Frustrasi menjadi penyebab umum pada anak tantrum
Penyebab tantrum yang paling umum pada anak adalah rasa frustrasi

Tantrum menjadi salah satu momok bagi orangtua. Menangis kencang, berguling-gulingan di lantai, mengamuk, dan menjerit-jerit kerap terjadi dalam fase tantrum pada anak. Skenario ini membuat orangtua kerap menahan malu dan merasa sedang diuji kesabarannya. Sebenarnya, apa yang menyebabkan anak tantrum? Lalu, adakah cara mengatasi tantrum pada anak?

Fase Tantrum pada Anak

Tantrum menjadi kondisi yang biasa terjadi pada anak-anak, terutama balita. Sebenarnya, ada 5 fase tantrum pada anak yang bisa Anda kenali. 

1. Penolakan

Biasanya, tantrum dimulai dari sebuah penolakan. Misalnya, menolak perintah orangtua, atau bahkan merasa diacuhkan. Dalam fase ini, anak tidak akan mendengarkan perkataan orangtuanya, dan malah berlari meninggalkan Anda.

2. Kemarahan

Biasanya, fase penolakan akan berakhir, setelah orangtua mengoreksi perilaku anak. Pada saat inilah, anak mulai meluapkan kemarahannya. Bentuk kemarahan tersebut bisa berupa teriakan, tangisan, hingga adegan berguling-guling di lantai, dan memukuli diri sendiri.

3. Tawar-menawar

Fase tantrum yang satu ini bisa dianggap sangat menarik. Sebab, anak mulai memberikan penawaran, dengan cara kreatif. Misalnya dengan mengatakan, "Kalau aku membereskan mainanku, apakah aku boleh makan permen?" Jika Anda memberikan jawaban yang tidak memuaskan, anak akan memberikan penawaran lain.

4. Depresi

Fase keempat ini menjadi yang paling menantang. Dalam fase tersebut, anak bisa memperlihatkan tangisan palsu. Sebagai orangtua, Anda pun akhirnya bisa merasa sangat bersalah. Padahal, anak hanya berpura-pura.

5. Pasrah

Fase terakhir ini sebenarnya memperlihatkan sikap dendam anak. Anak akan berhenti menangis dan seolah-olah menyerah. Padahal, anak sedang memikirkan cara lain untuk mencapai keinginannya.

Penyebab Tantrum pada Anak

Bagi sejumlah anak, tantrum hanyalah cara melampiaskan frustrasi karena keinginan yang tidak dipenuhi orangtua. Selain itu, anak juga ingin menguji sejauh mana batas kesabaran ayah dan ibu jika ia berteriak sekencang-kencangnya di tempat umum?

Bagi anak balita, berteriak atau menangis merupakan salah satu cara bernegosiasi dengan orangtua yang tidak memenuhi keinginannya.

Jika anak yang tantrum atau marah selalu dituruti keinginannya dengan alasan agar anak berhenti menangis, maka ia akan melakukan hal yang sama berulang-ulang.

Cara Mengatasi Tantrum pada Anak

Cara mengatasi tantrum pada anak adalah meredakan amarah dan menjaga emosi Anda sendiri. Tarik napas dalam-dalam, kendalikan emosi, dan disiplinkan anak dengan tenang dan tegas.

Biarkan anak tahu bahwa perilaku tantrum tidak baik dan jika Anda mengabaikan tangisannya, anak akan sadar bahwa ibunya serius dan tangisannya tidak akan berhasil.

Apabila anak semakin marah atau di luar kendali, pegang anak dengan kuat untuk menenangkannya.

Katakan dengan lembut bahwa Anda mencintainya. tetapi tidak bisa memberinya apa yang diinginkannya. Jika ini tidak berhasil, berikan anak time-out atau menyetrap anak selama 1-2 menit untuk memberikan waktu menenangkan diri.

Cara Mencegah Tantrum Pada Anak

Sebelum anak tantrum, orangtua bisa mengantisipasi dengan langkah berikut ini.

  • Cobalah untuk menerapkan rutinitas harian sekonsisten mungkin. Berikan anak peringatan 5 menit sebelumnya jika akan beralih ke kegiatan lain.
  • Berkomunikasilah dengan si kecil. Katakan tentang rencana pada hari itu dan ikuti rutinitas agar anak tidak “kaget” dengan perubahan yang ada.
  • Berikan anak mainan atau barang yang bisa membuatnya tetap sibuk dan terhibur saat Anda sedang melakukan tugas rumah tangga.
  • Sebelum jalan-jalan atau keluar rumah, pastikan anak sudah kenyang dan istirahat cukup agar tidak mudah rewel.
  • Alihkan perhatian anak dari perilaku yang tidak baik. Misalnya, ajak mereka ke taman atau ceritakan lelucon dan humor untuk meningkatkan mood anak.
  • Berikan anak pujian dan apresiasi ketika bisa melakukan sesuatu dengan benar. Saat anak akan marah atau tantrum, katakan padanya bahwa kemarin dia bisa menjadi anak yang baik saat mengendalikan emosinya.
  • Jika anak sering tantrum atau marah, Anda tak perlu khawatir karena perilaku ini akan berhenti hingga usia 4 tahun. Tetapi, jika anak sering menyakiti dirinya sendiri atau orang lain, Anda bisa berkonsultasi dengan dokter anak untuk mendapat penanganan yang tepat.

WebMD. https://www.webmd.com/parenting/guide/preventing-temper-tantrums-in-children#1
Diakses pada Oktober 2018

Huffington Post. https://www.huffpost.com/entry/the-five-stages-of-a-todd_n_9939654
Diakses pada 21 Maret 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed