Cara Kerja Defibrilator, Penyelamat Korban Serangan Jantung


Defibrilator adalah alat yang memberikan kejutan listrik bertegangan tinggi ke jantung. Penggunaannya cukup penting dalam menyelamatkan hidup seseorang yang mengalami serangan jantung.

0,0
28 Jun 2021|Azelia Trifiana
Defibrilator digunakan oleh tenaga profesionalDefibrilator digunakan oleh tenaga profesional
Wajar jika banyak orang yang masih asing dengan defibrilator atau alat kejut jantung, sebab hanya petugas medis profesional yang terlatih untuk menggunakannya. Sementara bentuk yang sudah disederhanakan sekaligus bisa dibawa ke mana saja disebut dengan Automatic External Defibrillator (AED).Alat semacam ini didesain untuk digunakan oleh personel non-medis seperti pemadam kebakaran, polisi, pramugari, guru, atau orang yang bersertifikasi.

Cara kerja defibrilator

Defibrilator adalah alat yang memberikan kejutan listrik bertegangan tinggi ke jantung. Penggunaannya cukup penting dalam menyelamatkan hidup seseorang yang mengalami serangan jantung.Terjadinya serangan jantung berarti jantung berhenti berdetak secara mendadak karena aliran darah terhambat. Pemicunya adalah akumulasi penggumpalan darah di arteri.Lebih jauh lagi, fungsi defibrilator adalah memberikan kejutan listrik ke jantung sehingga terjadi depolarisasi otot jantung. Selain itu, stimulasi ini juga memberikan rangsangan kepada pacu jantung alami tubuh untuk kembali ke ritme semula.Dalam satu paket alat kejut jantung, terdapat sepasang elektroda dan juga gel konduktor. Adanya gel ini berfungsi untuk mengurangi penolakan alami dari jaringan tubuh serta menghindari kemungkinan luka bakar akibat arus listrik.Defibrilator tradisional menggunakan penampang berbahan metal. Sementara yang modern menggunakan adhesive pad yang di dalamnya sudah mengandung gel konduktor.Ada banyak jenis defibrilator dengan cara kerja berbeda-beda. Defibrilator manual hanya boleh dioperasikan oleh profesional terlatih. Ini berbeda dengan AED yang punya fitur mendeteksi ritme jantung ketika elektroda ditempelkan pada dada korban.Itu sebabnya, ada jenis alat kejut jantung yang hanya bisa digunakan oleh tenaga medis, dan ada pula yang bisa digunakan di saat darurat oleh orang non-medis.

Kesalahpahaman seputar defibrilator

Berapa kali Anda menyaksikan film atau serial yang menunjukkan momen genting ketika ada seseorang terkena serangan jantung dan penyelamatannya menggunakan defibrilator?Sayangnya, apa yang digambarkan di media banyak yang kurang tepat. Bahkan, tak jarang penggunaannya salah dan justru melebih-lebihkan efektivitasnya.Perlu diingat pula bahwa penggunaan alat kejut jantung yang tidak tepat atau sembrono justru bisa membahayakan nyawa seseorang. Jadi, satu-satunya cara untuk mengetahui dengan tepat bagaimana cara kerja defibrilator bisa dilihat pada tenaga medis profesional.Tak kalah penting, alat kejut jantung tidak bekerja untuk me-restart jantung yang berhenti. Ini berbeda dengan pemahaman orang kebanyakan.Sebenarnya ketika seseorang mengalami serangan jantung, itu bukan berarti jantungnya berhenti bekerja. Justru, fibrilasi ventrikel atau jantung berdetak tidak beraturan lebih dulu terjadi.Fungsi defibrilator yang paling utama adalah membetulkan fibrilasi sehingga ritme alami jantung kembali seperti semula.Selain itu, resusitasi jantung paru atau CPR juga sama pentingnya seperti penggunaan defibrilator ketika menangani orang terkena serangan jantung. Tekanan atau kompresi di dada secara manual membantu memompa darah. Ini dapat mencegah kerusakan jaringan hingga proses kejut jantung dimulai.Meski demikian, CPR bukanlah pengganti defibrilasi. Ketika sudah tersedia, defibrilator harus langsung digunakan untuk memaksimalkan peluang keselamatan.

Jenis lain defibrilator

Selain alat kejut jantung yang hanya boleh digunakan oleh tenaga medis profesional, ada juga jenis lain. Contohnya AED yang tersedia di ruang publik dan bisa digunakan di saat darurat. Tujuan adanya alat ini adalah demi menyelamatkan nyawa orang yang terkena serangan jantung dan bisa dilakukan oleh orang awam.Tak hanya itu, ada pula defibrilator yang disebut Implantable Cardioverter Defibrillator (ICD) dan Wearable Cardioverter Defibrillator (WCD). Sistem ICD dipasang di dalam tubuh, tepatnya di bagian atas dada, sedikit di bawah tulang selangka.Sementara WCD yang dikembangkan sejak tahun 1986 berbentuk vest dengan defibrilator terpasang di dalamnya. Ketika detak jantung menjadi tak beraturan dan lebih cepat, alat ini secara otomatis akan memberikan stimulasi listrik ke jantung.

Catatan dari SehatQ

Sayangnya, defibrilator dan CPR bukanlah jaminan selamatnya orang yang terkena serangan jantung. Meski prosedur ini memungkinkan korban selamat dari serangan jantung jika digunakan secara tepat, namun perlu penanganan lebih menyeluruh terhadap apa penyebab utamanya.Penting untuk diingat pula bahwa setiap detik pada orang yang terkena serangan jantung begitu berharga. Kerusakan jaringan tak terhindarkan karena hilangnya asupan oksigen saat serangan jantung berlangsung.Beberapa pasien mungkin berhasil mengembalikan detak jantungnya seperti semula, namun tak menutup kemungkinan kembali koma atau mengalami mati otak.Terlepas dari kenyataan ini, berkembangnya teknologi serta kesadaran untuk belajar metode pertolongan pertama memberi peluang besar bagi keselamatan korban serangan jantung.  
penyakit jantungsakit jantungserangan jantung
NHLBI. https://www.nhlbi.nih.gov/health-topics/defibrillators
Diakses pada 14 Juni 2021
AED USA. https://www.aedusa.com/knowledge/how-do-defibrillators-work/
Diakses pada 14 Juni 2021
Medline Plus. https://medlineplus.gov/ency/article/007370.htm
Diakses pada 14 Juni 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait