Bukannya Tepat Sasaran, Swamedikasi Bisa Memperburuk Penyakit Seseorang

(0)
14 Aug 2020|Azelia Trifiana
Swamedikasi berisiko overdosis obatSwamedikasi yang salah berisiko alami overdosis obat
Tentu ada alasan mengapa seorang dokter menerapkan prosedur pemeriksaan berlapis sebelum mengeluarkan diagnosis atas kondisi kesehatan seseorang. Setelah diagnosis keluar, jenis pengobatan yang tepat pun bisa diambil. Namun ada kalanya orang melakukan swamedikasi alias self-medication.Swamedikasi sangat berisiko bukan saja karena ketidak tahuan tentang cara kerja obat, namun juga kesalahan diagnosis. Swamedikasi menjadi efektif bila memang pasien aktif memerhatikan kondisi kesehatannya. Namun, tetap saja swamedikasi adalah praktik yang benar-benar jauh dari kata aman.

Bahaya melakukan swamedikasi

Swamedikasi dengan obat jenis baru maupun yang sudah pernah dikonsumsi sebelumnya sama-sama tidaklah aman. Idealnya, seseorang boleh mengonsumsi obat setelah diresepkan oleh dokter.Beberapa bahaya dari melakukan swamedikasi adalah:
  • Diagnosis penyakit yang salah
  • Tertunda mendapatkan penanganan medis darurat
  • Efek samping konsumsi obat yang berbahaya
  • Dampak jangka panjang dari konsumsi obat
  • Tidak tahu dosis yang tepat
  • Pilihan terapi yang salah
  • Resistansi mikroorganisme penyebab penyakit
  • Dapat menyebabkan ketergantungan dan penyalahgunaan obat
  • Risiko interaksi obat yang seharusnya tidak dikonsumsi bersamaan
  • Kematian
Ada banyak alasan mengapa seseorang memilih swamedikasi ketimbang berobat ke dokter. Masih ada stigma skeptis terhadap sistem pengobatan modern. Padahal, dokter dan tenaga medis lainnya merupakan pihak rasional yang dapat menyelamatkan nyawa seseorang.Selain itu, alasan lain seseorang melakukan swamedikasi adalah merasa percaya diri bahwa penyakit seperti demam atau nyeri hanya sakit biasa. Untuk itu, obat yang dipilih sendiri pun sudah cukup ampuh untuk mengatasinya.

Swamedikasi untuk masalah mental

Tak hanya penyakit seperti demam atau nyeri, swamedikasi juga rentan diterapkan pada orang dengan masalah mental. Lagi-lagi, ini sangat berbahaya karena penyalahgunaan substansi seperti obat dapat menyebabkan gejala semakin buruk.Beberapa jenis swamedikasi yang terkait dengan masalah mental, di antaranya:
  • Swamedikasi lewat makanan

Orang yang mengalami depresi bisa melakukan swamedikasi dengan menjadi emotional eater. Makan dengan porsi dan frekuensi berlebihan bukan cara untuk mengatasi masalah mental seperti depresi. Justru, emotional eating bisa menyebabkan kepercayaan diri menurun dan gejala depresi kian buruk. Belum lagi risiko mengalami kenaikan berat badan.
  • Swamedikasi lewat alkohol

Ada banyak bahaya minum alkohol berlebihan, terlebih bagi orang yang mengalami gejala depresi dan cemas berlebih. Dalam jangka pendek, mengonsumsi alkohol mungkin membuat seseorang merasa lebih tenang. Padahal, alkoholisme dapat menyebabkan depresi lebih sulit diatasi bahkan menjadi semakin parah.
  • Swamedikasi lewat psikosimultan

Ada juga orang yang memilih swamedikasi dengan mengonsumsi amfetamin atau kokain. Alasan utamanya karena konsumsi obat-obatan berbahaya ini memunculkan sensasi euforia. Dalam jangka panjang, swamedikasi ini justru menyebabkan kecanduan dan depresi semakin buruk.Bahkan, konsumsi obat-obatan terlarang bisa menyebabkan kerusakan jantung dan gagal jantung. Amfetamin yang dikonsumsi pun bisa membuat fungsi jantung bekerja terlalu cepat dan menyebabkan stroke.
  • Swamedikasi dengan kafein

Ada bahaya minum kopi jika dikonsumsi berlebihan karena toleransi seseorang terhadap kadar kafein berbeda-beda. Pada orang dengan gejala depresi, stimulan berupa kafein dalam kopi dan teh justru bisa menyebabkan disorientasi atau merasa bingung. Tak hanya itu, rasa cemas berlebih dapat meningkat karena swamedikasi dengan cara ini.

Cara menghentikan swamedikasi

Bagi orang yang sudah sadar betul bahaya dari swamedikasi, sebaiknya segera menghentikan praktik ini sebelum terlambat. Tidak ada yang tahu risiko yang bisa muncul dari mengonsumsi obat sembarangan dan swadiagnosis yang tidak tepat sasaran.Beberapa cara menghentikan swamedikasi adalah:
  • Tidak membeli obat tanpa resep dokter
  • Memahami konsekuensi minum obat tanpa resep dokter
  • Sosialisasi kepada orang lain tentang bahaya swamedikasi
Ancaman nyata dari swamedikasi adalah mengalami overdosis yang bisa menyebabkan kematian. Ini bisa terjadi apabila seseorang sembarangan memilih obat yang mereka konsumsi padahal tidak sesuai dengan penyakit yang diderita.Mungkin pada awalnya konsumsi obat sendiri dirasa lebih mudah karena tak perlu memeriksakan diri ke dokter dan bisa langsung diminum. Bagai lingkaran setan, terkadang swamedikasi pun menyebabkan pasien sembuh dan merasa berhasil dengan metode yang dipilihnya.Padahal, sekarang sudah banyak layanan telemedicine yang memungkinkan seseorang berkonsultasi dengan dokter hanya lewat ponsel mereka. Konsultasi secara online bisa dilakukan dengan tenaga medis profesional dan terpilih. Jika tak ada waktu untuk menebus obat pun, sudah banyak layanan yang memudahkan agar seseorang bisa mengakses obat dengan mudah.
hidup sehatminum obatpola hidup sehat
Medlife. https://www.medlife.com/blog/self-medication-risks-exceptions-prevention/
Diakses pada 31 Juli 2020
NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4263675/#:~:text=According%20to%20the%20WHO's%20definition,diseases%20or%20symptoms%20%5B1%5D.
Diakses pada 31 Juli 2020
Healthline. https://www.healthline.com/health/depression/forms-self-medication
Diakses pada 31 Juli 2020
NCBI. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/20615179/#:~:text=Potential%20risks%20of%20self%2Dmedication,severe%20disease%20and%20risk%20of
Diakses pada 31 Juli 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait