Tidak Sulit! Inilah Cara Merawat Bayi dengan Hernia Umbilikalis

Bayi dengan hernia umbilikalis memiliki tonjolan pada pusar
Tonjolon pada pusar bayi disebabkan oleh hernia umbilikalis

Bukan hanya pada orang dewasa, hernia juga dapat terjadi pada bayi. Salah satu jenis hernia yang sering terjadi pada bayi adalah hernia umbilikalis. Bahkan sekitar 20% bayi baru lahir mengalami kondisi yang juga disebut pusar bodong ini.

Hernia umbilikalis biasanya tidak menimbulkan nyeri dan dapat sembuh sendiri. Sekitar 90% bayi dengan hernia umbilikalis akan kembali normal pada usia 1-4 tahun. Namun, jika hernia umbilikalis yang dialami bayi semakin membesar, berubah warna, dan terasa sakit, maka orangtua perlu waspada.

Merawat bayi yang terkena hernia umbilikalis

Bayi baru lahir, terutama bayi prematur, memiliki dinding perut yang lemah sehingga ketika lubang di otot perut tidak tertutup dengan sempurna. Kondisi ini menyebabkan usus terdorong keluar dan menimbulkan tonjolan di sekitar pusar. Tonjolan ini disebut dengan hernia umbilikalis.

Jika usus terperangkap dan tak bisa kembali ke dalam rongga perut, komplikasi berat seperti kematian jaringan usus dan infeksi bisa terjadi. Kondisi ini tergolong berbahaya dan dapat mengancam nyawa penderitanya.

Akan tetapi, Anda tidak perlu terlalu khawatir karena bagi sebagian besar bayi, hernia umbilikalis dapat pulih sendiri tanpa perawatan. Bahkan ketika membawa bayi melakukan pemeriksaan fisik, terkadang dokter dapat mendorong tonjolan tersebut kembali ke perut. Namun, jangan mencoba melakukannya sendiri pada bayi Anda.

Cara merawat bayi yang terkena hernia umbilikalis tentu tidak boleh sembarangan. Anda harus menggunakan waslap untuk membersihkan pusar bayi secara hati-hati. Tidak perlu menggunakan sabun atau menggosoknya terlalu keras karena dapat menyebabkan iritasi dan peradangan pada tonjolan pusar.

Selain itu, jangan menempelkan koin pada pusar bayi karena dapat membuat kuman menumpuk dan menyebabkan infeksi. Selama ini, banyak masyarakat yang percaya bahwa menempelkan koin pada pusar bayi yang bodong dapat mengembalikannya menjadi normal. Padahal hal tersebut tidak terbukti manfaatnya, malah bisa menimbulkan masalah baru dengan risiko infeksi.

Sistem kekebalan tubuh bayi masih lemah, jadi sebaiknya Anda jangan mencoba hal-hal yang dapat berakibat buruk. Konsultasikan kepada dokter bila bayi Anda mengalami hernia umbilikalis. Selain itu, jika ada perubahan yang terjadi pada bayi, seperti lebih rewel, sering menangis, atau sulit menyusu, sampaikan juga hal tersebut kepada dokter.

Operasi hernia umbilikalis

Karena sebagian besar kasus hernia umbilikalis pada bayi akan sembuh dengan sendirinya, maka tindakan operasi tidak disarankan pada bayi. Dokter akan menyarankan Anda untuk memantau tonjolan tersebut hingga bayi berusia sekitar 4 tahun. Operasi hernia umbilikalis hanya diperlukan jika:

  • Tonjolan terasa menyakitkan
  • Diameter tonjolan lebih besar dari 1-2 cm
  • Saat bayi menginjak usia 2 tahun, ukurannya tidak berkurang bahkan menjadi besar
  • Hernia tumbuh setelah bayi berusia 1-2 tahun
  • Tonjolan masih ada hingga usia 4 tahun
  • Pergerakan usus menjadi berkurang
  • Tonjolan menjadi terperangkap dan sulit kembali

Operasi hernia umbilikalis tergolong operasi kecil dan prosesnya terbilang cepat karena hanya membutuhkan waktu sekitar 20-30 menit. Prosedur ini dilakukan untuk mendorong tonjolan usus di pusar kembali ke dalam perut dengan membuat sayatan kecil tepat di bawah pusar.

Lalu, dokter akan menutup titik lemah pada dinding otot perut dengan jahitan yang kuat. Setelah itu, luka sayatan kecil pun ditutup dengan lem bedah. Prosedur ini tentu saja membutuhkan anestesi sehingga ketika operasi dilakukan, tidak akan terasa sakit.

Namun, setelah melakukan operasi, dapat timbul sedikit rasa nyeri di sekitar bekas luka sayatan. Anda dapat memberinya obat penghilang rasa sakit untuk membantu meringankan nyerinya. Segera hubungi dokter jika setelah operasi timbul gejala berikut ini:

  • Demam
  • Kemerahan, bengkak, dan nyeri
  • Terdapat tonjolan kembali di sekitar pusar
  • Ada darah atau cairan berbau yang keluar di luka bekas sayatan
  • Mual dan muntah
  • Diare atau sembelit yang tak kunjung membaik

Beberapa kondisi di atas dapat menjadi tanda bahwa adanya infeksi pascaoperasi. Oleh sebab itu, masalah ini perlu segera diatasi. Selain itu, lakukan tindakan pencegahan seperti menghindari luka bekas sayatan operasi dari air agar cepat kering dan pulih.

Untuk mengetahui biaya operasi hernia umbilikalis, sebaiknya Anda bertanya secara langsung kepada pihak rumah sakit terkait dengan estimasi biaya dan administrasi yang diperlukan jika ingin melakukan prosedur operasi ini. Oleh sebab itu, Anda pun bisa melakukan persiapan sebaik mungkin agar operasi hernia umbilikalis bayi Anda berjalan dengan lancar.

Healthline. https://www.healthline.com/health/umbilical-hernia
Diakses pada 16 Agustus 2019

Healthline. https://www.healthline.com/health/parenting/baby-belly-button#how-to-clean
Diakses pada 16 Agustus 2019

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/umbilical-hernia/diagnosis-treatment/drc-20378689
Diakses pada 16 Agustus 2019

Web MD. https://www.webmd.com/parenting/baby/what-are-umbilical-hernias#1
Diakses pada 16 Agustus 2019

Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/189580.php
Diakses pada 16 Agustus 2019

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Banner Telemed