Capaian Tumbuh Kembang pada 1000 Hari Pertama Kehidupan Anak

1000 hari kehidupan adalah masa-masa yang sangat penting untuk tumbuh kembang Si Buah Hati
1000 hari pertama dalam kehidupan adalah periode yang sangat penting bagi anak

Perjalanan tumbuh kembang anak sejak dari dalam kandungan, akan memberikan pengaruh dalam jangka panjang, hingga ia dewasa. Terutama pada masa 1000 hari pertama kehidupan.

Waktu ini, disebut merupakan masa keemasan tumbuh kembang anak. Pada 1000 hari pertama kehidupan inilah Si Buah Hati akan membangun fondasi kehidupannya dari segi kesehatan, pertumbuhan, hingga perkembangan saraf.

Masa 1000 hari pertama kehidupan anak dihitung sejak masa kehamilan (270 hari) sampai anak berusia 2 tahun (730 hari). Agar tumbuh kembang anak yang maksimal bisa tercapai, maka Bunda perlu mulai memberikan stimulasi yang baik, sejak anak masih di dalam kandungan.

Berikan stimulasi pada awal 1000 hari pertama kehidupan

Agar tumbuh kembang anak pada 1000 hari pertama kehidupannya bisa maksimal, Anda perlu memberikan stimulasi yang tepat, sejak bayi masih berada di dalam kandungan. Dengan stimulasi yang tepat, maka perkembangan fisik dan kognitif pada anak dapat berlangsung dengan baik.

Stimulasi yang dilakukan pada janin, akan membuat koneksi saraf ke otak lebih optimal. Sehingga, fungsi sensoris atau panca inderanya pun bisa berkembang dengan baik. Berikut ini tahapan stimulasi tumbuh kembang anak yang dapat Anda lakukan sesuai usia janin:

  • Trimester pertama

Pada trimester ini, Anda dapat memberikan stimulasi gizi dengan menjalani pola makan sehat. Selain itu, gerakan refleks pada janin juga mulai berkembang, sehingga Anda disarankan untuk mulai rutin menyentuh perut. Hal ini juga akan membantu mengembangkan ikatan emosional antara ibu dan janin.

  • Trimester kedua

Trimester kedua adalah saatnya fungsi pendengaran mulai berkembang. Sehingga, Anda dapat mulai memberikan stimulasi dengan sering mengajak berkomunikasi, mendongeng atau melantunkan musik. Hal tersebut juga baik dilakukan untuk mengenalkan janin terhadap suara-suara di lingkungannya.

Pemberian stimulasi pada area sentuhan, pendengaran, cahaya dapat dilakukan secara teratur. Namun, Anda juga perlu ingat untuk tidak melakukannya secara berlebihan.

Selain itu, Anda juga perlu menjaga kondisi emosi. Tetaplah merasa nyaman dan tenang karena hal ini sangat berpengaruh pada kondisi emosi janin kelak.

  • Trimester ketiga

Selain melanjutkan stimulasi panca indera, pada trimester ini, Anda juga dapat mulai mencicipi rasa dan tekstur makanan yang beragam. Selain itu, janin juga sudah dapat merespon dengan gerakan-gerakan yang dapat dirasakan ketika perut ibu disentuh.

Melibatkan angota keluarga dan menciptakan suasana lingkungan yang nyaman dan menyenangkan turut mengembangkan emosi positif pada janin.

Pemberian stimulasi sejak dalam kandungan, akan berdampak baik dalam milestones anak. Milestones adalah tonggak perkembangan anak berdasarkan usia.

Pada tumbuh kembang anak di 1000 hari pertama kehidupannya, ada beberapa hal yang akan mengalami perkembangan, yaitu aspek fisik-motorik, kognitif, bahasa, dan sosio-emosional.

Tumbuh kembang anak dari aspek fisik-motorik

Setelah bayi dilahirkan, tahap selanjutnya dari 1000 hari pertama kehidupannya akan dimulai. Berikut ini tahapan tumbuh kembang anak dari aspek fisik-motorik, yang bisa Anda jadikan acuan:

  • Pada usia 1-4 bulan

Pada usia ini, bayi akan belajar untuk mengangkat kepala saat tengkurap, refleks menggenggam tangan dengan kuat, mampu mengikuti obyek yang dilihatnya, mengekspresikan senyum dan emosi yang dirasakannya, hingga belajar proses berguling dan telentang.

  • Pada usia 5-8 bulan

Memasuki usia 5 bulan ke atas, kepala bayi sudah lebih kuat untuk ditegakkan saat tengkurap bahkan saat duduk. Bayi juga sudah dapat menggenggam suatu obyek ringan sendiri, memindahkan obyek dari tangan satu ke tangan lain, menggoyangkan badan ketika mendengarkan musik, mulai merangkak, hingga mengonsumsi makanan pendamping ASI (MPASI).

  • Pada usia 9-12 bulan

Tumbuh kembang anak sudah semakin pesat pada usia ini. Bayi mulai senang merambat lemari dan tangga sebagai tahapan sebelum berjalan. Ia juga sudah dapat mengambil sesuatu, duduk tanpa bantuan, melambaikan tangan, hingga bermain sembunyi obyek dengan senang.

  • Pada usia 12-24 bulan

Memasuki usia satu hingga dua tahun, anak sudah lebih banyak mengembangkan kemampuan fisik motoriknya, seperti berjalan tanpa bantuan, mendorong mainan sendiri, meremas kertas, hingga mulai belajar memainkan suatu obyek seperti sepeda.

Tumbuh kembang anak dari aspek kognitif

Perkembangan aspek kognitif pada bayi usia 0-2 tahun dikenal sebagai tahap sensori-motorik. Pada aspek ini, bayi akan belajar mengenai:

  • Dirinya dan dunianya melalui aktivitas sensori dan motorik
  • Gerakan refleks dari rangsangan yang diterimanya
  • Mulai mengenal skema

Misalnya, bayi mulai suka mengisap jempol sebagai bentuk transisi dari mengisap puting ibunya. Bayi juga belajar untuk meniru apa yang dilihatnya, seperti meniru ekspresi wajah orang dewasa yang mengajaknya mengobrol.

Lima kemampuan bayi yang akan berkembang pada tahap sensori-motorik adalah imitasi, obyek permanen, perkembangan simbolik, kategorisasi, dan angka.

Tumbuh kembang anak dari aspek Bahasa

Tumbuh kembang anak dari segi kemampuan berbahasa adalah salah satu aspek yang paling terlihat pengaruhnya apabila dioptimalkan saat 1000 hari pertama kehidupannya. Berikut ini tahapan perkembangan berbahasa anak sesuai usianya:

  • Dari lahir hingga usia 4 bulan

Pada aspek bahasa, ketika bayi lahir hingga usia 4 bulan, ia mengandalkan tangisan sebagai bentuk komunikasi dengan orang di sekitarnya, seperti kondisi lapar, tidak nyaman karena popok penuh, dan sakit.

Ketika memasuki usia 4 minggu, bayi mulai belajar untuk membedakan suara ayah dan ibunya. Sehingga, ia pun mulai mengoceh (cooing) dengan gerakan bibir ketika usia 2 bulan.

  • Memasuki usia 4-6 bulan

Pada usia ini, ocehan bayi sudah semakin sering terdengar. Selanjutnya tahapan bagi orangtua untuk mendengar suara yang seperti berasal dari bagian belakang lidah, seperti suara “g” dan “k”. Atau suara bibir seperti “m”, “w”, “p”, dan “b”.

Ketika berusia 6 bulan, Si Kecil mulai bisa menggabungkan huruf konsonan dan huruf vokal, seperti mengucapkan “Da”, “Ma”, “Pa”, dan “Na” (babbling). Bayi juga akan mulai dapat memahami bahwa nama yang sering disebut ditujukan untuknya.

  • Pada usia 7-12 bulan

Ocehan bayi akan mulai terdengar seperti kata (misalnya “gaga”).  Dan ia akan sering mengulangi kata-kata tersebut berulang kali.

Lalu pada usia 9-10 bulan, bayi mulai mengerti arti gerak tubuh, mampu menunjuk atau menggerutu untuk menunjukkan apa yang ia inginkan.

Ia juga mulai mampu mengendalikan dan mengkombinasikan suara, seperti kata-kata sapaan (seperti “hai” atau “dadah”), orang (“ma, ma” atau “da, da”), binatang peliharaan (“guk, guk” untuk anjing atau “pus” untuk kucing), dan makanan (seperti “mam, mam” untuk makan, dan “cu, cu” untuk susu).

Selain itu, bayi juga mulai mengenali intonasi, dan tahu bahwa intonasi tinggi seringkali berarti “tidak” atau “jangan” sehingga ia pun mulai belajar kata “nda, nda” untuk jangan atau tidak.

  • Pada usia 13-18 bulan

Memasuki usia satu tahun, bayi akan mampu mengeluarkan kata pertamanya. Awalnya perbendaharaan katanya bertambah sangat pelan, hanya beberapa kata setiap bulannya.

Kemudian setelah berbulan-bulan, tiba-tiba ia akan mulai belajar banyak kata dengan sangat cepat, bahkan hingga sembilan kata per hari.

  • Pada usia 19-24 bulan

Pada usia ini ini terjadi “ledakan bahasa” yang terkadang diikuti dengan menggabungkan kata, seperti bertanya “apa itu” menjadi “pa-tu” yang kadang bisa jadi sangat mirip dengan saat ia mengucapkan “sepatu”.

Bayi mulai lebih banyak berbicara pada tahap ini, sehingga bersabarlah saat menghadapinya karena menanggapi pertanyaan atau permintaannya bisa sangat melelahkan.

Secara emosi, bayi dapat menjadi mudah kesal/mengambek karena orang di sekitarnya tidak tahu apa yang sebenarnya ia inginkan.

Tumbuh kembang anak dari aspek sosio-emosional

Perkembangan sosio-emosional pertama pada bayi dikenal dengan tahapan trust vs mistrust (0-18 bulan). Komponen awal yang sangat penting untuk tumbuh kembang anak adalah trust (rasa percaya).

Pada bulan-bulan awal kehidupannya, bayi akan mengembangkan rasa percaya terhadap orang dan objek. Bayi membutuhkan rasa aman dan rasa percaya pada lingkungannya, serta perlu mengembangkan keseimbangan antara trust (membentuk hubungan intim) dan mistrust (melindungi diri mereka sendiri). 

Jika didominasi oleh trust, anak akan mengembangkan hope (harapan). Anak akan percaya bahwa mereka dapat memenuhi kebutuhan dan memperoleh keinginan mereka. Sedangkan jika didominasi oleh mistrust, maka anak akan memandang dunia tidak bersahabat, tidak dapat diprediksi, dan sulit untuk dijalani.  

Aspek sosio-emosional anak juga akan dipengaruhi oleh peran ibu. Ibu adalah perantara yang tepat antara bayi dengan lingkungan.

Hubungan ibu dan anak yang harmonis, yaitu melalui pemenuhan kebutuhan fisik, psikologis, dan sosial, merupakan pengalaman dasar rasa percaya bagi anak. Apabila pada 1000 hari pertama kehidupannya rasa percaya tidak tercapai, maka dapat timbul berbagai masalah.

Mistrust timbul bila pengalaman untuk meningkatkan trust kurang. Mistrust juga bisa terjadi apabila kebutuhan dasar tidak terpenuhi secara adekuat, yaitu kurangnya pemenuhan kebutuhan fisik, psikologis, dan sosial yang kurang.

Sebagai contoh, bayi tidak mendapat minuman atau air susu ketika ia lapar, atau bayi yang tidak mendapat respons ketika ia menggigit dot botol dan sebagainya.

Stimulasi anak pada 1000 hari pertama kehidupannya sangatlah penting untuk perkembangan area otaknya, hingga menjaga kesehatan fisiknya. Pemberian stimulasi yang kurang optimal atau berlebihan, tentu akan berdampak pada kehidupannya secara permanen.

Penulis:
Finda Diftrianita, M.Psi.
Psikolog Anak RS AZRA Bogor

RS AZRA Bogor

UNICEF. https://www.unicef-irc.org/article/958-the-first-1000-days-of-life-the-brains-window-of-opportunity.html
Diakses pada 2 Agustus 2019

Crain, W. (2011). Theories of development: concept and applications (6th ed.). USA : Pearson Education, Inc.

Papalia, D. E.,& Feldman, R. D. (2012). Experience human development, (12th ed). NY : McGraw-Hill.

Santrock, J.W. (2011). Child development (11th ed.). NY: McGraw-Hill.

Artikel Terkait

Banner Telemed