4 Cara Mengatasi Anak Muntah karena Masuk Angin, Orang Tua Wajib Tahu

(0)
Cara mengatasi anak muntah karena masuk angin dengan memosisikan anak tidur menyampingPosisikan anak tidur menyamping sebagai cara mengatasi anak muntah karena masuk angin
Cara mengatasi anak yang muntah karena masuk angin kerap menjadi pertanyaan dalam benak para orang tua. Tenang, jangan langsung panik saat melihat buah hati Anda muntah-muntah. Simak di sini langkah-langkah pertolongan pertama cara mengatasi anak muntah karena masuk angin.

Cara mengatasi anak muntah karena masuk angin

Masuk angin merupakan rangkaian gejala penyakit tertentu
Masuk angin bukanlah istilah medis atau nama penyakit resmi dalam dunia kedokteran. Ini adalah istilah awam yang menggambarkan sederet gejala atau keluhan terkait penyakit tertentu.Sebenarnya, jika anak mual dan muntah saat masuk angin, ada kemungkinan ia sedang mengalami gejala flu.Menurut penelitian yang diterbitkan pada jurnal Paediatrics Child Health, gejala flu yang sering dianggap sebagai masuk angin ini juga diikuti dengan diare, nyeri perut, demam, dan menggigil.Tak jarang, si kecil pun juga jadi susah makan dan sulit bernapas lega karena hidungnya tersumbat.Masuk angin juga bisa menjadi salah satu gejala anak mengalami “flu perut” atau gastroenteritis. Temuan yang terbit pada jurnal National Center for Biotechnology Information memaparkan, gejala gastroenteritis juga serupa dengan gejala masuk angin, yaitu mual, muntah, demam, sakit perut, dan diare. Penyebabnya diketahui akibat paparan virus yang beragam, seperti rotavirus, norovirus, adenovirus, dan astroviruses. Saat si kecil sakit, ikuti cara mengatasi muntah pada anak karena masuk angin ini:

1. Posisikan buah hati tidur menyamping

Posisi tidur menyamping agar muntah tidak tertelan
Cara mengatasi anak muntah karena masuk angin bisa dilakukan dengan memosisikan anak tidur menyamping.Posisi tidur menyamping dapat memudahkan aliran muntah yang mungkin tersisa mengalir ke luar. Hal ini pun mampu menghindari si kecil tersedak atau menelan kembali muntahannya.Jika si kecil tak sengaja menelan muntahannya, ia akan berisiko terkena pneumonia. Hal ini dikarenakan benda asing terhirup ke dalam paru-paru.

2. Beri larutan elektrolit (oralit)

Oralit berguna untuk mengganti elektrolit yang hilang saat muntah
Elektrolit (oralit) sebenarnya adalah larutan yang mengandung garam, gula dan serta mineral lainnya, seperti potasium dan kalium. Larutan ini berfungsi untuk menjaga keseimbangan cairan dalam tubuh.Saat muntah, buah hati Anda dapat kekurangan cairan tubuh dalam jumlah yang besar sehingga berisiko tinggi mengalami dehidrasi.WHO telah merekomendasikan pemberian oralit sebagai cara mengatasi muntah untuk mengatasi dan mencegah dehidrasi.Menurut riset yang diterbitkan Current Gastroenterology Reports, larutan elektrolit (oralit) terbukti manjur untuk mencegah dehidrasi berkat kandungan glukosa pada yang merangsang natrium menyerap cairan di usus kecil.Penelitian yang dirilis jurnal Journal of Family Medicine and Primary Care menganjurkan untuk melarutkan satu bungkus kecil oralit (sebanyak 4,2 g) ke dalam 200 ml air sebagai cara mengatasi anak yang muntah karena masuk angin. Berikan anak 1-2 sendok makan oralit tiap 15-20 menit. Jika si kecil masih bayi, cukup berikan 1 sendok makan oralit per 15-20 menit.UNICEF menetapkan pemberian dosis maksimal oralit untuk bayi adalah setengah liter dalam sehari, sementara bagi anak di atas 1 tahun menjadi satu liter dalam sehari. 

3. Beri minum air jahe hangat

Jahe terbukti kurangi mual dan muntah
Rebusan jahe hangat telah dipercaya bertahun-tahun sebagai cara mengatasi anak muntah karena masuk angin.Penelitian yang terbit pada jurnal Food Science and Nutrition menunjukkan, jahe mengandung zat gingerol dan shogaol untuk mengurangi gejala mual-mual dan muntah.Jahe juga berkhasiat mengatasi kembung dan perut nyeri saat flu berkat dua kandungan tersebut. Temuan studi pada jurnal Iran Red Crescent Medical Journal melaporkan zat gingerol dan shogaol memiliki sifat carminative yang mampu mengeluarkan gas dari perut. Oleh karena itu, perut pun tidak terasa kembung dan mual.

4. Sajikan sup ayam hangat

Sup ayam bantu kembalikan cairan yang hilang dan atasi mual
Sup ayam terbukti cocok diberikan sebagai makanan untuk anak muntah. Satu sajian sup ayam (28 g) mengandung potasium 22,4 mg dan sodium sebesar 44,2 mg. Kedua kandungan ini serupa pada oralit yang berguna untuk mengembalikan cairan yang hilang akibat muntah.Selain itu, sup ayam telah terbukti mampu mengatasi hidung tersumbat pada Chest Journal. Saat mengonsumsi sup ayam, uap hangatnya membantu lendir di hidung dan tenggorokan cepat mencair sehingga napas si kecil jadi lebih lega. Diketahui pula bahwa keberadaan lendir lengket ini ikut membuat anak merasa mual dan tidak nafsu makan saat masuk angin.

Catatan dari SehatQ

Cara mengatasi anak muntah karena masuk angin penting diketahui sebagai pertolongan pertama di rumah.Beberapa hal yang perlu diperhatikan saat anak muntah adalah mencukupi kebutuhan cairannya agar ia tidak dehidrasi, serta menidurkannya dalam posisi miring agar tidak menelan atau tersedak muntahan sendiri.Memberikan makanan untuk anak muntah pun cukup membantu pemulihan serta meningkatkan energi tubuh.Bila anak muntah terus-menerus dan disertai gejala lain yang tidak biasa, segera chat dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ untuk berkonsultasi.Download aplikasinya sekarang di Google Play dan Apple Store.
mualanak muntahflu
Paediatrics Child Health. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2722601/ (Diakses pada 22 September 2020)National Center for Biotechnology Information. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK518995/ (Diakses pada 22 September 2020)Healthline. https://www.healthline.com/health/how-to-stop-vomiting-remedies (Diakses pada 22 September 2020)Healthline. https://www.healthline.com/health/aspiration (Diakses pada 22 September 2020)Ministry of Health New Zealand. https://www.health.govt.nz/your-health/conditions-and-treatments/diseases-and-illnesses/vomiting (Diakses pada 22 September 2020)National Center for Biotechnology Information. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK436022/ (Diakses pada 22 September 2020)Current Gastroenterology Reports. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3950600/ (Diakses pada 22 September 2020)WHO. https://apps.who.int/iris/bitstream/handle/10665/69227/WHO_FCH_CAH_06.1.pdf;jsessionid=88A9D06F73AA4A9841E1B79D8F250FC2?sequence=1 (Diakses pada 22 September 2020)Journal of Family Medicine and Primary Care. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5629891/ (Diakses pada 22 September 2020)UNICEF. https://www.unicef.org/cholera/Chapter_8_case_management/02_CDC_How_to_make_ORS.pdf (Diakses pada 22 September 2020)Kids Health. https://kidshealth.org/en/parents/vomiting-sheet.html (Diakses pada 22 September 2020)Food Science and Nutrition https://www.tandfonline.com/doi/full/10.1080/10408398.2013.865590 (Diakses pada 22 September 2020)Iran Red Crescent Medical Journal. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4893422/ (Diakses pada 22 September 2020)Nutrition Data. https://nutritiondata.self.com/facts/soups-sauces-and-gravies/7221/2 (Diakses pada 22 September 2020)Chest Journal. https://journal.chestnet.org/article/S0012-3692(15)37387-6/fulltext (Diakses pada 22 September 2020)
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait