Cara Menghilangkan Trauma pada Anak yang Perlu Dipahami Orangtua

Cara menghilangkan trauma pada anak
Trauma pada anak disebabkan oleh peristiwa-peristiwa buruk yang menimpanya

Trauma bukanlah hal yang mudah dilewati oleh anak-anak. Anak yang mengalami trauma bisa merasa tertekan dan dihantui oleh peristiwa yang membuatnya trauma. Kondisi ini bahkan mengganggu perkembangan mereka.

Trauma pada anak bisa terus berlanjut hingga ia menjadi orang dewasa. Di sinilah peran orangtua sangat diperlukan untuk melakukan berbagai terapi dan cara menghilangkan trauma pada anak.

Cara menghilangkan trauma pada anak

Berapa pun usia anak, penting bagi orangtua untuk mendukungnya menghilangkan rasa trauma. Dengan kasih sayang dan perhatian Anda, trauma anak dapat memudar secara perlahan dan kembali normal.

Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk membantu anak menghilangkan trauma. Beberapa cara menghilangkan trauma pada anak, di antaranya:

1. Memberi perhatian lebih

Anda tidak dapat memaksa anak untuk menghilangkan traumanya, namun cobalah untuk berperan aktif dalam proses penyembuhannya dengan menghabiskan waktu bersama dan mengobrol.

Memberikan rasa aman pada anak bisa membuantnya nyaman menyampaikan apa yang dirasakannya dan mengajukan pertanyaan pada Anda. Namun, jangan paksa anak untuk berbicara karena mereka mungkin sulit mengungkapkannya.

Anda dapat meminta mereka menggambarkannya, dan berbicara tentang apa yang digambarnya. Ketika anak bertanya, Anda harus menjawabnya dengan jujur agar anak tidak merasa kecewa jika mengetahui Anda berbohong.

2. Mengajak anak melakukan aktivitas fisik

Aktivitas fisik dipercaya bisa melepaskan endorfin yang mampu meningkatkan suasana hati dan dan membantu anak tidur lebih nyenyak. Ajaklah anak melakukan olahraga yang ia sukai, seperti berenang, sepak bola, bulu tangkis, dan lainnya.

Bergerak aktif dapat membantu membangunkan sistem saraf anak yang terhambat karena kejadian traumatis. Selain itu, Anda juga dapat mengajak anak pergi ke taman bermain, menonton film atau bertamasya untuk membuatnya bahagia. Membuat lebih banyak kegiatan menyenangkan untuk dikenang dapat membantu untuk menggantikan ingatan akan trauma masa lalu yang buruk.

3. Memberi asupan yang baik

Makanan yang dikonsumsi anak dapat memengaruhi suasana hati dan kemampuan anak untuk mengatasi stres. Memberi anak asupan yang baik, seperti buah dan sayur segar, protein berkualitas tinggi, dan lemak sehat bisa memperbaiki suasana hati anak dan meringankan gejala traumanya.

Sebaiknya, masaklah makanan di rumah karena makanan di luar memiliki lebih banyak gula dan lemak tidak sehat. Hal ini tentu dapat berdampak pada kesehatan anak.

Ketika waktu makan, ajaklah anak untuk makan bersama dengan seluruh anggota keluarga. Kebiasaan ini dapat meningkatkan kedekatan bersama anak dan membuatnya merasa aman.

4. Bantu membangun kembali rasa aman dan percaya

Trauma dapat membuat anak merasa lebih sulit memercayai lingkungan sekitarnya dan membuatnya merasa tidak aman. Bantulah anak untuk membangun kembali rasa aman dan percaya.

Tunjukkan kepada anak bahwa Anda akan melakukan apa pun untuk membuatnya merasa aman. Beri pengertian pada anak bahwa peristiwa traumatis sudah berlalu, dan sudah saatnya bagi mereka untuk kembali hidup seperti biasanya.

Pada dasarnya adalah bukan melupakan trauma tersebut, tapi bagaimana ketika trauma itu muncul anak tak lagi merasakan rasa sedih, cemas, dan khawatir. Oleh karena itu, memang diperlukan dukungan lebih untuk mencapai hal tersebut sehingga kondisi psikologis anak pun berangsur membaik.

