Jangan Panik, Ini Cara Sederhana Mengatasi Diare pada Bayi

Bila bayi rewel karena diare, cara mengatasi diare pada bayi dapat dilakukan dengan mengikuti panduan yang IDAI berikan
Rewel dan terus menangis dapat mengindikasikan bayi tengah mengalami diare

Tidak sedikit orangtua yang panik ketika melihat bayi mereka mengalami diare. Namun, orangtua tidak perlu takut berlebihan asalkan tahu cara mengatasi diare pada bayi yang sebetulnya cukup sederhana.

Diare adalah kondisi ketika feses bayi encer (tekstur seperti air), dan terjadi lebih dari tiga kali dalam sehari, yang diikuti dengan gejala saluran pencernaan lainnya, seperti nyeri perut, mual, muntah, tidak nafsu makan dan minum susu.

Pada bayi yang hanya mengonsumsi air susu ibu (ASI eksklusif), ia mungkin akan sering buang air besar bahkan ketika sedang menyusu langsung.

Virus, bakteri, maupun parasit adalah tiga penyebab utama terjadinya diare pada bayi. Virus yang paling sering mengakibatkan diare adalah rotavirus (60-70%), sedangkan 10-20% penyebab diare adalah bakteri, dan sisanya parasit.

Cara mengatasi diare pada bayi di rumah

Penyakit ini memang menjadi momok bagi bayi-bayi di Indonesia. Menurut catatan Kementerian Kesehatan RI, penyakit ini merupakan penyebab kematian nomor satu pada bayi (31,4%) dan pada balita (25,2%), sedangkan pada golongan semua umur merupakan penyebab kematian yang ke empat (13,2%).

Meski statistik menunjukkan demikian, Anda tidak perlu khawatir bahwa nyawa bayi Anda tengah terancam ketika menderita diare. Pasalnya, Ikatan Dokter Indonesia (IDAI) telah mengeluarkan panduan tata cara mengatasi diare pada bayi secara sederhana, dengan harapan para orangtua dapat mempraktikkannya sebagai pertolongan pertama di rumah.

Pertama-tama, yang harus Anda lakukan adalah melakukan pengamatan klinis, misalnya apakah feses bayi juga mengandung darah atau tidak. Yang terpenting adalah memastikan apakah bayi berpotensi atau sedang mengalami dehidrasi dengan tanda-tanda sebagai berikut:

  • Frekuensi buang air kecil menurun (ditandai dengan popok yang kering dan lembap)
  • Bayi lebih rewel dari biasanya
  • Bibir kering
  • Tidak keluar air mata saat menangis
  • Selalu mengantuk dan lesu
  • Ubun-ubun bayi terlihat cekung (masuk ke dalam kepala bayi)
  • Kulit bayi tidak lagi elastis, misalnya tidak kembali ke posisi semula setelah Anda tekan atau cubit.

Setelah melakukan pengamatan klinis di atas, cara mengatasi diare pada bayi selanjutnya, yaitu memberi oralit. Oralit, atau dalam dunia medis disebut cairan rehidrasi oral (CRO), adalah cairan yang dikemas khusus serta mengandung air dan elektrolit.

Oralit digunakan untuk mencegah dan mengatasi dehidrasi saat diare. Jika bayi tidak menunjukkan tanda dehidrasi, berikan larutan oralit sebanyak 5-10 ml setiap bayi buang air besar dengan tekstur cair.

Meski bayi membutuhkan asupan elektrolit untuk menghindari dehidrasi, jangan berikan ia minuman olahraga (sports drink), soda, jus apel, dan minuman jahe yang justru akan membuat diare bayi semakin berat. Jangan pula memberi teh karena kadar Na (natrium) di dalamnya sangat rendah sehingga rawan menyebabkan terjadinya hiponatermia pada bayi yang tengah diare.

Jangan membatasi makanan pada bayi karena langkah itu hanya akan memperparah diarenya. Sebaliknya, terus susui bayi secara langsung maupun lewat pemberian susu formula.

Jika diare bayi disebabkan oleh intoleransi laktosa yang terkandung pada susu formula, konsultasikan pada dokter Anda untuk memberikan susu bebas laktosa setidaknya 1 minggu. Intoleransi laktosa umumnya hanya bersifat sementara dan akan kembali normal ketika epitel mukosa usus mengalami regenerasi.

Kapan harus membawa bayi ke dokter

Kebanyakan diare pada dasarnya akan sembuh dengan sendirinya (self limiting). Tujuan tata cara mengatasi diare pada bayi di atas adalah memastikan bayi tidak mengalami dehidrasi yang akan mengancam nyawanya.

Meski demikian, bayi dapat mengalami dehidrasi dengan cepat, bahkan hanya dalam kurun 1-2 hari setelah pertama kali memperlihatkan gejala diare. Untuk itu, orangtua harus waspada dengan membawa bayi ke dokter bila menemui gejala diare yang membahayakan sebagai berikut:

  • Bayi memperlihatkan gejala dehidrasi (seperti dijelaskan di atas)
  • Bayi masih berusia di bawah 3 bulan
  • Suhu tubuh bayi berada pada 38 derajat celcius atau lebih
  • Muntah
  • Terlihat lesu dan tidak mau menyusu
  • Bayi yang berusia di atas 3 bulan dengan diare disertai demam yang berlangsung lebih dari satu hari dan sedikit buang air kecil.

Untuk bayi yang mengalami dehidrasi sedang, ia mungkin harus menginap di rumah sakit selama 1-2 malam untuk diberikan cairan oralit sebanyak 15-25 ml/kgBB/jam. Jika muntah, pemberian CRO ini harus tetap dilakukan secara perlahan untuk mengurangi muntah itu sendiri.

Jika Anda terindikasi mengalami dehidrasi berat, pemberian cairan rehidrasi diberikan melalui infus, dan harus dipantau perkembangannya sesering mungkin. Dokter bisa memberi antibiotik, tapi dalam kebanyakan kasus langkah ini dianggap tidak perlu mengingat virus atau bakteri penyebab diare akan sembuh dengan sendirinya.

Setelah bayi pulih, ia bisa langsung kembali menyusu dan makan apa pun. Konsumsi makanan yang kaya gizi akan mempercepat proses pemulihannya agar dapat kembali ceria seperti sedia kala.

Healthy Children. https://www.healthychildren.org/English/ages-stages/baby/diapers-clothing/Pages/Diarrhea-in-Babies.aspx
Diakses pada 29 November 2019

IDAI. http://www.idai.or.id/artikel/klinik/keluhan-anak/bagaimana-menangani-diare-pada-anak
Diakses pada 29 November 2019

Kementerian Kesehatan RI. https://www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/profil-kesehatan-indonesia/profil-kesehatan-indonesia-2013.pdf
Diakses pada 29 November 2019 

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Banner Telemed