Cara Mencegah Penularan HIV ke Anak dari Ibu Hamil

Pencegahan penularan HIV ke anak dari ibu hamil dapat dilakukan dengan pemberian obat ARV
Ibu penderita HIV berpotensi menularkan HIV ke anak

HIV dapat ditularkan pada wanita yang terinfeksi HIV ke anak selama masa kehamilan, persalinan dan menyusui. Penularan HIV dari ibu ke anak, disebut sebagai “penularan vertikal”, risiko terbesar adalah saat melahirkan bayi dari ibu dengan status HIV positif.

Tanpa pengobatan yang tepat, jika seorang ibu hamil terinfeksi HIV, maka kemungkinan virus tersebut menular ke anaknya adalah 15% hingga 45% dan pengobatan antiretroviral (ARV) atau intervensi lain mampu mengurangi risiko hingga di bawah 5%.

Pencegahan penularan HIV ke anak

Sejak WHO mengeluarkan pedoman yang direvisi pada 2006, bukti baru yang penting telah muncul mengenai penggunaan profilaksis antiretroviral (ARV). Langkah tersebut ditunjukan untuk mencegah penularan HIV dari ibu ke anak atau Prevention of mother-to-child transmission (PMTCT) dan praktik pemberian makanan yang aman untuk bayi yang terpajan HIV. Berikut cara pencegahan penularan HIV ke anak:

  • Wanita yang sedang hamil atau sedang merencanakan kehamilan harus dites HIV sedini mungkin. Jika Anda terinfeksi HIV, hal terpenting yang dapat Anda lakukan adalah dengan melakukan terapi ARV.
  • Jika positif hamil, konsultasikan dengan dokter mengenai tes HIV dan cara agar Anda dan janin Anda tidak terinfeksi HIV. Ibu hamil pada trimester ketiga harus diuji ulang jika merasakan gejala yang berisko terkena HIV.
  • Jika Anda tidak terinfeksi HIV tapi pasangan Anda postifi HIV, segera konsultasi ke dokter untuk mengambil profilaksis pra pajanan (PrEP) untuk membantu menjaga Anda agar tidak tertular HIV.
  • Penderita HIV yang menggunakan ARV sesuai dosis dokter serta berhasil mempertahankan jumlah partikel virus tetap rendah, bahkan hingga tidak terdeteksi saat dilakukan pemeriksaan, tidak akan menularkan HIV ke pasangan melalui seks.
  • Jika Anda positif HIV, minum obat harus sesuai resep dokter. Jika viral load (jumlah partikel virus dalam tubuh) Anda tidak ditekan, dokter Anda mungkin akan menyarankan Anda melahirkan bayi dengan metode yang dapat mengurangi risiko penularan. Setelah lahir, bayi yang dilahirkan dari ibu dengan HIV segera diberi ARV selama 4 hingga 6 minggu.
  • Jika Anda mengonsumsi obat secara teratur di awal kehamilan Anda, risiko penularan HIV ke bayi Anda hanya 1% atau kurang. Selain itu, ada kemungkinan ASI Anda mengandung HIV. Jadi, ada baiknya untuk tidak menyusui bayi Anda.

Rekomendasi utama dari pedoman terbaru tentang obat ARV untuk perawatan wanita hamil dan pencegahan HIV ke anak menurut WHO sebagai berikut:

  • Terapi antiretroviral (ARV) yang segera dilakukan pada awal kehamilan memberi manfaat bagi kesehatan ibu dan mencegah penularan HIV ke anaknya selama kehamilan dan menyusui.
  • Pemberian profilaksis atau pencegahan ARV dalam jangka waktu yang lebih lama untuk wanita hamil yang HIV-positif dengan sistem kekebalan yang relatif kuatakan mengurangi risiko penularan HIV dari ibu ke anak.
  • Pemberian profilaksis ARV kepada ibu atau anak akan mengurangi risiko penularan HIV selama masa menyusui.

Selain pencegahannya, Anda juga perlu mengenai gejala-gejala HIV ke anak. HIV pada anak memang cukup sulit terdeteksi karena gejala yang muncul mirip dengan infeksi virus biasa. Terdapat beberapa gejala yang dapat dicurigai sebagai gejala HIV ke anak:

  • Berat badan anak tidak bertambah
  • Anak mengalami gangguan tumbuh kembang
  • Anak rentan sakit
  • Anak sering terkena infeksi
  • Iritasi pada kulit
  • Sering diare

Catatan dari SehatQ

Sampai saat ini, belum ada obat yang bisa menyembuhkan HIV. Namun, HIV sangat mungkin ditangani secara efektif, supaya gejalanya tidak semakin parah. Pengobatan HIV pada anak sama seperti orang dewasa, yakni dengan terapi antiretroviral. Jenis pengobatan ini membantu pasien supaya virus tidak semakin berkembang di dalam tubuh. Perawatan anak dengan HIV tentu memerlukan beberapa pertimbangan khusus.

Faktor usia dan pertumbuhannya harus diperhatikan, supaya pengobatan antiretroviral berjalan baik. Penelitian yang dilakukan beberapa waktu lalu membuktikan, terapi antiretroviral yang dilakukan semenjak bayi pengidap HIV lahir, bisa memperpanjang masa hidup bayi, mengurangi risiko penyakit serius, dan mencegah berkembangnya HIV menjadi AIDS. Tanpa pengobatan antiretroviral, kebanyakan bayi dengan HIV tidak bisa bertahan hidup sampai usia 1 tahun. Maka dari itu, pengobatan sedini mungkin wajib dilakukan.

WHO. https://www.who.int/hiv/pub/mtct/PMTCTfactsheet/en/

Diakses pada 9 Maret 2019

HIV.Gov. https://www.hiv.gov/hiv-basics/hiv-prevention/reducing-mother-to-child-risk/preventing-mother-to-child-transmission-of-hiv

Diakses pada 9 Maret 2019

Avert https://www.avert.org/professionals/hiv-programming/prevention/prevention-mother-child

Diakses pada 9 Maret 2019

Artikel Terkait