Mengenal Efek Samping Vaksin pada Anak dan Cara Mencegahnya


Efek samping vasin pada anak umumnya akan berupa demam ringan sampai tinggi, nyeri, dan bengkak pada area bekas suntikan. Tak perlu khawatir, reaksi ini akan hilang dengan sendirinya setelah beberapa hari.

(0)
Efek samping vaksin pada anakTidak semua anak merasakan efek samping vaksin, ada yang tetap dapat beraktivitas seperti biasa
Mendapatkan imunisasi atau vaksin dapat melindungi anak-anak dari penyakit berbahaya, seperti polio, campak, dan batuk rejan. Namun, sama seperti obat-obatan pada umumnya, vaksin dapat menimbulkan efek samping tertentu yang bisa dipahami. Efek samping vaksin dapat muncul tergantung pada kondisi tubuh masing-masing anak.Dengan mengetahui efek samping vaksin, orangtua bisa mengenali gejala setelah vaksin dan memberikan penanganan yang tepat kepada buah hati.

Efek samping vaksin

Hingga saat ini, masih ada masyarakat yang menolak pemberian imunisasi untuk anak karena khawatir dengan adanya efek samping vaksin (kejadian ikutan pasca imunisasi/KIPI).Padahal menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, pemberian vaksin merupakan tindakan yang tergolong aman meskipun dapat menimbulkan reaksi pada sebagian kecil anak, namun jarang bersifat serius. Reaksi yang paling umum terjadi dapat berupa ruam kulit, demam ringan, dan juga pilek yang dapat diobati.Umumnya, reaksi ini akan hilang dengan sendirinya setelah beberapa hari. Efek samping vaksin yang perlu diketahui adalah:
  • Demam ringan
  • Kemerahan di lokasi bekas suntikan
  • Sedikit bengkak di lokasi bekas suntikan
  • Rewel
  • Sulit tidur
Pada beberapa jenis vaksin, anak juga akan mengalami gejala berikut ini:Tak perlu khawatir, karena efek samping vaksin relatif normal dan seharusnya dapat hilang tanpa perawatan apapun.Bahkan, terjadinya efek samping vaksin bisa saja menandakan bahwa imunisasi tersebut bekerja. Biasanya, jika ada gejala yang dialami anak setelah vaksin menandakan bahwa tubuh anak sedang bekerja memproduksi antibodi. Meski begitu, Anda  tetap perlu waspada akan permasalahan yang lebih serius, seperti alergi. 

Manfaat vaksin lebih besar dibanding efek samping vaksin

Vaksin dibuat menggunakan bagian dari kuman penyebab penyakit itu sendiri tetapi tidak sampai membuat anak jatuh sakit. Vaksin akan memberi tahu tubuh anak Anda untuk membuat protein darah yang disebut antibodi untuk melawan penyakit tersebut. Misalnya saat anak mendapatkan vaksin campak. Ketika penyakit campak yang sebenarnya menyerang tubuh, maka badannya sudah mengenali dan memiliki cara untuk memeranginya sehingga gejala yang dialami tidak terlalu parah. Vaksin bisa mencegah berbagai penyakit berbahaya. Bahkan, karena peran vaksin lah saat ini kejadian polio di dunia sudah hampir punah. Dengan melengkapi imuniasi yang disarankan bagi anak, maka kelak ia akan tumbuh menjadi pribadi yang sehat dan berisiko lebih kecil terkena penyakit.

Kapan efek samping vaksin harus diperiksakan ke dokter?

Periksa kondisi anak apakah ia menunjukkan gejala yang membuat Anda khawatir. Misalnya: reaksi alergi parah, demam tinggi, atau perilaku yang tidak biasa. Reaksi alergi yang parah dapat berupa gatal-gatal, pembengkakan pada wajah dan tenggorokan, serta kesulitan bernapas. Pada bayi, reaksi alergi mungkin juga termasuk demam tinggi, lesu dan mengantuk, serta kehilangan nafsu makan. Reaksi alergi vaksin pada anak yang lebih besar juga termasuk detak jantung yang lebih cepat dari biasanya, pusing, dan kelelahan. Biasanya, efek samping vaksin dapat terlihat dengan cepat setelah imunisasi dalam hitungan menit atau jam.Reaksi alergi vaksin yang parah sangat jarang terjadi, 1 kasus pada 1 juta anak yang divaksin.Namun, tetap sangat penting untuk mengetahui gejala setelah vaksin dan menghubungi dokter untuk mendapatkan penanganan medis yang tepat.

Reaksi alergi setelah vaksin

Anda dapat memeriksa apakah anak mengalami gejala-gejala setelah vaksin yang tampak tidak normal, di antaranya adalah
  • Masalah pernapasan (sesak napas)
  • Suara serak
  • Gatal-gatal
  • Demam lebih dari 40° Celcius
Gejala setelah vaksin lain yang patut diwaspadai adalah bayi atau anak menangis tantrum tidak terkendali selama lebih dari 3 jam.Masih banyak mitos-mitos yang beredar di masyarakat menyebutkan tentang vaksin bisa menyebabkan anak koma, kejang-kejang, atau kerusakan otak permanen. Hal ini sepenuhnya tidak benar.Faktanya, para dokter menjelaskan bahwa hal itu masih belum dapat dipastikan merupakan efek samping vaksin atau bukan. Bisa jadi, gangguan penyakit tersebut adalah efek samping yang disebabkan oleh masalah medis lain. Karenanya, sebelum vaksin anak tidak boleh sedang demam atau sakit.Untuk melindungi kesehatan buah hati di masa mendatang, segera bawa anak ke dokter atau pusat kesehatan terdekat dan mendapatkan vaksin yang tepat.
vaksin bayi dan anakbedah mitosmitos
WebMD. https://www.webmd.com/children/guide/child-gets-vaccines
Diakses pada Maret 2019
Healthy Children. https://www.healthychildren.org/English/safety-prevention/immunizations/Pages/Your-Babys-First-Vaccines.aspx
Diakses pada Maret 2019
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, https://www.kemkes.go.id/article/print/388/menkes-canangkan-kampanye-imunisasi-campak-dan-polio-tahun-2009.html
Diakses pada 21 Agustus 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait