7 Cara Pahami Psikologi Remaja, Beri Privasi dan Terus Berkomunikasi

(0)
11 Jul 2020|Azelia Trifiana
Memahami psikologi remaja adalah kunci berkomunikasi dengan merekaDengan memahami psikologi remaja Anda dapat berkomunikasi dengan mereka lebih baik
Dari seluruh fase usia anak, banyak yang menyebut peran orangtua ketika anak beranjak remaja adalah yang paling menantang. Saat memasuki fase remaja, itu adalah periode ketika anak tumbuh tak hanya secara fisik, tapi juga emosional dan intelektual. Memahami psikologi remaja bukan hanya teori, tapi harus diimplementasikan oleh orangtua.Kesampingkan dulu pandangan negatif tentang anak remaja yang suka berulah. Justru, saat berada di periode remaja ini mereka sangat berenergi, kritis, idealis, dan punya ketertarikan besar terhadap apa yang benar dan salah. Memang benar ini juga menjadi periode rentan konflik antara anak dan orangtua, namun memahami psikologi remaja akan membuat mereka menjadi pribadi yang berkarakter saat dewasa.

Cara memahami psikologi remaja

Usah risau ketika orangtua merasa bingung apa yang harus dilakukan ketika berhadapan dengan remaja dengan segala dinamikanya. Remaja tak bisa ditebak dan sudah pandai berargumen. Di saat bersamaan, remaja bisa menarik diri dari orangtua mereka untuk menjadi lebih independen.Lalu, bagaimana cara memahami psikologi remaja dengan tetap berada di posisi netral: tidak terlalu mencampuri atau menjauh dari mereka?

1. Bekali diri dengan ilmu

Jangan hanya bermodal nekat, tak ada salahnya membaca buku atau teori apapun tentang cara menghadapi remaja. Ingat pula bagaimana masa remaja Anda dulu. Jadi, jangan terkejut dengan mood swing anak remaja yang datang di saat tidak terduga.Semakin siap orangtua menghadapi fase remaja anak, tentu bisa lebih mudah mencari solusi ketika ada masalah. Tak harus berpatokan sama persis dengan teori, sesuaikan dengan karakter anak.

2. Sering berkomunikasi

Komunikasi adalah kunci keberhasilan orangtua ketika menghadapi psikologi remaja yang tak bisa ditebak. Ketika anak menarik diri, jangan ikut menutup diri. Tetap ajak anak berkomunikasi dan berbicara tentang semua perubahan yang mereka rasakan. Mulai dari menstruasi pertama kali hingga mimpi basah, jangan ada batasan untuk berbicara segala topik yang mereka rasakan.

3. Tak menganggap seks tabu

Di fase remaja, keingintahuan anak tentang hal seputar seksual semakin bertambah. Belum lagi fase pubertas yang bisa membuat anak merasakan cinta monyet dan perubahan bentuk fisik. Jangan jadikan seks sebagai tema yang tabu, hadirlah sebagai orang yang bisa menjawab rasa penasaran mereka sebagai teman.Apabila anak merasa bingung dengan perubahan fisik dirinya dan teman-temannya, bahas dengan detil. Sampaikan apa saja perubahan yang bisa terjadi dalam beberapa tahun ke depan. Apabila orangtua merasa tidak piawai menjawabnya, ada banyak psikolog atau buku soal seks remaja yang bisa membantu.

4. Posisikan diri sebagai remaja

Jangan selalu memposisikan diri sebagai orangtua yang punya perspektif berbeda dengan anak remaja. Justru, posisikan diri sebagai remaja sehingga bisa paham dengan dinamika yang terjadi dalam kehidupan mereka. Ketika anak mulai meminta izin melakukan hal seperti mewarnai rambut atau memakai kuteks hitam, jangan langsung menolaknya.Sebisa mungkin, pisahkan kapan harus bereaksi menolak keras ketika anak menunjukkan ketertarikan akan sesuatu. Selama tidak membahayakan, tak perlu langsung menolak. Namun ketika sudah mendekati hal berbahaya seperti merokok atau narkoba, ajak mereka bicara dari hati ke hati.

5. Bahas hal-hal sensitif

Tak hanya seputar seks, hal-hal sensitif seperti obat-obatan terlarang, minuman keras, dan rokok juga sebaiknya menjadi topik yang tidak lagi tabu dibicarakan. Sampaikan kepada anak bahwa akan ada orang-orang yang sudah mengonsumsi hal itu dan membangkitkan rasa penasaran mereka.Di saat yang sama, sampaikan apa saja dampak negatif dari konsumsi hal itu. Buat relasi dengan aktivitas mereka, seperti merokok akan membuat gigi rusak atau minum alkohol membuat mereka sulit memahami pelajaran di sekolah. Semakin sering dibahas, anak akan tahu mana yang benar dan salah.\

6. Hormati privasi

Semakin besar anak, hak mereka untuk mendapatkan privasi tentu kian besar. Ada banyak orangtua yang masih sulit menghormati privasi anak karena merasa mereka masih dalam tanggungan orangtua, khas helicopter parenting. Beri privasi kepada anak dengan tidak mengakses kamar, pesan teks, email, atau telepon masuk.Namun tentunya untuk alasan keamanan, sebaiknya orangtua tetap memantau ke mana anak pergi, siapa teman-teman mereka, apa yang dilakukan saat berada di luar. Tak perlu detil, hanya saja tetap pantau siapa saja teman-teman yang kerap bermain bersama anak. Kepercayaan akan membuat anak menjadi lebih bertanggung jawab.

7. Terapkan aturan

Ketika menghadapi remaja, aturan tegas juga perlu diterapkan. Contohnya dengan memberlakukan jam malam agar waktu tidur mereka tidak berkurang dan mengganggu konsentarsi belajar. Pun dengan penggunaan gadget, jangan sampai membuat mereka tidak tidur semalaman.Ketika anak sudah menginjak remaja, penerapan aturan harus diikuti dengan alasan logis. Sampaikan argumen orangtua mengapa aturan ini perlu diterapkan, dan apa akibatnya jika dilanggar. Tak hanya itu, alokasikan juga family time agar baik orangtua maupun anak tidak sibuk sendiri.Jika psikologi remaja berhasil dipahami dan terlewati dengan baik, anak akan tumbuh menjadi pribadi dewasa yang mandiri, bertanggung jawab, dan juga komunikatif. Jalani semuanya bersama-sama sesuai peran masing-masing agar periode remaja tidak melulu menjadi saat beradu argumen dengan orangtua.
test parentingibu dan anakgaya parenting
Kids Health. https://kidshealth.org/en/parents/adolescence.html
Diakses pada 27 Juni 2020
Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/sg/basics/adolescence
Diakses pada 27 Juni 2020
The Center for Parenting Education. https://centerforparentingeducation.org/library-of-articles/riding-the-waves-of-the-teen-years/riding-the-waves-of-the-teen-years-part-ii-understanding-your-adolescent/
Diakses pada 27 Juni 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait