3 Kunci Induksi Laktasi Sebagai Cara Mengeluarkan ASI Tanpa Harus Hamil


Di dunia menyusui, ada yang disebut induksi laktasi yaitu istilah resmi untuk cara mengeluarkan ASI tanpa harus hamil dan melahirkan. Induksi laktasi adalah memberikan stimulasi dan mengosongkan payudara. Metodenya mulai dari terapi hormon hingga memerah payudara.

0,0
08 Jun 2021|Azelia Trifiana
Cara mengeluarkan ASI tanpa harus hamilInduksi laktasi adalah proses yang membantu mengeluarkan ASI tanpa harus hamil
Di dunia menyusui, ada yang disebut induksi laktasi yaitu istilah resmi untuk cara mengeluarkan ASI tanpa harus hamil dan melahirkan. Induksi laktasi adalah memberikan stimulasi dan mengosongkan payudara. Metodenya mulai dari terapi hormon hingga memerah payudara.
Sudah ada sejak zaman dahulu, sebenarnya banyak alasan mengapa seorang perempuan berupaya memberikan ASI meski tanpa hamil dan melahirkan. Umumnya, ini merupakan upaya dari ibu yang mengadopsi anak.

Cara mengeluarkan ASI tanpa harus hamil

Proses induksi laktasi bagi perempuan yang tidak hamil dan melahirkan bisa dimulai langsung setelah memutuskan untuk mengadopsi anak. Beberapa metode induksi laktasi yang umum menjadi pilihan di antaranya:

1. Konsumsi obat dan suplemen

Beberapa ibu memilih untuk mengonsumsi obat atau suplemen sebagai upaya induksi laktasi. Namun, ini sifatnya tidak wajib. Belum tentu pula konsumsi suplemen seperti asam folat lebih efektif ketimbang metode-metode lain dalam memberikan stimulasi pada payudara.

2. Terapi hormon

Melakukan terapi hormon juga merupakan salah satu pilihan untuk induksi laktasi. Tujuannya adalah agar jaringan glandular payudara bisa tumbuh dan berkembang.Dengan demikian, jaringan pun siap untuk memproduksi ASI. Durasi dan frekuensi terapi hormon perlu dikonsultasikan terlebih dahulu dengan dokter. Biasanya, ibu akan berhenti melakukan terapi hormon dua bulan sebelum benar-benar menyusui.

3. Memerah ASI

Kunci lain dari cara mengeluarkan ASI tanpa hamil adalah memerah ASI atau pumping. Lakukan sesering mungkin untuk merangsang produksi ASI. Idealnya, frekuensi memerah ASI disamakan dengan berapa kali bayi menyusu, sama seperti ibu yang melahirkan anak. Proses memerah ASI bisa dimulai 2 bulan sebelum rencana mulai menyusui. Gunakan alat pompa ASI elektrik untuk merangsang produksi hormon prolaktin.Pada tahap awal, perah ASI selama 5 menit dengan frekuensi 3 kali sehari. Kemudian, tingkatkan hingga 10 menit setiap 4 jam, termasuk satu kali di malam hari.Ketika sudah tertata, durasi memerah ASI bisa ditambah menjadi 15-20 menit setiap 2-3 jam sekali. Lakukan terus hingga tiba saatnya menyusui.

Siapa saja bisa menyusui

Berbeda dengan hamil dan melahirkan, tidak perlu kesuburan, rahim, atau sel telur untuk bisa menyusui. Sebab, yang berperan dalam proses menyusui adalah hormon prolaktin dan oksitosin. Semuanya diproduksi dari kelenjar pituitari yang terletak di bagian dasar otak.Tak perlu khawatir pula bahwa ASI hasil dari induksi laktasi akan mengandung hormon buatan. Bahkan faktanya, sangat jarang ASI mengandung hormon buatan.Volume produksi ASI hasil dari induksi laktasi bisa berbeda-beda pada tiap orang. Kabar baiknya, menyusui adalah aktivitas yang bisa dilakukan terlepas dari volume yang dihasilkan.Bahkan, sah-sah saja menerapkan simulasi menyusui. Caranya yaitu dengan mengalirkan ASI dari botol atau kantong ASI kemudian disalurkan lewat selang kecil yang dimasukkan ke mulut bayi. Lalu, tempelkan mulut bayi ke areola payudara seperti biasa. Ketika menghisap payudara, mereka akan mendapatkan ASI yang dialirkan dari botol atau kantong.

Mengapa perlu ASI meski tidak hamil?

asi
Seperti yang disinggung di atas, induksi laktasi umumnya dilakukan oleh orangtua yang mengadopsi anak. Tujuan dari mengupayakan menyusui tanpa hamil dan melahirkan adalah:
  • Membangun ikatan

Ketika menyusui secara langsung, ada ikatan yang terbangun antara orangtua dan bayi. Ini juga akan memberikan kenyamanan ketika kulit anak bertemu langsung dengan orangtuanya atau skin-to-skin.Namun, bukan berarti bayi yang diberi susu formula kurang dekat dengan orangtuanya. Konteks dalam hal ini adalah untuk meningkatkan bonding dengan orangtua angkat.
  • Nutrisi

ASI mengandung berbagai macam nutrisi luar biasa yang penting bagi bayi. Di dalamnya terdapat nutrisi untuk membangun kekebalan tubuh bayi sejak baru lahir. Itulah mengapa disarankan memberikan ASI kepada anak hingga berusia 2 tahun.
  • Penyembuhan

Menyusui dapat meredakan rasa sedih karena tidak memiliki anak kandung. Contohnya akibat tidak subur. Selain itu, ada koneksi biologis antara anak dan bayi.
  • Berbagi peran

Dalam metode surrogate mother atau ibu pengganti, mengupayakan induksi laktasi bertujuan untuk berbagi peran. Mungkin anak lahir dari ibu pengganti karena kesulitan hamil, namun bisa menyusui bayi sendiri memberikan peran yang luar biasa bagi sang ibu terlepas dari masalah yang dihadapinya seperti kesuburan.Inti dari proses induksi laktasi adalah mengupayakan cara mengeluarkan ASI tanpa harus hamil. Namun yang lebih indahnya lagi adalah bahwa menyusui bukan perkara seberapa banyak ASI yang dihasilkan.Lebih dari itu, ini adalah hubungan lahir dan batin yang begitu dekat antara orang-orang yang saling menyayangi. Dalam hal ini, adalah bayi dan orangtuanya.Di tengah umumnya pemberian susu formula atau susu lewat media lain seperti botol dot, seorang ibu bisa mempertimbangkan induksi laktasi untuk menyusui buah hatinya.

Namun, semua kembali pada pilihan masing-masing. Menyusui langsung atau tidak, susu apa yang diberikan, semua hanyalah bagian dari parenting. Bukan indikator seberapa sayang orangtua kepada anak mereka.Jika Anda ingin tahu lebih lanjut seputar hormon terapi untuk induksi laktasi, tanyakan langsung pada dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Download sekarang di App Store dan Google Play.
bayi & menyusuiproduksi asimenyusui
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/infant-and-toddler-health/expert-answers/induced-lactation/faq-20058403
Diakses pada 24 Mei 2021
La Leche League International. https://www.llli.org/breastfeeding-without-giving-birth-2/
Diakses pada 24 Mei 2021
AJOG. https://www.ajog.org/article/0002-9378(81)90523-8/abstract
Diakses pada 24 Mei 2021
Journal of Human Lactation. https://journals.sagepub.com/doi/10.1177/0890334414552827
Diakses pada 24 Mei 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait