Hati-hati, Cakaran Kucing Bisa Sebabkan Penyakit Berbahaya


Cakaran kucing tidak boleh dipandang sebelah mata. Walaupun lukanya kecil dan tidak mengkhawatirkan, bakteri yang terdapat di dalamnya bisa sebabkan infeksi.

(0)
23 May 2020|Fadli Adzani
Ditinjau olehdr. Reni Utari
Cakaran kucing bisa sebabkan komplikasiCakaran kucing memang terlihat sepele, tapi nyatanya, ada penyakit yang bisa datang akibat cakaran kucing.
Cakaran kucing mungkin hanya menyebabkan luka sayatan kecil. Itulah sebabnya banyak orang yang menyepelekan cakaran kucing. Padahal, cakaran kucing bisa mengakibatkan masuknya bakteri penyebab infeksi berbahaya. Maka dari itu, kenalilah cara menangani cakaran kucing ini!

Cakaran kucing dan bahayanya

Di dalam dunia medis, penyakit akibat cakaran kucing dikenal sebagai “demam cakaran kucing”. Penyakit ini disebabkan tidak hanya oleh cakaran kucing, tapi juga gigitan atau jilatannya. Sebab, air liur kucing ternyata mengandung bakteri.Bakteri di dalam air liur kucing tersebut kemungkinan didapatkan dari kutu, yang sering tinggal di dalam bulu lebatnya. Untuk orang yang sehat, mungkin penyakit demam cakaran kucing ini tidak terlalu mengkhawatirkan.Namun bagi orang-orang dengan sistem imun lemah, penyakit cakaran kucing ini bisa menimbulkan problematika.Orang yang telah mengalami cakaran kucing harus segera datang ke rumah sakit. Kalau bisa, sebelum cakaran kucing itu “berumur” 8 jam. Langkah ini diperlukan untuk mencegah datangnya infeksi.Di rumah sakit, dokter akan memberikan antibiotik infus atau bahkan Anda harus dirawat. Maka dari itu, jangan pernah anggap sepele cakaran kucing, walaupun lukanya kecil sekalipun!

Cakaran kucing dan gejalanya

Cakaran kucing
Cakaran kucing
Sama seperti penyakit pada umumnya, cakaran kucing akan menimbulkan berbagai macam gejala pada tubuh sang penderita.Beberapa gejala itu bahkan membutuhkan penanganan medis segera, untuk mencegah adanya komplikasi yang lebih mengkhawatirkan.Biasanya, cakaran kucing dapat menyebabkan masuknya bakteri Staphylococcus, Streptococcus, dan Pasteurella ke dalam tubuh.Selain itu, bakteri Bartonella henselae juga berisiko masuk ke dalam tubuh, akibat cakaran kucing. Inilah yang kemudian menyebabkan penyakit cakaran kucing itu sendiri.Berikut ini adalah gejala penyakit cakaran kucing yang harus diwaspadai:Infeksi kelenjar getah bening juga dapat terjadi, terutama pada kelenjar getah bening yang paling dekat dengan luka cakaran kucing. Biasanya, kelenjar getah bening akan melunak dan bengkak.Segera datang ke dokter jika beberapa hal ini terjadi pada Anda, setelah dicakar kucing:
  • Luka sayatan atau gigitan kucing yang tidak kunjung sembuh
  • Area merah di sekitar cakaran kucing yang semakin besar setelah 2 hari
  • Demam yang berlangsung selama beberapa hari setelah dicakar kucing
  • Kelenjar getah bening yang membengkak dan terasa sakit selama 2-3 minggu
  • Nyeri tulang dan sendi, sakit perut, dan kelalahan yang luar biasa selama lebih dari 2-3 minggu.
Kalau dilihat secara kasat mata, mungkin cakaran kucing hanya akan meninggalkan bekas luka kecil. Namun nyatanya, setelah melihat gejala cakaran kucing, tentu sudah saatnya Anda berhenti meremehkannya.

Pertolongan pertama cakaran kucing

Untuk memperkecil risiko munculnya infeksi, hal pertama yang harus Anda lakukan adalah menekan bagian luka cakaran kucing, hingga darahnya keluar. Hal ini dilakukan agar bakteri bisa dikeluarkan lewat darah.Kemudian, bersihkan luka cakaran kucing dengan air bersih. Hentikan perdarahannya dengan kain bersih dan oleskan salep untuk luka yang biasa dijual di apotek jika Anda punya.Setelah itu, tutuplah luka dengan perban sampai Anda datang ke dokter untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.Umumnya, dokter akan merekomendasikan untuk mengganti perban beberapa kali dalam sehari. Perhatikan juga tanda-tanda infeksi seperti kulit yang kemerahan, pembengkakan, rasa nyeri, dan demam.

Komplikasi cakaran kucing yang berbahaya

Menurut the Centers for Disease Control and Prevention (CDC), sekitar 12 ribu orang terdiagnosis dengan cakaran kucing setiap tahunnya. Sebanyak 500 orang harus dirawat di rumah sakit akibat cakaran kucing. Jika penyakit cakaran kucing ini tidak ditangani segera, akan ada berbagai komplikasi berbahaya, bahkan mengancam nyawa.Berbagai komplikasi itu meliputi pembesaran limpa, penebalan katup jantung, hingga ensefalitis (radang otak).

Cara mencegah cakaran kucing

Terdapat beberapa cara yang dapat Anda lakukan sebagai upaya pencegahan terkena cakaran kucing, di antaranya:
  • Hindari bermain secara kasar dengan kucing Anda karena mereka dapat mencakar dan menggigit
  • Jangan biarkan kucing Anda menjilat luka yang terbuka
  • Jangan membelai atau menyentuh kucing liar
  • Karena kucing yang berusia kurang dari satu tahun lebih cenderung menderita cat scratch disease dan menular ke manusia, orang dengan sistem kekebalan yang lemah harus mengadopsi kucing yang berusia lebih dari satu tahun.
  • Jangan bermain dengan kucing jika Anda sedang dalam kondisi yang kurang sehat
  • Buatlah ruangan khusus kucing di rumah Anda untuk mencegahnya berkeliaran di dalam rumah
  • Lakukan kegiatan rutin untuk memotong kuku kucing Anda dengan menggunakan gunting kuku biasa. Memotong kuku kucing minimal seminggu sekali dapat mengurangi risiko Anda mendapatkan luka dalam saat digigit kucing.

Catatan dari SehatQ:

Walaupun kucing sangatlah lucu dan menggemaskan, tapi penyakit cakaran kucing bisa mengancam kesehatan dan nyawa Anda. Maka dari itu, mulailah berhenti berpikir kalau cakaran kucing tidak berbahaya. Sayangilah diri Anda dengan tidak menyepelekan segala luka kecil pada tubuh, termasuk luka sayatan cakaran kucing.
penyakithewan peliharaanhewan peliharaan anak
Family Doctor. https://familydoctor.org/condition/cat-scratch-disease/
Diakses pada 12 April 2020
Health Cleveland Clinic. https://health.clevelandclinic.org/cat-bites-scratches/
Diakses pada 12 April 2020
Pet MD. https://www.petmd.com/cat/general-health/how-treat-cat-scratches-home?__cf_chl_captcha_tk__=981a7e2429c13ded6e3e2bf6b5350a37d0226f7a-1586656580-0-AdrlnV23zR0jazVThh08PJRDdjABZbNJvabfZPg7ZgR4-DfZFdhnhb_sh2sd_axpNMPR9BkfSNbFT7oT-gf0LygZe3KLHOsqjqbMJ4QR_LtOCPmMEITrGJZhW_1AnzIo9dzfD87g8euNWpOmKZOCjXtU7G2LcIGS7YmZokMDdI_3qhw18RM4CipRh3Qf6HLkj4JRVEY9daxYOQYS7gGkGfA7TmGcP7DC5kI7So-TKqcfzN1gkUACsvZvAJ-y28horEsRqGND6NM6D53xzKS7BPldwer2gW1EDqGNvaMXLuQZox-wtPqoDW3pWO6b5j85826a3UDIaYH3cBH2vnSbzRJp6bWAMm6BmZPhFSgW7jBh27YmhBDQqOnIeSKN_krQyaK_-HQcZiCabHq4wBXXxGZbKwWtSnc3Hce5nDhD7Sknq77vJ-Gb2na4nNNy4uQwSp3NXXBLlfJGDnXOxLpo1iVe0Os1zPX_SIbEOUjqHOUYFL8PCycDQ3BGqyk6qaNDpY6-NYYPThfxCKSUBi3rMo3FiUe0aH-c0LEzIF-Xd0-R
Diakses pada 12 April 2020
CDC. https://www.cdc.gov/healthypets/diseases/cat-scratch.htmlDiakses pada 6 Agustus 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait