logo-sehatq
logo-kementerian-kesehatan
SehatQ for Corporate
TokoObatArtikelTindakan MedisDokterRumah SakitPenyakitChat DokterPromo
Kesehatan Wanita

4 Cara Penanganan Atrofi Vagina yang Bisa Dilakukan di Rumah

open-summary

Atrofi vagina adalah sindrom genitourinaria menopause. Sindrom ini menjelaskan beberapa gejala menopause yang bukan hanya seputar genital atau seksual saja, tapi juga sistem kemih. Penyebab vaginal atrophy adalah berkurangnya level estrogen dalam tubuh.


close-summary

3

(2)

28 Mar 2021

| Azelia Trifiana

Ditinjau oleh dr. Anandika Pawitri

Atrofi vagina disebabkan oleh turunnya kadar estrogen dalam tubuh

Atrofi vagina disebabkan oleh turunnya kadar estrogen dalam tubuh

Table of Content

  • Mengenal atrofi vagina
  • Diagnosis atrofi vagina
  • Penanganan atrofi vagina
  • Catatan dari SehatQ

Atrofi vagina adalah sindrom genitourinaria menopause. Sindrom ini menjelaskan beberapa gejala menopause yang bukan hanya seputar genital atau seksual saja, tapi juga sistem kemih. Penyebab vaginal atrophy adalah berkurangnya level estrogen dalam tubuh.

Advertisement

Lebih jauh lagi, kelompok orang yang rentan mengalaminya adalah perempuan yang sudah memasuki fase menopause. Penanganannya mulai dari mengubah gaya hidup hingga pemberian suplemen atau pengobatan alternatif.

Mengenal atrofi vagina

Setidaknya, separuh dari perempuan yang telah menopause akan mengalami atrofi vagina. Ciri-ciri utamanya adalah saluran vagina menjadi lebih kering dan tipis karena kurangnya hormon estrogen dalam tubuh.

Istilah atrofi vagina telah berganti menjadi term baru yaitu sindrom genitourinaria menopause (genitourinary syndrome of menopause). Artinya, ini menjelaskan sindrom yang terjadi bukan hanya pada area vagina saja tapi juga sistem kemih.

Tak hanya perempuan yang telah menopause, mereka yang lebih mudah juga bisa mengalaminya ketika kadar hormon estrogen menurun drastis. Alasannya karena perempuan memerlukan hormon estrogen untuk kesehatannya, terutama pada masa produktif.

Namun ketika menopause terjadi di usia sekitar 50 tahun, ovarium akan memproduksi lebih sedikit hormon. Itulah mengapa indikasi awal menopause adalah tidak mendapatkan haid setidaknya selama 12 bulan.

Lebih detail lagi, gejala yang paling sering muncul adalah flek, sensasi terbakar, gatal, hingga sakit saat berhubungan seksual.

Selain itu, sindrom lain yang juga termasuk dalam genitourinaria menopause adalah:

  • Keluarnya cairan vagina dalam jumlah banyak
  • Keluar flek saat bercinta
  • Saluran vagina menjadi lebih pendek
  • Mengalami infeksi saluran kemih
  • Inkontinensia urine

Diagnosis atrofi vagina

Untuk menentukan penanganan apa yang paling tepat untuk atrofi vagina, dokter akan melakukan pemeriksaan yang meliputi:

  • Pemeriksaan panggul

Pada tahap ini, dokter akan memeriksa kondisi organ panggul serta secara visual memeriksa vagina dan serviks

  • Tes urine

Tes dengan melihat urine untuk melihat apakah ada gejala gangguan sistem kemih

  • Tes keseimbangan asam

Tes dilakukan dengan mengambil sampel cairan vagina atau meletakkan kertas indikator di vagina. Dengan demikian, bisa diketahui kondisi keasamannya.

Setelah dokter berhasil menegakkan diagnosis, bisa dilakukan beberapa penanganan dengan intervensi medis seperti:

  • Operasi pengangkatan ovarium
  • Terapi radiasi
  • Kemoterapi
  • Perawatan hormonal untuk kanker payudara

Meski demikian, penanganan di atas hanya akan dilakukan apabila kondisinya sudah parah atau ada kondisi medis lain yang berperan. Jika tidak ditangani, ada kemungkinan terjadinya komplikasi.

Baca Juga

  • Cara Menguatkan Otot Vagina, Bukan dengan Merapatkannya
  • Hormon Androgen, Hormon Seks Pria yang Juga Penting untuk Wanita
  • Crystal X, Benarkah Bisa Mengencangkan Vagina?

Penanganan atrofi vagina

Meski demikian, tidak semua kondisi atrofi vagina perlu penanganan seperti di atas. Umumnya untuk penanganan awal, dokter akan memberikan rekomendasi berupa:

  • Lubrikan

Apabila sindrom ini menyebabkan rasa nyeri saat berhubungan seksual, dokter akan menyarankan penggunaan lubrikan berbahan dasar air untuk mengurangi rasa sakit. Pilih produk yang aman, utamanya bagi yang sensitif terhadap zat seperti gliserol karena bisa menyebabkan iritasi.

  • Pelembap vagina

Produk yang berfungsi mengembalikan kelembapan area vagina. Umumnya, pelembap vagina diaplikasikan setiap beberapa hari sekali. Efeknya akan bertahan lebih lama ketimbang lubrikan.

  • Estrogen oles

Diberikan dalam dosis rendah, estrogen oles atau tipikal direkomendasikan karena risiko mengenai aliran darah cukup rendah. Tak hanya itu, estrogen oles juga memberikan dampak meredakan gejala lebih cepat dibandingkan dengan estrogen oral.

Ada beberapa jenis terapi estrogen, mulai dari krim, ring, tablet, atau tabung pipa yang perlu dimasukkan ke dalam saluran vagina selama beberapa minggu. Komunikasikan mana yang dirasa paling efektif.

Selain itu, umumnya atrofi vagina juga merespons cukup baik dengan penanganan sederhana di rumah, seperti:

1. Konsumsi suplemen

Sebagai alternatif terapi hormon estrogen, bisa dicoba obat herbal dan suplemen seperti vitamin A, vitamin E, vitamin B, betakaroten, dan asam lemak omega-3. Konsultasikan dosis yang aman serta interaksi dengan obat lain kepada dokter.

2. Mengatur pola makan

Menjaga berat badan ideal dan juga indeks massa tubuh yang sehat dapat membantu meredakan gejala sindrom genitourinaria menopause. Namun, lakukan secara bertahap. Penurunan berat badan secara drastis bisa jadi berbahaya.

Coba tambahkan makanan yang mengandung estrogen alami dari tanaman seperti produk kedelai dan flaxseed. Selain itu, pastikan tubuh mendapat cukup asupan air agar tetap terhidrasi. Hindari pula konsumsi alkohol dan kafein berlebihan.

3. Aktif bergerak

Terus aktif bergerak secara rutin dapat melancarkan aliran darah serta menyeimbangkan level hormon dalam tubuh. Tak perlu terlalu berintensitas tinggi, bisa dimulai dengan berjalan 30 menit setiap harinya. Diskusikan dengan dokter atau trainer mengenai apa olahraga atau latihan fisik yang cocok.

4. Memilah produk kewanitaan

Hindari penggunaan sabun pembersih kewanitaan atau produk kebersihan lain yang mengandung pewangi dan zat kimia. Produk semacam ini bisa menimbulkan iritasi dan membuat vagina semakin kering. Oleh sebab itu, pilih produk yang menyeimbangkan pH.

Catatan dari SehatQ

Apabila setelah mencoba penanganan sendiri namun tidak ada perbaikan gejala, perhatikan keluhan apa saja yang muncul. Contohnya seperti perdarahan, volume cairan vagina semakin banyak, dan juga nyeri saat bercinta.

Untuk berdiskusi lebih lanjut seputar cara aman penanganan atrofi vagina, tanyakan langsung pada dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Download sekarang di App Store dan Google Play.

Advertisement

kesehatan organ intimkesehatan wanitaorgan intim wanita

Referensi

Terima kasih sudah membaca.

Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?

(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Bagikan

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Advertisement

logo-sehatq

Langganan Newsletter

Jadi orang yang pertama tahu info & promosi kesehatan terbaru dari SehatQ. Gratis.

Metode Pembayaran

Bank BCABank MandiriBank BNIBank Permata
Credit Card VisaCredit Card Master CardCredit Card American ExpressCredit Card JCBGopay

Fitur

  • Toko
  • Produk Toko
  • Kategori Toko
  • Toko Merchant
  • Booking
  • Promo
  • Artikel
  • Chat Dokter
  • Penyakit
  • Forum
  • Review
  • Tes Kesehatan

Perusahaan

Follow us on

  • FacebookFacebook
  • TwitterTwitter
  • InstagramInstagram
  • YoutubeYoutube
  • LinkedinLinkedin

Download SehatQ App

Temukan di APP StoreTemukan di Play Store

Butuh Bantuan?

Jam operasional: 07.00 - 20.00

Hubungi Kami+6221-27899827

Kumpulan Artikel dan Forum

© SehatQ, 2022. All Rights Reserved