Cara Tetap Sopan Saat Menghadapi Orangtua yang Selalu Merasa Benar

(0)
10 Sep 2020|Azelia Trifiana
Menghadapi orangtua yang selalu merasa benar membutuhkan pengendalian diriMenghadapi orangtua yang selalu merasa benar membutuhkan kesabaran
Bukan hal sepele mencapai kata kompromi antara dua orang yang rentang usianya bisa berbeda dua hingga tiga dekade. Katakanlah dalam konteks anak ketika menghadapi orangtua yang selalu merasa benar. Memaksakan pendapat dengan cara yang salah bisa dianggap tidak menghormati orangtua, namun terkadang perlu membuat orangtua tahu mana yang benar dan salah.Kerap kali jika komunikasinya buntu, menghadapi orangtua yang selalu merasa benar hanya akan berakhir dengan pertengkaran. Padahal, perdebatan dengan bumbu emosi hanya akan membuat masing-masing pihak semakin mempertahankan pendapatnya tanpa mengabaikan masukan orang lain.

Cara menghadapi orangtua yang selalu merasa benar

Ayah dan ibu tua
Sampaikan pemikiran Anda pada orangtua dengan sopan
Namun bagaimanapun, menghadapi orangtua yang selalu merasa benar adalah hal yang pasti terjadi. Terlepas dari bagaimana sifat dan pola pengasuhan orangtua, akan ada saja friksi atau gesekan tentang beragam hal.Lantas, bagaimana cara menghadapi orangtua yang selalu merasa benar?

1. Komunikasikan dengan terbuka

Banyak dari kita bukan cenayang yang bisa membaca pikiran orang lain.  Sampaikan apa yang ada di pikiran Anda kepada orang lain. Ini berlaku pada siapapun, bukan hanya ketika berkomunikasi dengan orangtua.Gunakan bahasa sederhana yang mudah dimengerti. Bila perlu, tambahkan analogi-analogi sehingga membuat pemahamannya kian mudah dicerna. Ketika orangtua tetap merasa benar, jaga agar komunikasi tetap berjalan dengan kepala dingin, bukan emosi.

2. Pahami alasan mereka merasa benar

Bagaimanapun, orangtua telah hidup lebih dulu dibanding anak-anaknya. Mereka telah mengenyam pahit manis kehidupan jauh sebelum memiliki keturunan. Artinya, pasti ada alasan mengapa orangtua selalu merasa benar.Sebelum mulai berdebat tentang perbedaan pendapat, pahami mengapa orangtua merasa selalu benar. Pahami apa motivasi yang membuat mereka bersikukuh setuju pada suatu prinsip.Kemudian, sampaikan bahwa Anda memahami itu di awal pembicaraan. Contohnya lewat kalimat seperti, “Saya yakin Ayah/Ibu tahu betul betapa pentingnya masalah ini…” baru diikuti dengan argumen-argumen yang logis.

3. Gunakan intonasi yang tepat

Menggunakan intonasi atau nada suara tinggi ketika menghadapi orangtua yang selalu merasa benar hanya akan membuat suasana runyam. Jangankan mencerna apa yang disampaikan, emosi masing-masing pihak justru mudah tersulut sehingga tidak akan sampai di titik temu.Alih-alih membentak atau menggunakan nada tinggi, sampaikan setiap kalimat dengan sopan. Tetap hargai posisi mereka sebagai orangtua yang wajib dihormati. Dengan menyampaikan pendapat secara sopan, dapat membuka hati orangtua untuk mengubah prinsip mereka.

4. Jangan tuding mereka keras kepala

Ketika berdebat tentang apapun, jangan pernah menuding mereka selalu keras kepala atau merasa benar. Ini bagaikan menyiram bensin ke kobaran api. Sebaliknya, sampaikan bahwa perbedaan pendapat ini muncul karena bentuk perhatian anak.Contohnya ketika orangtua menolak untuk pindah kamar ke lantai dasar dan memaksa tetap naik turun tangga, jangan langsung menuding mereka keras kepala. Sebaliknya, sampaikan bahwa anak-anak merasa khawatir terhadap keselamatan mereka. Saran agar mereka pindah kamar ke lantai dasar muncul sebagai bentuk kasih sayang anak-anak untuk orangtua.

5. Tak segan validasi emosi

Ketika menyampaikan pendapat kepada orangtua yang selalu merasa benar, jangan segan melakukan validasi emosi diri sendiri. Sampaikan bahwa anak-anak merasa sayang, peduli, khawatir, dan ingin melindungi orangtua sebaik-baiknya. Semakin banyak emosi yang tervalidasi, maka orangtua akan merasa diperhatikan.Minta tolong orangtua untuk membantu menghapus rasa khawatir anak-anak mereka dengan setuju terhadap hal yang tengah diperdebatkan. Bila perlu, tambahkan pula bahwa cucu-cucu mereka merasakan hal yang sama.

6. Turuti, namun tetap siaga

Jika beberapa cara menghadapi orangtua yang selalu merasa benar di atas tidak berhasil, turuti saja keinginan orangtua. Namun, tetap siaga ketika ada sesuatu yang terjadi di luar ekspektasi. Meskipun belum mencapai kata sepakat, sampaikan bahwa anak-anak siap menunggu hingga orangtua berubah pikiran.Jangan lupa tekankan pula bahwa komunikasi terkait perdebatan ini akan selalu terbuka lebar. Kapanpun ingin menyampaikan hal lain, katakan bahwa Anda siap datang atau menerima telpon dari mereka.

Ada alasan mengapa orangtua terkadang merasa selalu benar. Di usia mereka, ada banyak ketidakpastian hingga perasaan frustrasi yang mungkin hinggap dan membuatnya terkesan “keras kepala”. Belum lagi gengsi mengakui bahwa usia tak lagi memungkinkan mereka untuk mandiri.Pahami semua itu, jangan jadikan ini pemantik untuk bertengkar setiap saat. Jika anak-anak dapat menunjukkan kasih sayang dan kepedulian mereka, tidak menutup kemungkinan suatu saat orangtua akan menjadi lebih terbuka pikirannya.
parenting stressorangtuamenjalin hubungan
Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/us/blog/fulfillment-any-age/201807/5-ways-handle-people-who-always-think-they-re-right
Diakses pada 27 Agustus 2020
Bustle. https://www.bustle.com/articles/111210-7-tips-for-dealing-with-toxic-parents
Diakses pada 27 Agustus 2020
Forbes. https://www.forbes.com/sites/carolynrosenblatt/2015/12/29/how-to-handle-a-stubborn-aging-parent/#597cafe15d42
Diakses pada 27 Agustus 2020
Elderly Care Systems. https://elderlycaresystems.com/how-to-deal-with-stubborn-aging-parents/
Diakses pada 27 Agustus 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait