Cedera otak yang berat dapat disebabkan oleh kecelakaan maupun cedera saat olahraga
Cedera otak dapat terjadi karena benturan yang keras dikepala

Otak merupakan organ yang menjadi pusat hampir semua kegiatan di tubuh. Karena itu, saat cedera otak terjadi, dampaknya bisa menyebar ke area tubuh lainnya.

Pada cedera otak yang ringan, kerusakan yang terjadi hanya sementara. Namun pada cedera otak yang berat, kerusakan dapat bertahan permanen bahkan hingga menyebabkan kematian. 

Maka dari itu, Anda diharapkan dapat lebih waspada terhadap kondisi ini. Hindari hal-hal yang dapat menjadi penyebabnya dan pahami gejalanya agar cedera otak yang telah terjadi dapat segera ditangani dengan tepat.

Jenis-jenis Cedera Otak

Cedera otak terjadi ketika ada benturan keras yang menyebabkan kerusakan pada sel-sel otak. Pada dasarnya, semua cedera otak traumatis adalah cedera kepala. Namun, cedera kepala belum tentu cedera otak.

Ada dua jenis cedera otak yang biasa dialami, yaitu traumatic brain injury dan acquired brain injury. Keduanya memberi dampak pada terganggunya fungsi normal otak.

  • Traumatic Brain Injury (TBI), disebabkan oleh faktor eksternal - seperti pukulan atau benturan keras ke kepala - yang menyebabkan otak bergerak di dalam tengkorak atau bahkan merusak tengkorak.
  • Acquired Brain Injury (ABI), merupakan cedera otak yang terjadi pada tingkat sel. Kondisi ini paling sering dikaitkan dengan tekanan yang terjadi pada otak. Tekanan ini dapat berasal dari tumor dan akibat penyakit neurologis, seperti dalam kasus stroke.

Penyebab Cedera Otak

Cedera otak dapat terjadi sebagai akibat dari berbagai macam penyebab, mulai dari penyakit hingga  kecelakaan. Berikut ini adalah beberapa penyebab cedera otak yang perlu Anda waspadai:

Penyebab Traumatic Brain Injury

Cedera otak berat atau traumatic brain injury dapat disebabkan oleh beragam faktor. Penyebab cedera otak berat yang paling umum terjadi di antaranya:

  • Kecelakaan mobil
  • Pukulan atau benturan keras ke kepala
  • Kekerasan fisik
  • Cedera olahraga
  • Jatuh atau kecelakaan
  • Ledakan

Penyebab Acquired Brain Injury

  • Keracunan atau paparan zat beracun
  • Infeksi
  • Strangulasi, akibat tersedak atau tenggelam
  • Pukulan
  • Serangan jantung
  • Tumor
  • Aneurisma
  • Penyakit neurologis
  • Penyalahgunaan obat-obatan terlarang

Gejala Cedera Otak

Ada banyak gejala cedera otak, baik itu traumatic brain injury maupun acquired brain injury. Gejala-gejala yang tampak terbagi dalam empat kategori utama:

  • Kognitif (Kecerdasan)
  • Persepsi
  • Fisik
  • Perilaku/emosional

Gejala kognitif cedera otak meliputi:

  • Kesulitan memproses informasi
  • Kesulitan dalam mengekspresikan pikiran
  • Kesulitan memahami orang lain
  • Rentang perhatian yang singkat
  • Ketidakmampuan memahami konsep abstrak
  • Kemampuan pengambilan keputusan yang terganggu
  • Hilang ingatan

Gejala-gejala persepsi cedera otak meliputi:

  • Terjadi perubahan dalam indera penglihatan, pendengaran, atau peraba
  • Disorientasi spasial
  • Ketidakmampuan untuk merasakan waktu
  • Gangguan bau dan rasa
  • Masalah keseimbangan
  • Meningkatkan kepekaan terhadap rasa sakit

Gejala fisik cedera otak meliputi:

  • Sakit kepala terus menerus
  • Penglihatan menjadi kabur
  • Mual atau muntah
  • Kelelahan mental yang ekstrim
  • Kelelahan fisik yang ekstrem
  • Kelumpuhan
  • Tremor
  • Sensitivitas terhadap cahaya
  • Sensitivitas terhadap suara
  • Gangguan tidur
  • Bicara menjadi cadel
  • Hilang kesadaran

Gejala perilaku/emosi cedera otak meliputi:

  • Semakin sensitif dan tidak sabar
  • Mudah depresi dan stres
  • Lesu
  • Emosi menjadi tidak stabil
  • Agresif

Selain itu, orang dengan cedera otak juga dapat mengalami gangguan tidur. Penderita kondisi ini dapat tidur lebih sering dari biasanya atau lebih sedikit. Cedera otak juga dapat menyebabkan penderitanya kesulitan untuk tidur.

Pengobatan Cedera Otak

Siapa pun yang mengalami cedera kepala atau otak membutuhkan perhatian medis yang cepat dan tepat. Cedera otak yang tampaknya ringan biasanya disebut sebagai gegar otak.

Meskipun dikategorikan sebagai cedera otak ringan, gegar otak juga dapat menjadi berbahaya jika tidak ditangani dengan tepat. Faktor kunci dalam penanganan cedera otak adalah dengan memahami luas dan lokasi kerusakan otak yang terjadi. Hal ini penting untuk menentukan diagnosis dan perawatan yang benar agar dapat menahan atau meminimalkan kerusakan otak yang terjadi.

Luas dan efek kerusakan otak ditentukan oleh pemeriksaan neurologis, pengujian neuroimaging seperti MRI atau CT scan, dan penilaian neuropsikologis. Dokter akan menstabilkan pasien untuk mencegah cedera lebih lanjut, memastikan darah dan oksigen mengalir dengan baik ke otak, dan memastikan bahwa tekanan darah dikontrol.

Hampir semua pasien dengan cedera otak akan mendapat perawatan dan rehabilitasi untuk membantu pemulihan jangka panjang, di antaranya:

  • Terapi fisik
  • Pekerjaan yang berhubungan dengan terapi
  • Terapi bicara dan bahasa
  • Dukungan psikologis

Mengingat cedera otak dapat menjadi sesuatu yang sangat membahayakan, pastikan untuk selalu menjaga diri dan melindungi kepala dari beragam risiko benturan dan pukulan keras. Segera hubungi dokter apabila Anda merasakan gejala cedera otak agar dapat segera ditangani dengan tepat dan efektif.

WebMD. https://www.webmd.com/brain/brain-damage-symptoms-causes-treatments#1
Diakses pada 28 November 2018

CDC. https://www.cdc.gov/traumaticbraininjury/symptoms.html
Diakses pada 5 Maret 2019

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/traumatic-brain-injury/symptoms-causes/syc-20378557
Diakses pada 5 Maret 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed