3 Jenis Cairan Pembersih Telinga yang Direkomendasikan BPOM

Jangan asal memilih cairan pembersih telinga, terutama untuk anak
Cairan pembersih telinga dapat digunakan pada anak

Membersihkan telinga yang paling aman hanya bisa dilakukan oleh dokter spesialis telinga, hidung, dan tenggorokan (THT). Tetapi jika Anda berhalangan untuk ke dokter THT, Anda dapat melakukannya sendiri di rumah dengan menggunakan cairan pembersih telinga yang dijual bebas di apotek.

Meski demikian, Anda perlu memastikan alasan membersihkan telinga ini. Menggunakan obat tetes telinga yang dijual bebas biasanya hanya dapat dilakukan jika Anda mengalami gangguan telinga ringan, misalnya penumpukkan kotoran telinga atau telinga kemasukan hewan kecil, seperti semut atau serangga.

Jika Anda ingin membersihkan telinga karena ada infeksi (ditandai dengan rasa nyeri, bengkak, demam, maupun keluar cairan telinga), sebaiknya periksakan dahulu keluhan Anda pada dokter THT. Hal yang sama berlaku jika Anda ingin membersihkan telinga dalam pada bayi atau anak-anak.

Hal yang perlu diperhatikan saat memilih cairan pembersih telinga

Meski banyak merek dagang dari cairan pembersih telinga, Anda sebaiknya bijak dalam memilih obat tetes telinga ini sesuai kebutuhan.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sendiri telah mengeluarkan rekomendasi zat yang seharusnya terkandung dalam cairan pembersih telinga dan dapat digunakan untuk mengatasi gangguan telinga ringan, antara lain:

  • Hidrogen peroksida (H2O2 3%): disebut juga cairan perhidrol yang digunakan untuk melembutkan atau membantu mengeluarkan kotoran telinga (serumen). Namun, perlu diperhatikan bahwa penggunaan H2O2 secara berlebihan justru dapat menimbulkan infeksi karena kemungkinan ada cairan yang tertinggal di dalam telinga sehingga menjadi sarang pertumbuhan bakteri.

  • Fenol gliserin: fungsi obat tetes telinga ini mirip dengan hidrogen peroksida, yakni melunakkan serumen sekaligus melembapkan lubang telinga. Cairan pembersih telinga ini tergolong aman dan tidak menimbulkan iritasi.

  • Natrium dokusat: juga berguna melunakkan serumen telinga sehingga lebih mudah dikeluarkan. Hanya saja, ini bukan cairan pembersih telinga anak mengingat sifatnya yang rawan menyebabkan permukaan kulit telinga menjadi kemerahan.

Sementara jika Anda mengalami infeksi telinga, cairan pembersih yang akan diberikan akan disesuaikan dengan penyebabnya. Pada infeksi telinga akibat bakteri, dokter akan memberikan obat tetes telinga yang mengandung antibiotik jenis neomycin dan polymyxin (untuk menghentikan pertumbuhan bakteri) dan kortikosteroid (untuk menghentikan peradangan dan pembengkakkan).

Penggunaan antibiotik yang berlebihan justru dapat mengurangi efektivitas obat, bahkan membuat Anda resisten terhadap antibiotik. Oleh karena itu, penggunaan cairan pembersih telinga biasanya hanya boleh dilakukan maksimal 4 kali dalam satu hari atau sesuai arahan dokter.

Cairan pembersih telinga anak bisa jadi solusi untuk meredakan infeksi telinga pada anak dan bayi. Namun, biasanya dokter hanya menyarankan penggunaan selama 5-7 hari (terutama untuk anak yang berusia 6 tahun atau lebih) dan maksimal 10 hari berturut-turut jika tidak ada komplikasi serius pada telinga, misalnya gendang telinga robek.

Cara penggunaan cairan pembersih telinga yang benar

Sebelum meneteskan cairan pembersih telinga, termasuk cairan pembersih telinga anak, genggam botol berisi obat tetes telinga untuk membuatnya hangat. Cara ini dilakukan agar meminimalisir rasa pusing setelah obat diteteskan ke telinga.

Anda juga dapat melakukannya dengan merendam badan botol ke dalam air suam-suam kuku. Bahkan BPOM juga memperbolehkan cairan pembersih telinga yang mengandung hidrogen peroksida, natrium dokusat, dan fenol gliserin untuk dicampur sedikit dengan air hangat dengan perbandingan 1:1.

Jangan lupa cuci tangan Anda untuk menghindari kontaminasi dan mintalah bantuan orang lain untuk membantu meneteskan jika memungkinkan. Perhatikan juga untuk tidak menyentuh ujung botol dengan tangan atau menempelkannya pada permukaan telinga yang terinfeksi agar obat tidak tercemar kuman.

Setelahnya, lakukan langkah-langkah berikut:

  • Berbaringlah dengan telinga yang mengalami infeksi menghadap ke atas.

  • Pastikan ujung penetes cairan pembersih telinga menghadap ke lubang telinga, tapi jangan sampai menyentuh kulit.

  • Teteskan cairan pembersih telinga sesuai jumlah tetesan yang direkomendasikan oleh dokter.

  • Tahan posisi tersebut selama 5 menit atau tutup lubang telinga menggunakan kapas yang aman, terutama untuk anak-anak.

  • Ulangi langkah yang sama pada telinga sebelahnya jika ia juga mengalami infeksi.

Bersihkan ujung penetes pada botol obat tetes telinga setelah penggunaan, kemudian tutup rapat. Jangan lupa kembali cuci tangan Anda setelah memberikan obat. Simpanlah obat di dalam wadah tertutup rapat, di tempat kering, terlindung dari cahaya, dan suhu lingkungan tidak lebih dari 15 derajat celcius.

Badan Pengawas Obat dan Makanan RI. http://pionas.pom.go.id/artikel/obat-gangguan-telinga-ringan
Diakses pada 8 Oktober 2019

NHS. https://www.nhs.uk/conditions/ear-infections/
Diakses pada 8 Oktober 2019

WebMD. https://www.webmd.com/first-aid/treating-ear-infections-in-children
Diakses pada 8 Oktober 2019

WebMD. https://www.webmd.com/drugs/2/drug-60900/antibiotic-ear-suspension-otic-ear/details
Diakses pada 8 Oktober 2019

Kids Health. https://kidshealth.org/en/parents/otitis-media.html
Diakses pada 8 Oktober 2019

Healthy Children. https://www.healthychildren.org/English/safety-prevention/at-home/medication-safety/Pages/How-to-Give-Ear-Drops.aspx
Diakses pada 8 Oktober 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed