Cara Mengobati Tipes atau Demam Tifoid yang Umum Terjadi di Indonesia

Cara mengobati tipes atau demam tifoid adalah konsumsi antibiotik, diiringi dengan konsumsi air putih yang cukup
Tipes atau demam tifoid dapat diobati dengan pemberian antibiotik

Tipes atau demam tifoid merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri Salmonellia typhi, dan mungkin sudah dikenal di Indonesia. Infeksi ini dapat menimbulkan demam bersuhu tinggi, sakit kepala, sakit perut, mual, konstipasi, maupun diare. Penting bagi kita untuk tahu cara mengobati tipes yang akan diberikan dokter.

Sebagai informasi, infeksi bakteri Salmonellia typhi penyebab tipes atau demam tifoid berpindah melalui makanan atau air yang sudah terkontaminasi, serta kontak dekat dengan penderita penyakit ini.

Cara mengobati tipes yang mungkin disarankan dokter

Dalam mengobati tipes atau demam tifoid, pemberian antibiotik merupakan penanganan utama yang umum dilakukan dokter. Pasien mungkin juga akan menerima terapi pendukung seperti pemberian cairan dan konsumsi obat untuk mengatasi gejala tipes (seperti obat demam).

1. Mengonsumsi antibiotik

Antibiotik merupakan cara yang paling efektif untuk mengobati tipes. Dengan penanganan menggunakan antibiotik, biasanya akan ada peningkatan kondisi pasien dalam satu hingga dua hari, serta pemulihan dalam tujuh hingga sepuluh hari.

Beberapa antibiotik yang umum diberikan, yaitu:

  • Siprofloksasin (ciprofloxacin) merupakan antibiotik yang mungkin umum dikonsumsi untuk mengobati tipes. Obat ini termasuk dalam kelas fluoroquinolone. Beberapa antibiotik lain yang termasuk fluoroquinolone yaitu levofloksasin dan moksifloksasin.
  • Seftriakson (ceftriaxone). Merupakan jenis antibiotik yang diberikan secara injeksi pada infeksi tipes yang lebih serius. Antibiotik ini mungkin juga diberikan apabila pasien tidak dapat mengonsumsi siprofloksasin, seperti pada anak-anak.
  • Azitromisin. Jenis antibiotik ini mungkin diberikan pada pasien tipes apabila ia tidak bisa mengonsumsi siprofloksasin, atau jika bakteri penyebab tipes sudah resisten terhadap siprofloksasin.
Obat antibiotik untuk mengobati tipes
Antibiotik sangat krusial dalam mengobati tipes atau demam tifoid

Penting untuk diingat bahwa konsumsi obat-obatan, termasuk antibiotik, dapat menimbulkan efek samping. Penggunaan jangka panjang juga dapat memicu pertumbuhan strain bakteri yang resisten terhadap antibiotik.

2. Mencukupi kebutuhan air putih

Menjaga kecukupan air putih sangat vital dalam penanganan dan pengobatan tipes. Kecukupan cairan membantu mencegah dehidrasi, yang sering terjadi karena demam dan diare. Apabila pasien demam tifoid atau tipes mengalami dehidrasi yang sangat parah, dokter mungkin akan memberikan cairan secara intravena.

Komplikasi tipes jika tidak ditangani

Demam tifoid dapat menimbulkan komplikasi apabila pasiennya tidak mendapatkan pengobatan. Komplikasi ini mungkin juga dapat terjadi walau infeksi yang dialami bersifat ringan sekalipun.

Beberapa komplikasi tersebut, yaitu:

  • Perdarahan usus
  • Usus pecah
  • Infeksi hati
  • Gagal ginjal
  • Infeksi pada sistem saraf

Bagaimana cara mencegah tipes?

Ada beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk mencegah tipes atau demam tifoid, serta menurunkan risikonya. Beberapa di antaranya, yaitu:

1. Mendapatkan vaksin

Vaksin membantu kita untuk menurunkan risiko terinfeksi bakteri penyebab tipes. Vaksin ini juga penting dilakukan apabila Anda berencana untuk melakukan perjalanan di area yang risikonya tinggi.

Terdapat dua jenis vaksin demam tifoid, yakni:

  • Vaksin tifoid injeksi, bisa didapatkan satu minggu sebelum melakukan perjalanan
  • Vaksin tifoid oral

Penting untuk diingat bahwa efektivitas vaksin tipes bisa berkurang seiring berjalannya waktu. Dengan begitu, kita direkomendasikan untuk mendapatkan vaksin booster, bisa setiap dua tahun untuk vaksin injeksi dan setiap lima tahun untuk vaksin oral.

Vaksin demam tifoid efektif untuk menurunkan risiko infeksi ini hingga 80%. Karena tidak menjamin 100%, kita juga harus memerhatikan kebersihan makanan dan penerapan hidup bersih lainnya.

2. Memerhatikan kebersihan makanan

Karena kita bisa terinfeksi Salmonella typhi dari makanan dan air yang terkontaminasi, menjaga kebersihan makanan sangat vital untuk menurunkan risiko tipes. Beberapa tips untuk menjaga higienitas pangan, yaitu:

  • Konsumsi makanan yang benar-benar dimasak dan disajikan hangat
  • Hindari produk susu yang tidak dipasteurisasi
  • Hindari konsumsi makanan mentah atau kurang matang
  • Cuci dan kupas buah dan sayuran
  • Pastikan Anda hanya mengonsumsi air minum dalam kemasan yang tersegel rapat, serta air yang memang sudah dimasak

3. Terapkan gaya hidup bersih

Selain vaksin dan menjaga kebersihan makanan, kita juga bisa menurunkan risiko tipes dengan cara berikut:

  • Rajin mencuci tangan, terutama setelah menggunakan kamar mandi dan sebelum makan
  • Hindari menyentuh mulut atau hidung
  • Bawa pembersih tangan setiap saat, sebagai antisipasi jika sabun dan air tidak tersedia
  • Hindari kontak dengan orang yang memiliki gejala demam tifoid
Cuci tangan untuk mencegah tipes
Mencuci tangan hingga bersih krusial dalam pencegahan berbagai penyakit, termasuk tipes

Catatan dari SehatQ

Demam tifoid atau tipes merupakan infeksi bakteri yang cukup sering terjadi di Indonesia. Cara mengobati tipes bisa dilakukan dengan konsumsi antibiotik. Namun, pada akhirnya, gaya hidup bersih dan mendapatkan vaksin amat krusial agar kita terhindar dari penyakit ini.

Cleveland Clinic. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/17730-typhoid-fever
Diakses pada 28 Februari 2020

Healthline. https://www.healthline.com/health/is-typhoid-contagious
Diakses pada 28 Februari 2020

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/typhoid-fever
Diakses pada 28 Februari 2020

Medicine Net. https://www.medicinenet.com/typhoid_fever/article.htm
Diakses pada 28 Februari 2020

Merck Manuals. https://www.merckmanuals.com/home/infections/bacterial-infections-gram-negative-bacteria/typhoid-fever
Diakses pada 28 Februari 2020

Patient Info. https://patient.info/travel-and-vaccinations/typhoid-and-paratyphoid-fever-leaflet
Diakses pada 28 Februari 2020

Artikel Terkait