logo-sehatq
logo-kementerian-kesehatan
SehatQ for Corporate
TokoObatArtikelTindakan MedisDokterRumah SakitPenyakitChat DokterPromo
Parenting

Bukan Mengintimidasi, Ini Cara Agar Orangtua Menjadi Teladan Bagi Anak

open-summary

Anak-anak adalah peniru ulung. Jika Anda ingin mereka tumbuh dengan karakter yang baik, maka menjadi teladan yang baik bagi anak-anak adalah cara yang bisa dilakukan.


close-summary

0

7 Feb 2021

| Azelia Trifiana

Ditinjau oleh dr. Anandika Pawitri

Menjadi teladan yang baik bagi anak akan menjadikannya memiliki karakter yang baik

Menjadi teladan yang baik bagi anak akan menjadikannya memiliki karakter yang baik

Table of Content

  • Membentuk karakter dengan memberi contoh
  • Catatan dari SehatQ

Anak-anak adalah peniru ulung. Mereka melihat orang dewasa sebagai sosok role model yang menjadi teladan. Inilah celah untuk mendidik mereka menjadi sesuai harapan, yaitu dengan memberikan contoh nyata.

Advertisement

Tak hanya itu, anak juga menyerap informasi seperti halnya spons. Bahkan ketika mereka tampak tidak terlalu memperhatikan, sangat penting untuk tetap menjadi sosok pemberi contoh yang positif.

Membentuk karakter dengan memberi contoh

ibu dan anak
Membentuk karakter anak lewat teladan yang baik

Kunci pembentukan karakter anak dengan memberi contoh. Ini sudah bukan rahasia. Sekarang, pilihan ada pada orangtua. Ingin anak meniru kebiasaan baik atau buruk? Berikut beberapa panduannya menurut Social Learning Theory:

1. Hindari tanpa sadar berperilaku buruk

Kerap kali orangtua bisa berperilaku buruk tanpa disadari. Contohnya mengurangi usia anak dengan sengaja ketika ditanya petugas restoran. Tujuannya agar tidak perlu membayar full price. Dari situ, anak akan berpikir bahwa tidak apa-apa berbohong untuk mendapatkan apa yang diinginkan.

Bukan hanya kebohongan kecil semacam itu. Perbedaan sikap dan apa yang dinasihatkan kepada anak juga bisa menjadi bumerang. Ada orangtua yang meminta anaknya memperlakukan orang lain dengan respek. Padahal, di depan anak-anak pula orangtua membicarakan hal buruk tentang orang.

Kontradiksi ini bisa membuat anak bingung dan pada akhirnya meniru perilaku buruk orangtua. Ingat, mereka adalah peniru ulung yang menyerap apa yang ada di depannya dengan cepat.

2. Komitmen terhadap aturan

Meski mustahil menaatinya 24 jam, setidaknya buatlah aturan untuk hal-hal esensial di rumah. Dengan demikian, anak akan tahu bahwa peraturan memang ada untuk diikuti. Setelah sepakat, tunjukkan contoh bagaimana menaati peraturan.

Bukan sekadar meminta anak menurut saja, tapi jelaskan mengapa kedisiplinan semacam itu penting menjadi bekal hingga mereka dewasa kelak. Apabila orangtua menunjukkan komitmennya terhadap aturan yang ada, strategi mendisiplinkan anak akan jadi semakin efektif.

3. Jelaskan ketika white lies diperlukan

Ada pula kondisi ketika orangtua terpaksa berbohong demi menjaga perasaan orang lain. Apabila anak melihat hal ini, bisa saja mereka merasa bingung mengapa berbohong menjadi diperbolehkan? Segera jelaskan kepada anak-anak tentang apa alasannya.

Contoh sederhana ketika ada saudara atau tetangga mengirimkan makanan, namun rasanya tidak enak. Namun, Anda terpaksa berkata sebaliknya agar tidak menyakiti hati mereka. Ketika ini terjadi, sampaikan kepada anak bahwa Anda terpaksa melakukannya karena pertimbangan tertentu.

Terbukalah kepada anak bahwa segala sesuatu di dunia ini bersifat fleksibel. Sampaikan juga bahwa ketika anak bingung kapan harus berbohong demi menjaga perasaan dan kapan harus jujur, Anda bisa membantunya.

4. Tak mengapa berbuat salah

Melakukan kesalahan sangatlah manusiawi. Justru, terkadang itu bisa menjadi momentum untuk menyampaikan kepada anak bahwa hidup bisa berjalan tidak sesuai ekspektasi. Dari situ, ajak anak berdiskusi apa harapan terhadap hal serupa di kemudian hari.

Di sini pula pentingnya orangtua mengelola emosinya dengan tidak bereaksi meledak-ledak. Mereka akan melihat bahwa menangani konflik juga bisa dilakukan dengan tenang, menjadi teladan yang sangat baik.

5. Gaya hidup sehat

Jangan lupa sejak dini beri contoh gaya hidup sehat dengan membatasi konsumsi junk food serta memperbanyak konsumsi buah dan sayur. Tentu bukan berarti melarang segala jenis makanan karena anak masih berada di tahap mencoba.

Hanya saja, setiap kali berkenalan dengan jenis makanan baru, sampaikan apa yang membuatnya bergizi. Begitu pula sebaliknya. Anak perlu memahami mengapa ada makanan yang disebut baik dan tidak.

6. Menyiasati teknologi

Orangtua tentu punya aturan berapa lama screen time yang diperbolehkan untuk anak-anak. Ini sah-sah saja, namun jangan hanya satu arah. Lihat pula seberapa lama Anda berada di depan layar setiap harinya. Mulai dari di depan ponsel, di depan komputer untuk bekerja, dan seterusnya.

Meskipun apa yang Anda lakukan di depan layar adalah untuk bekerja secara produktif, anak akan tetap menganggapnya sebagai contoh. Jadi, mulailah dari diri sendiri sebelum memberlakukan aturan untuk anak-anak.

7. Asah kemampuan sosial dan emosional

Anak juga perlu tahu bagaimana mengasah kemampuan sosial dan emosional mereka. Tunjukkan cara menyapa orang, bertanya, dan berbicara dengan orang lain dengan sopan. Beri tahu anak apa yang harus dilakukan ketika berkenalan dengan orang baru atau mengajak orang lain bergabung.

Tak kalah penting, tunjukkan pula bagaimana validasi dan mengelola emosi, mulai dari bahagia hingga frustrasi. Tanamkan bahwa membicarakan emosi yang tengah dirasakan bukan hal yang tabu.

Harus ada benang merah antara apa yang dijadikan aturan dalam keluarga dengan bagaimana orangtua memberikan contoh. Untuk bisa menjadi teladan, orangtua perlu memposisikan diri sebagai role model yang baik.

Baca Juga

  • Alasan dan Manfaat Membuang Sampah pada Tempatnya
  • Psikologi Pendidikan, Menakar Bagaimana Manusia Belajar
  • Mengenal Sekolah Adiwiyata Beserta Tujuan dan Programnya

Catatan dari SehatQ

Jika kuncinya adalah dengan menunjukkan contoh, sekarang tinggal bagaimana orangtua sebisa mungkin bersikap baik. Dengan harapan, anak akan meniru apa yang kerap dilihatnya.

Untuk berdiskusi lebih lanjut tentang role model dalam peran sebagai orangtua, tanyakan langsung pada dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Download sekarang di App Store dan Google Play.

Advertisement

tips parentingibu dan anakgaya parenting

Referensi

Terima kasih sudah membaca.

Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?

(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Bagikan

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Advertisement

logo-sehatq

Langganan Newsletter

Jadi orang yang pertama tahu info & promosi kesehatan terbaru dari SehatQ. Gratis.

Metode Pembayaran

Bank BCABank MandiriBank BNIBank Permata
Credit Card VisaCredit Card Master CardCredit Card American ExpressCredit Card JCBGopay

Fitur

  • Toko
  • Produk Toko
  • Kategori Toko
  • Toko Merchant
  • Booking
  • Promo
  • Artikel
  • Chat Dokter
  • Penyakit
  • Forum
  • Review
  • Tes Kesehatan

Perusahaan

Follow us on

  • FacebookFacebook
  • TwitterTwitter
  • InstagramInstagram
  • YoutubeYoutube
  • LinkedinLinkedin

Download SehatQ App

Temukan di APP StoreTemukan di Play Store

Butuh Bantuan?

Jam operasional: 07.00 - 20.00

Hubungi Kami+6221-27899827

Kumpulan Artikel dan Forum

© SehatQ, 2022. All Rights Reserved