logo-sehatq
logo-kementerian-kesehatan
SehatQ for Corporate
TokoObatArtikelTindakan MedisDokterRumah SakitPenyakitChat DokterPromo
Parenting

Perkembangan Psikologi Remaja dan Cara Memahaminya

open-summary

Psikologi remaja mengalami perkembangan pada aspek emosional maupun sosial. Ia mulai mencari jati dirinya, dan tak jarang untuk memberontak sehingga harus orangtua perhatikan.


close-summary

4.67

(3)

8 Feb 2022

| Azelia Trifiana

Ditinjau oleh dr. Anandika Pawitri

Memahami psikologi remaja adalah kunci berkomunikasi dengan mereka

Dengan memahami psikologi remaja Anda dapat berkomunikasi dengan mereka lebih baik

Table of Content

  • Perkembangan psikologi remaja
  • Penyebab remaja memberontak
  • Cara memahami psikologi remaja

Remaja adalah masa transisi dari anak-anak menuju dewasa yang terjadi pada usia 10-19 tahun. Bukan hanya fisik, pada masa ini terjadi perkembangan psikologi remaja dalam aspek emosional maupun sosial.

Advertisement

Saat berada di periode ini, remaja sangat berenergi, kritis, idealis, dan punya ketertarikan besar terhadap apa yang benar dan salah. 

Memang benar ini juga menjadi periode rentan konflik antara anak dan orangtua, tetapi memahami psikologi remaja akan membuat mereka menjadi pribadi yang berkarakter saat dewasa.

Perkembangan psikologi remaja

perkembangan psikologi remaja
Perkembangan psikologi remaja berbeda berdasarkan usianya

Perkembangan psikologi remaja diklasifikasikan berdasarkan usianya:

1. Psikologi remaja usia 10-13 tahun

Dalam tahap perkembangan remaja awal ini, anak baru memasuki masa pubertas. Fisik remaja mengalami berbagai perubahan, seperti payudara tumbuh, tubuh semakin tinggi, muncul bulu kemaluan, dan lainnya.

Perubahan psikologis pada remaja di usia 10-13 tahun, di antaranya:

  • Membentuk persahabatan yang lebih kuat dan kompleks
  • Mulai mencari identitas diri yang membuatnya merasa nyaman
  • Merasa membutuhkan privasi sehingga memberi batasan tertentu pada orangtua
  • Mulai peduli dengan penampilan dan tubuhnya karena perubahan yang terjadi pada masa puber.

2. Psikologi remaja usia 14-17 tahun

Perkembangan remaja dalam tahap pertengahan ini terus berlanjut. Bukan hanya fisiknya, perubahan psikologi remaja semakin terlihat karena mulai membangun identitas dirinya. Lantas, perubahan psikologi apa yang terjadi pada remaja?

Berikut perkembangan remaja dalam aspek psikologi pada usia 14-17 tahun:

  • Tertarik menjalin hubungan romantis (pacaran) ataupun secara seksual
  • Menunjukkan kemandirian agar tidak terus bergantung pada orangtua
  • Suasana hati berubah-ubah
  • Lebih banyak menghabiskan waktu dengan teman
  • Mulai bisa berpikir dengan logika, tapi sering terdorong oleh emosi sehingga bisa melakukan hal-hal berisiko, seperti mabuk-mabukan atau seks bebas.

3. Psikologi remaja usia 18-19 tahun

Pada usia remaja akhir ini, perkembangan fisiknya telah selesai. Sementara itu, perubahan psikologis pada remaja lebih terkendali dibandingkan usia sebelumnya sehingga tidak bertindak gegabah, dan sudah memahami sebab akibat dari suatu kejadian.

Adapun perkembangan psikologi remaja di usia 18-19 tahun, yaitu:

  • Dapat mengendalikan impuls dengan lebih baik
  • Memikirkan risiko dan masa depan
  • Hubungan dengan lawan jenis menjadi serius
  • Emosi berangsur stabil
  • Semakin mandiri
  • Bisa membuat keputusan sendiri dengan mempertimbangkan berbagai hal.

Terkadang, bisa terjadi masalah dalam psikologi anak remaja, seperti kecemasan, depresi, sulit fokus, dan lainnya. Penting bagi orangtua untuk mendampingi remaja dalam masa ini, tetapi jangan sampai membuatnya merasa tidak nyaman.

Penyebab remaja memberontak

anak bertengkar dengan orangtua
Pertengkaran dengan orangtua menyebabkan anak memberontak

Pertengkaran orangtua dengan anak remaja bisa membuatnya memberontak bahkan ingin kabur dari rumah. Hal ini dilakukan sebagai upaya pemecahan masalah terakhir yang dilakukannya.

Berikut adalah beberapa penyebab remaja memberontak:

  • Keinginan untuk lebih mandiri

Remaja berada di masa transisi antara menjadi dewasa dan anak-anak. Fase ini menyebabkan lonjakan motivasi untuk lebih mandiri sehingga terkadang membuatnya membangkang terhadap aturan dan tidak mendengarkan orangtua.

  • Merasa dibatasi oleh aturan dari orangtua

Perkembangan kepribadian remaja juga bisa membuatnya memberontak karena merasa kebebasannya dibatasi oleh aturan dari orangtua. Ia mempertanyakan alasan di balik aturan tersebut. Anak remaja juga mungkin menyukai hal-hal yang tidak disetujui oleh orangtua sehingga memicu timbulnya konflik.

  • Membuat keputusan impulsif

Perubahan psikologi pada remaja cenderung membuat mereka mengambil keputusan yang impulsif

Sebagai konsekuensinya, anak remaja bisa melanggar aturan dan mengabaikan risiko atas suatu perbuatan buruk. Keputusan impulsif juga dapat menyebabkan mereka kabur dari rumah untuk menjauhi orangtuanya.

  • Tekanan pergaulan

Remaja terkadang lebih peduli terhadap pendapat kelompok pertemanannya. Ia mungkin melakukan hal-hal yang buruk untuk menyenangkan teman-temannya tersebut meskipun ditentang oleh orangtua.

  • Perubahan struktur otak

Koneksi antara neuron otak tidak berkembang sepenuhnya sampai pertengahan usia 20-an. Efeknya diperparah dengan dampak pubertas pada otak. 

Struktur saraf yang belum matang dengan perubahan konstan dalam desain otak mempengaruhi pengambilan keputusan remaja yang mengarah pada perilaku memberontak.

  • Perubahan hormon

Perubahan hormon pada remaja dapat menyebabkan perubahan drastis dalam proses berpikir. Hormon seks yang dimilikinya berdampak pada fungsi otak, serta memiliki efek pada neurotransmitter yang memicu masalah suasana hati dan perilaku.

Baca Juga

  • Cara Menyenangkan Menanamkan Pengertian Tanggung Jawab pada Si Kecil,
  • Sederhana, Ini Cara Menghormati Orang Tua yang Bisa Diterapkan Sehari-hari
  • Perkembangan Sosial Anak yang Harus Orangtua Ketahui

Cara memahami psikologi remaja

ibu dan remaja perempuan
Ajak anak remaja berkomunikasi dengan tepat

Tidak sedikit orangtua yang merasa bingung mengenai apa yang harus dilakukan ketika berhadapan dengan remaja dengan segala dinamikanya.

Remaja tak bisa ditebak dan sudah pandai berargumen. Di saat bersamaan, mereka bisa menarik diri dari orangtua mereka untuk menjadi lebih independen.

Lalu, bagaimana cara memahami psikologi remaja dengan tetap berada di posisi netral: tidak terlalu mencampuri atau menjauh dari mereka?

1. Bekali diri dengan ilmu

Jangan hanya bermodal nekat, tak ada salahnya membaca buku atau teori apapun tentang cara menghadapi remaja. Ingat pula bagaimana masa remaja Anda dulu. Jadi, jangan terkejut dengan mood swing anak remaja yang datang di saat tidak terduga.

Semakin siap orangtua menghadapi perkembangan masa remaja anak, tentu bisa lebih mudah mencari solusi ketika ada masalah. Tak harus berpatokan sama persis dengan teori, sesuaikan dengan karakter anak.

2. Sering berkomunikasi

Komunikasi adalah kunci keberhasilan orangtua ketika menghadapi perkembangan emosi remaja yang tak bisa ditebak.

Ketika anak menarik diri, jangan ikut menutup diri. Tetap ajak anak berkomunikasi dan berbicara tentang semua perubahan yang mereka rasakan.

Mulai dari menstruasi pertama kali hingga mimpi basah, jangan ada batasan untuk berbicara segala topik yang mereka rasakan. Selain itu, tetap berikan perhatian pada anak sebagai bentuk kasih sayang.

3. Tak menganggap seks tabu

Di fase remaja, keingintahuan anak tentang hal seputar seksual semakin bertambah. Belum lagi fase pubertas yang bisa membuat anak merasakan cinta monyet dan perubahan bentuk fisik.

Jangan jadikan seks sebagai tema yang tabu, hadirlah sebagai orang yang bisa menjawab rasa penasaran mereka sebagai teman.

Apabila anak merasa bingung dengan perubahan fisik dirinya dan teman-temannya, bahas dengan detil. Sampaikan apa saja perubahan yang bisa terjadi dalam beberapa tahun ke depan.

Jika orangtua merasa tidak piawai menjawabnya, ada banyak psikolog atau buku soal seks remaja yang bisa membantu. Memberikan pendidikan seks pada anak diketahui dapat mencegah anak terkena pelecehan dan atau penyimpangan seksual.

4. Posisikan diri sebagai remaja

Jangan selalu memposisikan diri sebagai orangtua yang punya perspektif berbeda dengan anak remaja. Justru, posisikan diri sebagai remaja sehingga bisa paham dengan dinamika yang terjadi dalam kehidupan mereka.

Ketika anak mulai meminta izin melakukan hal seperti mewarnai rambut atau memakai kuteks hitam, jangan langsung menolaknya.

Sebisa mungkin, pisahkan kapan harus bereaksi menolak keras ketika anak menunjukkan ketertarikan akan sesuatu. Selama tingkah laku anak tidak membahayakan, tak perlu langsung menolak.

Namun, ketika sudah mendekati hal berbahaya seperti merokok atau narkoba, ajak mereka bicara dari hati ke hati.

5. Bahas hal-hal sensitif

Tak hanya seputar seks, hal-hal sensitif seperti obat-obatan terlarang, minuman keras, dan rokok juga sebaiknya menjadi topik yang tidak lagi tabu dibicarakan. Sampaikan kepada anak bahwa akan ada orang-orang yang sudah mengonsumsi hal itu dan membangkitkan rasa penasaran mereka.

Di saat yang sama, sampaikan apa saja dampak negatif dari konsumsi hal itu. Buat relasi dengan aktivitas mereka, seperti merokok akan membuat gigi rusak atau minum alkohol membuat mereka sulit memahami pelajaran di sekolah. Semakin sering dibahas, anak akan tahu mana yang benar dan salah.

6. Hormati privasi

Semakin besar anak, hak mereka untuk mendapatkan privasi tentu kian besar. Ada banyak orangtua yang masih sulit menghormati privasi anak karena merasa mereka masih dalam tanggungan orangtua, khas helicopter parenting. Beri privasi kepada anak dengan tidak mengakses kamar, pesan teks, email, atau telepon masuk.

Namun, tentunya untuk alasan keamanan, sebaiknya orangtua tetap memantau ke mana anak pergi, siapa teman-teman mereka, apa yang dilakukan saat berada di luar.

Tak perlu detil, hanya saja tetap pantau siapa saja teman-teman yang kerap bermain bersama anak. Kepercayaan akan membuat anak menjadi lebih bertanggung jawab.

7. Terapkan aturan

Ketika menghadapi remaja, aturan tegas juga perlu diterapkan. Contohnya dengan memberlakukan jam malam agar waktu tidur mereka tidak berkurang dan mengganggu konsentarsi belajar. Pun dengan penggunaan gadget, jangan sampai membuat mereka tidak tidur semalaman.

Ketika anak sudah menginjak remaja, penerapan aturan harus diikuti dengan alasan logis. Sampaikan argumen orangtua mengapa aturan ini perlu diterapkan, dan apa akibatnya jika dilanggar. Tak hanya itu, alokasikan juga family time agar baik orangtua maupun anak tidak sibuk sendiri.

Tak ada salahnya juga untuk melakukan konsultasi psikologi remaja. Jika psikologi remaja dan permasalahannya berhasil dipahami dan terlewati dengan baik, anak akan tumbuh menjadi pribadi dewasa yang mandiri, bertanggung jawab, dan komunikatif.

Jalani semuanya bersama-sama sesuai peran masing-masing agar periode remaja tidak melulu menjadi saat beradu argumen dengan orangtua.

Sementara itu, apabila Anda memiliki pertanyaan seputar kesehatan remaja, jangan ragu untuk bertanya dengan dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ secara gratis. Unduh di App Store atau Google Play sekarang juga.

Advertisement

test parentingibu dan anakgaya parenting

Referensi

Terima kasih sudah membaca.

Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?

(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Bagikan

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Advertisement

logo-sehatq

Langganan Newsletter

Jadi orang yang pertama tahu info & promosi kesehatan terbaru dari SehatQ. Gratis.

Metode Pembayaran

Bank BCABank MandiriBank BNIBank Permata
Credit Card VisaCredit Card Master CardCredit Card American ExpressCredit Card JCBGopay

Fitur

  • Toko
  • Produk Toko
  • Kategori Toko
  • Toko Merchant
  • Booking
  • Promo
  • Artikel
  • Chat Dokter
  • Penyakit
  • Forum
  • Review
  • Tes Kesehatan

Perusahaan

Follow us on

  • FacebookFacebook
  • TwitterTwitter
  • InstagramInstagram
  • YoutubeYoutube
  • LinkedinLinkedin

Download SehatQ App

Temukan di APP StoreTemukan di Play Store

Butuh Bantuan?

Jam operasional: 07.00 - 20.00

Hubungi Kami+6221-27899827

Kumpulan Artikel dan Forum

© SehatQ, 2022. All Rights Reserved