Anak Anda Alergi Obat? Tenang, Inilah Cara Mengatasi Alergi Obat pada Anak

Mengobati gejala yang terjadi, seperti ruam di kepala, merupakan salah satu cara mengatasi alergi obat
Ruam di kepala merupakan salah satu bentuk reaksi alergi obat

Alergi dapat terjadi pada kalangan usia manapun, termasuk anak-anak. Anak yang terkena alergi bisa merasakan berbagai gejala, seperti gatal-gatal, ruam, batuk, pusing, muntah, atau bahkan pingsan.

Kondisi ini tentunya harus segera diatasi untuk menghindari risiko bahaya yang mungkin terjadi pada anak. Untuk menanganinya, ada beberapa cara mengatasi alergi yang dapat dilakukan tergantung pada pemicunya.

Khusus untuk alergi obat, ada dua cara mengatasi alergi yang dapat dilakukan, yaitu dengan mengobati gejala yang terjadi dan melakukan desensitisasi obat.

Cara mengatasi alergi obat pada anak

Alergi obat terjadi ketika tubuh anak menunjukkan reaksi alergi setelah terpapar obat. Dua cara mengatasi alergi obat pada anak, di antaranya:

1. Mengobati gejala yang ada

Salah satu cara mengatasi alergi pada anak yang esensial adalah menangani gejala yang ada. Berikut cara yang dapat dilakukan untuk menangani gejala alergi pada anak:

  • Tidak memberi anak obat yang membuatnya alergi

Jika dokter menentukan bahwa anak Anda memiliki alergi obat atau kemungkinan memiliki alergi obat, maka menghentikan pemberian obat adalah langkah pertama yang dapat dilakukan untuk mengatasi alergi obat pada anak.

  • Memberi antihistamin

Anda dapat memberikan antihistamin yang sesuai dengan resep dokter atau yang dijual bebas, seperti diphenhydramine pada anak. Antihistamin dapat memblokir zat kimia (histamin) yang menjadi pemicu terjadinya reaksi alergi. Namun, Anda harus memastikan bahwa jenis antihistamin yang Anda berikan boleh digunakan untuk anak-anak. Selain itu, dalam memberikan obat, selalu sesuaikan dengan petunjuk penggunaan.

  • Memberi kortikosteroid

Kortikosteroid dapat Anda berikan untuk mengobati peradangan yang terjadi akibat reaksi alergi yang lebih serius. Namun, pastikan Anda telah berkonsultasi pada dokter mengenai pemberian obat ini. Dokter dapat menyarankan kortikosteroid berbentuk oral.

  • Memberi bronkodilator

Jika alergi obat menyebabkan anak mengi atau batuk, Anda dapat memberinya bronkodilator jika disarankan oleh dokter. Alat ini dapat membantu membuka saluran pernapasan anak Anda sehingga lebih mudah untuk bernapas.

  • Pengobatan anafilaksis

Pengobatan anafilaksis mungkin diperlukan jika anak Anda telah mengalami alergi yang parah hingga sesak napas, atau bahkan tak sadarkan diri. Anda dapat menyuntikkan epinefrin (antialergen) dan segera membawa anak Anda ke rumah sakit.

2. Desensitisasi obat

Jika anak Anda perlu menggunakan obat yang dapat memicu alergi karena tidak ada obat lain yang dapat mengobati kondisinya, maka dokter dapat merekomendasikan pengobatan yang disebut desensitisasi obat.

Dalam perawatan ini, anak akan mengonsumsi obat pemicu alergi mereka dalam dosis yang sangat kecil, dan kemudian dosisnya semakin besar setiap 15-30 menit selama beberapa jam atau hari, hingga sistem kekebalan tubuh anak dapat tahan terhadap obat tersebut. Terkadang, dokter menggunakan proses ini untuk mengobati alergi terhadap penisilin atau obat lain. Jika anak Anda sangat alergi terhadap obat tertentu, maka harus ada alternatif obat yang diresepkan oleh dokter.

Seiring waktu, sistem kekebalan tubuh anak dapat berubah. Alergi bisa saja memburuk, melemah, atau bahkan menghilang. Sangat penting bagi Anda untuk selalu berkonsultasi pada dokter mengenai cara mengendalikan alergi obat yang anak miliki agar tidak muncul kembali. Jika dokter menyarankan Anda untuk menghindari obat-obatan tertentu bagi anak, pastikan untuk mengikuti saran tersebut.

Diagnosis alergi obat pada anak

Sebelum mengatasi alergi obat, Anda harus benar-benar memastikan bahwa alergi obat pada anak Anda telah didiagnosis dengan tepat. Kesalahan diagnosis pada alergi obat bisa menyebabkan penggunaan obat yang kurang tepat atau lebih mahal.

Oleh sebab itu, diagnosis oleh dokter sangatlah diperlukan. Dalam mendiagnosis, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan mengajukan pertanyaan seputar gejala, waktu minum obat, dan membaik atau memburuknya gejala. Dokter juga mungkin akan menyarankan anak Anda melakukan tes tambahan ke spesialis alergi untuk memantapkan diagnosis. Adapun tes yang dapat dilakukan, yaitu:

  • Tes kulit

Pada tes kulit, spesialis alergi akan memberikan sejumlah obat yang dicurigai menyebabkan alergi ke kulit anak Anda. Jika positif alergi, maka bisa muncul ruam kemerahan, gatal-gatal, dan benjolan-benjolan kecil pada kulit. Sementara jika negatif, maka tidak akan ada reaksi alergi yang muncul.

  • Tes darah

Meski tes darah dapat mendeteksi reaksi alergi terhadap beberapa obat, namun tes ini tidak begitu sering digunakan. Tes darah digunakan jika adanya kekhawatiran timbul reaksi yang parah bila dilakukan tes kulit.

Kesimpulan diagnosis oleh dokter sangat diperlukan dalam menentukan perawatan yang dapat dilakukan. Oleh sebab itu, sebelum memutuskan mengatasi alergi pada anak maka Anda harus berkonsultasi dan memeriksakan mereka ke dokter. Hal ini dilakukan agar Anda tidak salah dalam mengambil keputusan.

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/drug-allergy/diagnosis-treatment/drc-20371839
Diakses pada 29 Juli 2019

WebMD. https://www.webmd.com/allergies/allergies-medications#1
Diakses pada 29 Juli 2019

Healthline. https://www.healthline.com/health/drug-allergy#takeaway
Diakses pada 29 Juli 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed