikel rambut yang sehat ke kulit kepala yang sudah botak. Transplantasi rambut harus dilakukan dalam beberapa sesi dan hasilnya baru bisa dinikmati beberapa bulan setelahnya.

Setiap pengobatan memiliki efek samping. Selalu konsultasikan dengan dokter mengenai solusi yang tepat untuk mengobati masalah kerontokan rambut yang Anda alami.

Apakah kerontokan rambut bisa dicegah?

Kerontokan rambut bisa dicegah. Namun tindakan pencegahan tiap individu bisa berbeda-beda, tergantung penyebab rambut rontok itu sendiri. Kerontokan yang disebabkan oleh faktor usia atau hormon biasanya akan sangat sulit untuk dicegah.

Sementara itu, kerontokan rambut pada umumnya bisa diperlambat dengan mengonsumsi nutrisi yang tepat. Misalnya, mencukupi kebutuhan zat besi dan vitamin B. Cepat dalam mengobati berbagai masalah kesehatan, semisal penyakit tiroid, juga bisa menjadi langkah preventif sebelum kebotakan melanda Anda.

Anda juga disarankan untuk tidak terlalu sering mewarnai rambut maupun melakukan tindakan styling rambut lainnya. Contohnya, bonding dan mengeriting rambut. Pilih juga sampo yang cocok dengan kulit kepala Anda.

Terakhir, jangan menyisir rambut terlalu kasar. Hal ini mungkin tampak sepele, tapi dapat membuat rambut gampang rontok. Bila ingin menyisir rambut basah setelah keramas, gunakan sisir bergigi jarang agar akar rambut tidak tertarik.

Dengan menghindari penyebab rambut rontok yang bisa dijauhi, risiko kerontokan bisa dikurangi. Konsultasikan ke dokter dan tangani juga kondisi medis yang mungkin menjadi pemicu kerontokan agar rambut Anda tetap indah. Semoga bermanfaat!

Healthline. https://www.healthline.com/health/hair-loss
Diakses pada 6 Juli 2019

Medicinet. https://www.medicinenet.com/hair_loss/article.htm
Diakses pada 6 Juli 2019

WebMD. https://www.webmd.com/skin-problems-and-treatments/hair-loss/understanding-hair-loss-prevention
Diakses pada 6 Juli 2019

WebMD. https://www.webmd.com/skin-problems-and-treatments/hair-loss/understanding-hair-loss-treatment
Diakses pada 6 Juli 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed