Bystander Effect: Kenapa Orang Cenderung Diam Saat Ada Kecelakaan?

Kecelakaan kerap memicu bystander effect, yakni efek pengamat
Kecelakaan termasuk kejadian darurat yang memancing bystander effect

Pernahkah Anda melihat sebuah situasi darurat atau kecelakaan, lalu orang-orang di sekitarnya memilih untuk diam dan hanya mengamati? Bahkan tidak jarang orang yang merekam kejadian secara diam-diam.

Fenomena tersebut dikenal dengan istilah bystander effect atau efek pengamat. Apa sebenarnya fenomena ini?

Mengenal bystander effect

Bystander effect adalah kondisi ketika orang ragu untuk membantu atau menghentikan situasi darurat akibat keberadaan orang lain di sekitarnya. Semakin banyak jumlah saksi mata, semakin kecil kemungkinan salah satu dari mereka akan menolong.

Orang cenderung mudah turun tangan jika ada lebih sedikit orang dalam kerumunan atau tidak sama sekali.

Istilah bystander effect digagas oleh ahli psikologi sosial Bibb Latané dan John Darley setelah mencuatnya kasus pembunuhan perempuan muda Kitty Genovese di New York.

Pada tanggal 13 Maret 1964, sekitar pukul tiga pagi, Genovese baru pulang dari pekerjaannya sebagai manajer bar. Saat ia mulai berjalan menuju pintu masuk apartemen, seorang pembunuh berantai bernama Winston Moseley menyerang dan menusuknya.

Genovese berkali-kali berteriak minta tolong, tapi tidak ada satupun penghuni apartemen yang keluar untuk membantunya. Padahal, saat itu ada sekitar 38 saksi yang mendengar dan menyaksikan kejadian tersebut. Serangan dimulai pada jam 3:20 pagi, dan seseorang baru menghubungi polisi pada pukul 3:50 pagi.

Penjelasan mengenai bystander effect

Menurut Latané dan Darley, difusi tanggung jawab menjadi alasan mengapa orang memilih hanya diam saat terjadi situasi darurat. Artinya, orang akan lebih tergugah untuk menolong saat melihat orang lainnya tampak siap untuk turun tangan. Saat ada banyak saksi di sekitar mereka, rasa keharusan dan tanggung jawab untuk membantu akan berkurang.

Sebuah studi menunjukkan bahwa ketika orang sedang sendirian, persentasenya untuk membantu orang lain yang tengah mengalami masalah mencapai 75 persen. Tetapi ketika orang tersebut tidak sendirian, hanya 31 persen yang mau menolong.

Ada fenomena anonimitas yang muncul ketika orang berada dalam sebuah kelompok atau kerumunan. Mereka cenderung melakukan hal-hal yang tidak akan pernah dilakukan saat sedang sendirian.

Sebagai contoh, beberapa saksi mata dari pembunuhan Genovese memberi alasan mengenai mengapa mereka diam. Mereka mengatakan bahwa mereka tidak ingin terlibat atau berpikir teriakan korban hanyalah pertengkaran sepasang kekasih.

Alasan di balik bystander effect

Alasan umum mengapa orang mengalami difusi tanggung jawab saat keadaan darurat (bystander effect) meliputi:

  • Takut ikut terseret dalam bahaya.
  • Takut disalahkan atau menjadi tersangka.
  • Merasa bahwa ia tidak memiliki kekuatan atau kapasitas untuk membantu, misalnya dalam menghadapi dan melawan pelaku bersenjata.
  • Melihat reaksi orang lain untuk memahami situasi yang sebenarnya. Jika orang lain tampak tidak terlalu khawatir, ia akan berasumsi bahwa keadaan tidak terlalu buruk dan merasa tidak perlu membantu terlalu jauh.
  • Berasumsi bahwa orang lain lebih memenuhi syarat untuk membantu.

Seseorang akan cenderung menolong jika ia mengenal korban, memiliki kemampuan bela diri, mempunyai pengalaman dan pelatihan medis, serta pernah menjadi korban dari situasi yang serupa.

Bagaimana cara mencegah bystander effect?

Anda pertama-tama harus menyadari bahwa fenomena bystander effect memang nyata. Saat melihat situasi darurat (seperti kecelakaan atau tindak kekerasan), pahami bahwa reaksi orang lain mungkin memengaruhi cara Anda dalam bersikap. Lalu, segeralah lakukan bantuan secara sadar dalam bentuk apapun.

Tapi Anda juga perlu melihat-lihat situasi. Jika dirasa terlalu bahaya, Anda sebaiknya menelepon nomor darurat atau meminta petugas keamanan untuk membantu.

Menjadi pengamat yang aktif juga akan membuat orang lain lebih berani mengambil tindakan untuk menolong.

Akan lebih efektif apabila Anda memposisikan diri sebagai satu-satunya orang yang bertanggung jawab dan memberikan arahan pada saksi mata lainnya untuk memberikan bantuan. Terkadang, situasi darurat perlu diatasi dengan cepat dan tidak ada waktu untuk diam serta menunggu.  

Bagaimana jika Andalah yang membutuhkan pertolongan?

Taktik yang bisa digunakan adalah dengan meminta bantuan secara spesifik pada satu orang dalam keramaian meski Anda tidak mengenalnya.

Lakukan kontak mata dan katakan bahwa Anda meminta bantuan padanya. Dengan cara yang personal seperti ini, orang lain akan lebih bersedia untuk membantu Anda.

Catatan dari SehatQ

Bystander effect membuat orang berpikir bahwa semakin banyak orang yang menyaksikan suatu situasi darurat, akan semakin banyak pula yang akan membantu korban. Namun kenyataannya tidak selalu begitu.

Jadilah orang yang berinisiatif untuk menolong ketika kejadian buruk yang terjadi. Jika keadaan terlalu berbahaya, melakukan bantuan dengan menelepon nomor darurat atau polisi juga akan sangat berguna. 

Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/intl/basics/bystander-effect
Diakses pada 6 Maret 2020

Verywell Mind. https://www.verywellmind.com/the-bystander-effect-2795899
Diakses pada 6 Maret 2020

Healthline. https://www.healthline.com/health/bystander-effect
Diakses pada 6 Maret 2020

Artikel Terkait