Cara Mendidik Anak Supaya Pintar dan Penurut, Parenting Apa yang Tepat?


Cara mendidik anak supaya pintar dan penurut bukanlah lewat pemaksaan. Anda dapat melakukannya dengan menjadi pendengar yang baik bagi anak hingga membiarkan anak memilih.

(0)
08 Feb 2021|Azelia Trifiana
Menjadi pendengar bagi anak adalah salah satu cara mendidik anak supaya pintar dan penurutMenjadi pendengar bagi anak adalah salah satu cara mendidik anak supaya pintar dan penurut
Parenting adalah seni. Tidak ada aturan baku mana yang boleh dan tidak dilakukan. Termasuk cara mendidik anak supaya pintar dan penurut, ada tantangan agar jangan sampai menjadi sosok orangtua terlalu otoriter. Perhitungkan pula bagaimana karakter anak agar bisa masuk dan diterima oleh mereka.Mengingat tidak ada formula pasti dalam mendidik anak, maka tak perlu pula membandingkan pola asuh Anda dengan orang lain. Berikan contoh yang baik agar orangtua bisa menjadi teladan bagi anak.

Cara mendidik anak supaya pintar dan penurut

Sebenarnya bukan kewajiban anak untuk menjadi sosok yang pintar dan penurut. Pintar pun bukan hanya sekadar nilai-nilai di lembaran rapor saja, tapi juga pintar dalam memecahkan masalah dan memiliki rasa empati.Begitu pula dengan sosok anak penurut. Bukan berarti mereka harus mengiyakan seluruh perintah orangtua. Anak harus tetap menjadi pribadi yang bisa berpikir kritis dan logis terhadap apa yang diajarkan orangtua.Berikut ini beberapa cara mendidik anak yang bisa diadaptasi dalam pola parenting Anda:

1. Menjadi pendengar yang baik

Jangan hanya menjadi sosok orangtua yang selalu berbicara tanpa memberi ruang bagi anak. Jadilah pendengar yang baik terhadap apapun yang mereka sampaikan. Bahkan ketika anak menyampaikan hal yang sama kesekian kalinya, tetap dengarkan dengan baik.Ketika orangtua terbiasa memberikan atensi positif terhadap anak, ini secara ampuh dapat mencegah si kecil masuk dalam pengaruh perilaku buruk.

2. Validasi emosi

Sangatlah penting memastikan emosi anak tervalidasi, apapun bentuknya. Tekankan kepada anak bahwa setiap emosi yang mereka rasakan ada namanya. Tak hanya itu, minta mereka menyampaikan kepada orangtua apa yang dirasakan.Tahan keinginan untuk menyepelekan emosi anak dengan menganggap mereka lebay. Apa yang terkesan sepele bagi orangtua bisa jadi merupakan masalah besar bagi anak-anak. Oleh sebab itu, sampaikan bahwa Anda mengerti apa yang mereka rasakan sekaligus pemicunya.Jika ada hal yang perlu diperbaiki, itu adalah perilaku bukan emosinya. Sangat wajar ketika anak merasakan berbagai emosi. Bedakan emosi yang muncul dengan perilaku salah.

3. Posisikan orangtua punya wewenang

Validasi emosi bukan berarti membiarkan anak memegang kendali atas keputusan-keputusan besar dalam keluarga. Boleh menanyakan perasaan mereka, tapi bedakan dengan meminta izin terkait keputusan besar.Anak-anak belum memiliki kapasitas untuk membuat keputusan signifikan. Di sinilah peran orangtua untuk memberikan kepastian kepada anak bahwa keputusan yang diambil sudah benar-benar matang, dan Anda ada untuk mereka.

4. Aturan jelas

Anak lebih bisa mencerna aturan yang jelas dan sederhana. Selalu sampaikan sebab-akibat dari aturan yang diterapkan. Contohnya ketika meminta anak tidur lebih awal, sampaikan apa alasannya. Alasan yang logis bahwa tidur sangat penting untuk pertumbuhan tubuh dan otak.Ketika anak memahami korelasinya, mereka jadi lebih mudah mengerti makna kehidupan. Tak hanya itu, anak juga lebih mau menaati aturan jika tahu konsekuensinya, bukan karena ada orangtua yang mengawasinya.

5. Berikan peringatan awal

Untuk membedakan dengan orangtua yang otoriter, berikan peringatan awal ketika anak berperilaku buruk. Barulah kemudian jika anak kembali mengulanginya, bisa diikuti dengan tindakan sebagai konsekuensi.Ingat hanya berikan peringatan sebanyak satu kali. Terus menerus memberikan peringatan yang sama hanya akan membuat anak menganggap ancaman Anda tidak benar-benar terbukti.

6. Terapkan konsekuensi yang logis

Ketika anak melakukan kesalahan, terapkan konsekuensi atas perbuatan mereka dengan logis. Pastikan pula menyampaikan dengan detail kapan konsekuensi ini berakhir.Contohnya ketika anak melewati batas waktu boleh bermain video game, sampaikan bahwa mereka tak boleh lagi menggunakan tablet hingga berhasil menyelesaikan tugas tepat waktu selama satu minggu.Tak berhenti sampai di situ, diskusikan penyebab mereka mendapatkan “hukuman”. Cari alternatif apa yang harus dilakukan apabila hal semacam ini terjadi lagi.

7. Berikan insentif

Tak perlu bermewah-mewah, namun metode ini bisa menjadi cara mendidik anak supaya pintar dan penurut. Buat sistem reward untuk anak ketika berhasil mengatasi perilaku yang selama ini sulit diubah. Contohnya saat anak berhasil menggosok gigi sebelum tidur atau mandi di pagi hari.

8. Biarkan anak memilih

Bahkan untuk hal-hal sesederhana pakaian mana yang akan dikenakan pun, biarkan anak memilih. Cara ini mengajarkan anak bahwa mereka punya otoritas dalam mengambil keputusan. Ini bisa menjadi bekal untuk menentukan pilihan di kemudian hari.

9. Seimbangkan kebebasan dan tanggung jawab

Pastikan anak paham betul bahwa ketegasan orangtuanya bertujuan agar anak bisa sukses di kemudian hari. Jadi, orangtua bisa membantu namun tidak sepenuhnya. Berikan panduan namun tetap tanggung jawab ada di tangan mereka.

Terpenting dari berbagai cara di atas adalah memastikan orangtua punya hubungan yang sehat dengan anak. Tentu dengan memberikan daftar aturan dan meminta dipatuhi bukan cara yang tepat.Sebaliknya, pastikan anak mendapat perhatian penuh dari orangtuanya. Selalu jadwalkan quality time agar anak merasa disayangi dan diterima. Dengan demikian, koneksi akan membuat mereka lebih mudah menerima koreksi dan masukan.Untuk berdiskusi lebih lanjut seputar hubungan orangtua dan anak yang sehat, tanyakan langsung pada dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Download sekarang di App Store dan Google Play.
tips parentingibu dan anakgaya parenting
Verywell Family. https://www.verywellfamily.com/ways-to-become-a-more-authoritative-parent-4136329
Diakses pada 24 Januari 2021
Science Direct. https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S1877042814022496?via%3Dihub
Diakses pada 24 Januari 2021
Aha Parenting. https://www.ahaparenting.com/blog/Obedience_Why_Do_You_Have_To_Tell_Them_Five_Times
Diakses pada 24 Januari 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait