Catcalling, Pelecehan Seksual yang Belum Disadari Banyak Orang

Catcalling bukanlah pujian, melainkan bentuk pelecehan seksual
Ilustrasi catcalling yang dialami seorang wanita

Anda pernah disebut ‘cantik’ atau ‘seksi’ dan sejenisnya ketika tengah melintas di jalan umum? Jika ya, maka Anda telah mengalami pelecehan seksual berbentuk catcalling.

Catcalling adalah komentar bernada seksual yang dilontarkan oleh laki-laki ke wanita di tempat umum, misalnya jalan raya, pusat perbelanjaan, stasiun, dan lain-lain. Bedanya dengan pelecehan seksual pada umumnya adalah laki-laki dan wanita tidak saling kenal sehingga kerap juga disebut pelecehan asing.

Selain kata-kata berbau seksual, cat calling juga bisa berbentuk siulan, lirikan, kedipan, bahkan memegang area tubuh tertentu. Tujuan catcalling bukanlah ingin melakukan pemerkosaan, namun lebih kepada mencari perhatian dari sang wanita.

Bentuk-bentuk catcalling

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Stop Street Harassment, hampir 99 persen responden wanita pernah merasakan pelecehan di jalanan, termasuk catcalling. Pelecehan seksual ini bukan hanya ketika wanita dihujani kata-kata bernada seksis seperti “kamu cantik” atau “kamu seksi”, namun juga beberapa bentuk lainnya, seperti:

  • Mengatakan kata-kata seksis yang eksplisit, misalnya payudara atau bokong Anda besar.
  • Lirikan, yakni ketika laki-laki melirik wanita dengan tatapan penuh nafsu.
  • Bersiul, yakni ketika laki-laki mengeluarkan siulan dari mulutnya dan biasanya ditujukan untuk melecehkan bentuk tubuh wanita yang dianggapnya seksi.
  • Memperlihatkan gestur vulgar, misalnya menggigit bibir bawah tanda laki-laki tersebut sedang birahi
  • Mengeluarkan suara ciuman tepat di depan wajah korbannya.
  • Menguntit atau menghalang-halangi Anda sampai di tujuan.
  • Memegang bagian tubuh Anda manapun, mulai dari pakaian Anda hingga area terlarang, seperti paha, payudara, bokong, dan lain-lain.

Tidak sedikit wanita yang marah ketika menjadi korban catcalling. Namun, banyak juga pria pelaku catcalling yang berdalih bahwa tindakan mereka itu lucu, menggemaskan, dan bertujuan untuk memuji penampilan fisik si wanita.

Padahal, catcalling justru merupakan perbuatan tidak terpuji, menjijikan, dan menghina wanita. Catcalling menjadikan wanita sebagai objek seksual dan terlihat tidak lebih dari seonggok daging yang sedang berjalan tanpa memandang kesetaraan gender.

Fenomena catcalling juga sering dihubungkan dengan gaya berpakaian si wanita yang terbilang terbuka sehingga menantang laki-laki untuk mengomentarinya. Padahal, ada jurnal yang menyebut negara-negara dengan wanita berpakaian tertutup (bahkan menggunakan cadar), seperti Mesir dan Lebanon, juga tidak terhindar dari catcalling.

Dengan kata lain, hubungan antara catcalling dengan stereotype cara berpakaian wanita hanya mengada-ada untuk dijadikan pembenaran otak kotor dalam diri pelaku catcalling tersebut. Apa pun bentuknya, catcalling harus dihentikan karena dapat mengakibatkan terganggunya kesehatan mental para wanita yang mengalaminya.

Dampak catcalling pada wanita

Sayangnya, meski banyak wanita yang tidak nyaman atau bahkan marah ketika mengalami catcalling, mereka cenderung tidak melawan. Sebaliknya, yang dilakukan oleh wanita hanyalah menghindari kemungkinan berulangnya catcalling, misalnya dengan memakai pakaian yang lebih longgar, mengganti rute menuju kantor, atau hanya pura-pura mengacuhkannya.

Padahal jika catcalling terus dialami oleh wanita tersebut, kesehatan mentalnya bisa terganggu dan mengakibatkan munculnya efek buruk, misalnya:

  • Muncul perasaan ‘terancam’ ketika wanita berada di tempat umum yang bahkan banyak orang di sekitarnya.
  • Penurunan harga diri yang terlihat dari cara berpakaian, ekspresi wajah, dan emosi yang diperlihatkan di depan umum
  • Terus-menerus mendapat catcalling juga dapat mengakibatkan wanita menerima bahwa dirinya hanyalah objek, bukan wanita yang berhak bersuara atas keinginannya sendiri.
  • Wanita kian merasa tidak aman berada di jalan dan semakin paranoid.

Efek buruk itu akan semakin terasa ketika Anda merasa tidak nyaman dengan catcalling, namun berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Jika Anda terus menghindar dari masalah, maka efek buruk catcalling akan semakin menghantui sehingga membuat Anda terus-menerus menyalahkan diri sendiri atas kesalahan yang dilakukan oleh orang lain.

Sebaliknya, efek buruk pada psikologis wanita itu bisa diminimalisir ketika wanita mengabaikan catcalling yang dilakukan oleh laki-laki tak dikenal. Lebih bagus lagi jika wanita tersebut mau ‘melawan’ pelaku catcalling agar ia tidak melakukan hal yang sama pada Anda atau wanita lainnya.

Springer Science. http://christopherjferguson.com/Catcalling.pdf
Diakses pada 13 April 2020

Springer. http://eprints.unm.ac.id/9677/1/JURNAL%20SKRIPSI.pdf
Diakses pada 13 April 2020

University of Missouri-Kansas City. https://info.umkc.edu/womenc/2019/05/02/catcalling-is-not-a-compliment-its-harassment/
Diakses pada 13 April 2020

Stop Street Harassment. http://www.stopstreetharassment.org/resources/statistics/sshstudies/
Diakses pada 13 April 2020

Research Gate. https://www.researchgate.net/publication/335794410_Catcalling
Diakses pada 13 April 2020

Action Aid. https://www.actionaid.org.uk/blog/voices/2018/04/11/catcalling-not-a-joke-not-a-compliment-its-harassment
Diakses pada 13 April 2020