Terapi pasca serangan stroke sangatlah dibutuhkan untuk memperbaiki kerusakan sel saraf yang terjadi
Pasca serangan stroke, diperlukan terapi untuk memperbaiki kerusakan sel saraf yang terjadi.

Saat seseorang mengalami stroke, sel-sel di otak, termasuk sel saraf, banyak yang mengalami kerusakan. Hal ini membuat penderita stroke mengalami komplikasi, seperti gangguan daya ingat serta gangguan otot, hingga tidak bisa menggerakkan anggota tubuhnya.

Pascaserangan stroke, perawatan harus segera dilakukan. Semakin cepat perawatan dilakukan, maka bagian otak yang bisa terselamatkan, pun akan semakin luas. Apalagi hingga saat ini, tidak ada perawatan medis yang bisa memperbaiki kerusakan otak akibat stroke.

[[artikel-terkait]]

Cegah kerusakan sel saraf setelah stroke dengan terapi

Karena tidak ada obat yang dapat memperbaiki fungsi otak setelah terjadinya serangan stroke, maka perawatan dengan rehabilitasi menjadi alternatif untuk mencegah terjadinya kerusakan otak lebih jauh.

Terdapat berbagai jenis terapi pascastroke yang bisa dilakukan. Untuk menentukan jenis terapi yang tepat, dokter akan menyesuaikannya dengan jenis kerusakan yang terjadi di tubuh. Berikut ini beberapa pilihan jenis terapi bagi para penderita stroke.

Terapi fisik

Jenis terapi fisik untuk penderita stroke meliputi:

  • Latihan kemampuan motorik

    Bertujuan untuk memperbaiki kekuatan otot dan koordinasi. Selain itu, latihan ini juga bisa memperbaiki kemampuan menelan.
  • Latihan menggerakkan tubuh

    Pada terapi ini, alat bantu gerak seperti tongkat, kursi roda, atau gelang kaki khusus, umum digunakan. Gelang tersebut akan membantu menyeimbangkan dan memperkuat pergelangan kaki, untuk menopang berat badan saat kembali belajar berjalan.
  • Terapi paksaan

    Dinamakan terapi paksaan karena pada jenis ini, anggota tubuh yang sehat selepas terjadinya serangan stroke, akan ditahan pergerakannya. Lalu, anggota tubuh yang terkena dampak stroke akan berlatih untuk memperbaiki fungsinya.
  • Terapi rentang gerak

    Akan dilakukan beberapa latihan pergerakan, yang dapat meringankan ketegangan otot, sehingga dapat lebih mudah bergerak.

Terapi kognitif dan emosional

Pada terapi ini, terdapat beberapa jenis latihan yang dapat dilakukan, yaitu:

  • Perbaikan kelainan kognitif

    Pada jenis ini, terapi okupasi dan terapi wicara dilakukan untuk membantu penderita stroke kembali memperbaiki berbagai kemampuan kognitifnya.

    Kemampuan kognitif yang dimaksud di antaranya daya ingat, kemampuan bersosialisasi, dan kemampuan menyelesaikan masalah.

  • Perbaikan komunikasi

    Terapi wicara dapat mengembalikan kemampuan berbicara, mendengar, menulis, dan pemahaman akan suatu hal.
  • Latihan dan evaluasi psikologis

    Mengalami stroke dapat memengaruhi psikologis seseorang. Karena itu, penderita stroke disarankan menjalani konseling atau berpartisipasi dalam komunitas sesama penderita stroke.
  • Pemberian obat-obatan

    Dokter mungkin akan merekomendasikan obat antidepresan atau medikasi lain, yang dapat membantu untuk meningkatkan kewaspadaan maupun pergerakan.

Faktor yang memengaruhi perbaikan sel saraf pada terapi stroke

Hasil dari terapi yang dilakukan penderita stroke dapat berbeda-beda, tergantung dari beberapa faktor, seperti:

1. Tingkat keparahan cedera otak

Jika setelah serangan stroke, kerusakan yang timbul di otak tidak terlalu parah, maka tingkat keberhasilan terapinya pun akan semakin baik. Sebaliknya, jika kerusakan yang terjadi cukup banyak, maka tingkat keberhasilan terapi juga akan cenderung menurun.

2. Motivasi dari sesama penderita stroke

Menjalani terapi dengan semangat akan membantu penderita stroke menjalani terapi dengan lebih fokus, sehingga hasil terapi dapat optimal.

3. Dukungan keluarga

Selama penyembuhan, dukungan keluarga adalah hal yang terpenting. Keluarga dapat memberikan motivasi dan dukungan dengan menyampaikan, bahwa meski telah mengalami penyakit ini, namun kehadirannya masih berarti dan dibutuhkan oleh keluarga.

4. Waktu dimulainya terapi

Terapi harus dimulai segera setelah serangan stroke mereda. Jenis-jenis terapi seperti melatih otot yang sulit bergerak, atau melatih gerakan di atas tempat tidur, dapat mulai dilakukan sesegera mungkin.

Kerusakan otak, termasuk sel saraf akibat stroke, memang tidak bisa diperbaiki. Namun, kerusakan tersebut dapat dicegah dari kondisi yang lebih parah. Karena itu, kerjasama antara dokter, terapis, maupun keluarga sangat dibutuhkan, untuk dapat membantu terapi dapat berjalan dengan lancar dan membuahkan hasil yang diinginkan.

Stroke Foundation. https://strokefoundation.org.au/About-Stroke/Treatment-for-stroke/Early-treatment-after-a-stroke
Diakses pada 14 Mei 2019

National Stroke Association. https://www.stroke.org/understand-stroke/what-is-stroke/
Diakses pada 14 Mei 2019

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/stroke/in-depth/stroke-rehabilitation/art-20045172
Diakses pada 14 Mei 2019

Science Daily. https://www.sciencedaily.com/releases/2017/02/170222152746.htm
Diakses pada 14 Mei 2019

Cleveland Clinic. https://my.clevelandclinic.org/health/articles/5600-stroke-rehabilitation-services
Diakses pada 14 Mei 2019

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Banner Telemed