5. Setiap anak memiliki reaksi berbeda terhadap trauma

Setiap anap memiliki reaksi yang berbeda-beda saat memiliki trauma. Perasaan mereka bisa datang dan pergi secara tiba-tiba. Anak Anda mungkin murung dan menarik diri pada waktu-waktu tertentu, membeku karena kesedihan dan ketakutan di waktu lain.

Tidak ada perasaan "benar" atau "salah" setelah peristiwa traumatis, sebaiknya jangan mendikte apa yang seharusnya dipikirkan atau dirasakan oleh anak Anda.

6. Dorong anak untuk membagi apa yang mereka rasakan

Biarkan mereka tahu bahwa perasaan apa pun yang mereka alami adalah normal. Bahkan perasaan tidak menyenangkan akan berlalu jika anak Anda terbuka tentangnya.

Sementara banyak remaja mungkin enggan membicarakan perasaan mereka dengan orang tua, dorong mereka untuk menceritakan kepada orang dewasa yang dipercaya lainnya seperti teman keluarga, kerabat, guru, atau tokoh agama.

7. Biarkan mereka berduka

Berikan anak Anda waktu untuk menyembuhkan dan meratapi kehilangan yang mungkin mereka alami sebagai akibat dari bencana atau peristiwa traumatis. Itu bisa berupa kehilangan teman, kerabat, hewan peliharaan, rumah, atau hanya dengan cara hidup mereka dulu.

Bagaimana trauma pada anak terjadi?

Trauma masa kecil dapat memiliki dampak seumur hidup, meski sebagian anak mungkin terlihat lebih kuat menghadapinya. Terdapat banyak pengalaman buruk yang dapat membentuk trauma pada anak.

Pelecehan fisik atau seksual, kecelakaan, dan bencana alam yang sangat parah merupakan contoh-contoh peristiwa yang menyebabkan anak trauma. Selain itu, tinggal di lingkungan yang tidak aman atau menjadi korban bullying pun bisa meninggalkan trauma pada diri anak.

Munculnya trauma tidak hanya disebabkan oleh hal yang menimpa diri anak, namun melihat orang yang disayanginya menderita juga dapat membuat anak mengalami trauma. Paparan media yang menunjukkan kekerasan pun mampu membuat anak-anak trauma.

Sebagian besar anak akan mengalami kesulitan setelah melewati peristiwa traumatis. Berdasarkan sebuah penelitian, sekitar 3-15 persen anak perempuan dan 1-6 persen anak laki-laki mengalami gangguan stres pascatrauma atau post-traumatic stress disorder (PTSD). Anak-anak dengan PTSD dapat menunjukkan gejala-gejala berikut:

Takut

Marah

Menyakiti diri sendiri

Merasa terisolasi

Mimpi buruk

Depresi

Gelisah

Sulit mempercayai orang lain

Merasa harga diri rendah.

Sementara itu, anak-anak yang tidak mengalami PTSD juga dapat menunjukkan masalah emosional dan perilaku setelah terjadinya peristiwa traumatis.

Terdapat beberapa hal pada anak yang harus diwaspadai selama beberapa minggu atau bulan setelah kejadian, seperti adanya pikiran tentang kematian, mengalami masalah tidur, perubahan nafsu makan, tidak mau sekolah, kehilangan minat untuk beraktivitas seperti biasa, cepat marah, terlihat penuh kesedihan, dan takut akan hal lain.

Trauma dapat memengaruhi perkembangan otak anak yang bisa bertahan seumur hidup. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa semakin banyak pengalaman buruk yang dialami anak, semakin tinggi risiko masalah kesehatannya kelak. Trauma masa kecil dapat meningkatkan berbagai risiko penyakit, seperti asma, depresi, jantung koroner, stroke, dan diabetes.

Jika trauma anak tak kunjung hilang atau mengganggu kehidupannya sehari-hari, sebaiknya bawa anak Anda ke psikolog atau psikiater yang dapat menangani masalahnya dengan tepat. Jangan lupa untuk selalu menunjukkan perhatian dan kasih sayang Anda pada mereka.

Very Well Mind. https://www.verywellmind.com/what-are-the-effects-of-childhood-trauma-4147640
Diakses pada 06 November 2019

Help Guide. https://www.helpguide.org/articles/ptsd-trauma/helping-children-cope-with-traumatic-stress.htm
Diakses pada 06 November 2019

Artikel Terkait