Cancel Culture, Tren Boikot yang Ramai di Media Sosial


Cancel culture adalah sikap menarik dukungan terhadap satu pihak karena ia dianggap sudah melakukan pelanggaran. Tren boikot ini ini ramai dilakukan di media sosial dan biasanya dilakukan kepada public figure.

0,0
17 Jul 2021|Annisa Nur Indah
Ditinjau olehdr. Reni Utari
Cancel culture adalah sikap menarik dukungan terhadap satu pihak karena ia dianggap sudah melakukan pelanggaranPublic figure yang membuat pernyataan menyinggung banyak pihak akan di-cancel oleh warganet di sosmed
Bagi Anda yang memiliki media sosial, terutama Twitter, Anda mungkin pernah mendengar istilah cancel culture. Tren memboikot ini biasanya dilakukan terhadap sosok artis atau public figure yang dianggap telah membuat pernyataan atau berperilaku yang ofensif.Ketika sosok ini mengeluarkan pernyataan yang dianggap tidak bisa diterima oleh masyarakat, maka ramai-ramai warganet mulai menyerukan untuk meng-cancel atau memboikotnya. Akibatnya, pernyataan apa pun yang berikutnya dikeluarkan olehnya tidak akan lagi dianggap. Cancel culture ini pernah menimpa sosok influencer Karin Novilda (Awkarin) hingga motivator Mario Teguh. Mari pahami lebih lanjut mengapa cancel culture ini berkembang dan apa dampaknya bagi kesehatan mental.

Apa Itu cancel culture?

Cancel culture adalah budaya memboikot sesuatu yang memungkinkan orang-orang yang terpinggirkan untuk mendapatkan pertanggungjawaban ketika sistem peradilan telah gagal. Menurut Dictionary.com, cancel culture mengacu pada praktik untuk menarik dukungan terhadap tokoh masyarakat maupun perusahaan setelah mereka mengatakan sesuatu yang dianggap tidak pantas atau menyinggung. Biasanya budaya ini sering terjadi di media sosial seperti Twitter. Dilansir dari Psychology Today, ada tiga proses psikologis kenapa seseorang membatalkan sebuah dukungan, yaitu:
  • Untuk mengidentifikasi atau menyadari adanya pelanggaran dan menilainya secara signifikan.
  • Agar pihak yang diboikot mengalami emosi negatif yang kuat.
  • Untuk menghukum dan menyakiti si pelanggar.
Cancel culture dimulai dengan pelanggaran nyata dirasakan oleh sebuah kelompok. Pelanggaran itu bisa tentang apa saja, seperti pelanggaran nilai politik, nilai keadilan sosial (mendukung transfobia, mengatakan hal rasis, dll). 

Awal mula tren cancel culture

Menariknya, meskipun cancel culture sering digunakan dalam konsep seksisme, istilah ini muncul dari sebuah “humor” seksis. Referensi pertama muncul dari film New Jack City saat Nino Brown, yang diperankan oleh Wesley Snipes, menyatakan tanpa ampun kepada mantan pacarnya: “Cancel that (woman). I’ll buy another one” (“Batalkan wanita itu. Aku akan membeli wanita yang lainnya”).Istilah “cancel” juga digunakan pada tahun 2014, pada episode 2014 dari reality show “Love and Hip-Hop: New York”.  Di dalamnya, eksekutif musik dan produser rekaman Cisco Rosado mengakhiri pertengkaran dengan pacarnya dengan mengatakan; “you’re cancelled”. Dari situlah istilah itu muncul dengan sendirinya. Sering kali di antara pengguna kulit hitam di Twitter menggunakan kata ini sebagai cara menunjukkan ketidaksetujuan atas tindakan seseorang atau sebagai kritik ringan. Tidak lama kemudian kata “cancel” berarti memboikot secara profesional.

Efek kesehatan mental dari cancel culture

Cancel culture sangat efektif dalam memerangi pelanggaran, terutama rasisme dan seksisme. Budaya ini menuntut perubahan sosial dan mengatasi banyak ketidaksetaraan.Contohnya, pada tahun 2016 banyak anggota komunitas film memboikot Academy Award atau piala Oscar karena kurangnya keragaman di antara nominasi. Kemudian keputusan membatalkan acara ini pun terjadi. Hasilnya, pada Oscar tahun 2019 tercatat rekor kemenangan terbanyak didominasi oleh kulit hitam.Komunitas yang bersatu bisa menghasilkan kebijakan dan perubahan sosial. Tren ini juga dapat membuat orang berpikir dua kali sebelum membuat keputusan atau mem-posting pandangan yang berpotensi menyinggung. Namun, ada juga dampak negatif yang ditimbulkan oleh cancel culture, seperti:
  • Pihak yang diboikot

Sayangnya, memboikot sering berubah menjadi intimidasi. Seperti bullying, jika Anda diboikot, hal ini bisa membuat Anda merasa dikucilkan, terisolasi secara sosial, dan kesepian. Sedangkan, kesepian merupakan pemicu utama stres dan depresi.Rasanya seolah-olah semua orang menyerah pada Anda bahkan sebelum Anda sempat meminta maaf. Alih-alih menciptakan dialog untuk membantu Anda memahami bagaimana tindakan Anda telah menyakiti mereka, para pemboikot justru menghalangi semua komunikasi dan merampas kesempatan untuk memperbaiki kesalahan dan ketidakpekaan Anda.
  • Pihak pemboikot

Anda memiliki hak untuk menetapkan batasan Anda sendiri, untuk menentukan hal yang sesuai atau justru menyinggung. Anda juga punya hak memutuskan kepada siapa dan untuk apa Anda memberikan perhatian, uang, dan dukungan Anda.Memboikot seseorang atau sesuatu tidak membuat masalah selesai. Dan jika Anda tidak memiliki hubungan dekat dengan orang tersebut, mempermalukan seseorang di depan umum belum tentu mengubah keyakinan mereka. Justru seringkali yang terjadi hanyalah membuat mereka semakin mempertahankan ego dan reputasi mereka.
  • Pihak pengamat

Bukan hanya berdampak pada pihak pemboikot dan diboikot saja, cancel culture juga berdampak pada pengamat. Pihak pengamat bisa jadi merasa kewalahan dan kecemasan. Pengamat akan berpikir bahwa orang lain akan menemukan sesuatu di masa lalu untuk digunakan melawan mereka.Beberapa aspek cancel culture dapat berguna dalam meminta pertanggungjawaban orang atau organisasi atas perilaku buruk. Namun, di sisi lain, hal ini dapat membawa intimidasi dan merusak kesejahteraan mental semua orang yang terlibat. Jangan biarkan apa yang dikatakan dan dilakukan kepada orang lain menentukan siapa diri Anda sebagai pribadi.Untuk berdiskusi lebih lanjut tentang cancel culture, tanyakan langsung pada dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Download sekarang di App Store dan Google Play.
kesehatan mentalmedia sosial
Very Well Mind. https://www.verywellmind.com/the-mental-health-effects-of-cancel-culture-5119201
Diakses pada 5 Juli 2021.
Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/intl/blog/the-science-behind-behavior/202007/what-is-cancel-culture
Diakses pada 5 Juli 2021.
Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/intl/blog/after-service/201912/5-reasons-why-people-love-cancel-culture
Diakses pada 5 Juli 2021.
Psychology Today. https://www.psychology
today.com/intl/blog/social-empathy/202106/cancel-culture-and-empathy-can-they-coexist
Diakses pada 5 Juli 2021.
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait