Buat Otak Rileks dan Fokus, Apa Saja Manfaat Akar Wangi?

Selain harum, akar wangi dapat digunakan untuk obat-obat
Sesuai namanya akar wangi memiliki aroma yang menyenangkan

Sejak lama, akar wangi digunakan sebagai obat tradisional. Utamanya, bagi orang yang bermasalah dengan nyeri perut, keluhan sirkulasi darah, dan juga saraf. Biasanya, manfaat akar wangi bisa juga dimanfaatkan dalam bentuk essential oil sama seperti minyak serai wangi.

Seperti namanya, akar wangi memiliki aroma cukup tajam dan menenangkan. Tak hanya untuk pengobatan medis, manfaat akar wangi juga dimanfaatkan untuk mengusir serangga.

Manfaat akar wangi

Akar wangi banyak digunakan sebagai kandungan utama essential oil dan aromaterapi. Beberapa manfaat akar wangi untuk kesehatan di antaranya:

1. Otak lebih waspada

Berdasarkan uji laboratorium pada binatang di tahun 2016, menghirup aroma minyak akar wangi dapat meningkatkan kewaspadaan dan fungsi otak. Lebih jauh lagi, minyak akar wangi bisa membuat otak lebih fokus mengerjakan tugas dan waspada terhadap apa yang terjadi di sekitar.

2. Meningkatkan kualitas tidur

Manfaat akar wangi juga bisa dimanfaatkan dengan meneteskan minyaknya di diffuser. Dalam penelitian tahun 2010, sebanyak 36 orang yang menghirup minyak akar wangi saat tidur terbukti lebih nyenyak dan tidak ngorok

3. Meredakan cemas berlebih

Manfaat akar wangi juga bermanfaat bagi orang yang mengalami cemas berlebih. Dalam uji coba pada binatang tahun 2015, tikus yang menghirup aroma minyak akar wangi menjadi lebih rileks. Penelitian dampaknya pada manusia terus dikembangkan.

4. Mengusir serangga

Mengaplikasikan minyak akar wangi pada kulit juga membantu mengusir serangga. Tak hanya itu, temuan tahun 2015 juga menyebut minyak akar wangi dapat mengusir kutu karena sifatnya yang beracun.

5. Mengandung antioksidan

Akar wangi juga mengandung antioksidan tinggi sehingga membuat tubuh terhindar dari stres oksidatif. Tak hanya itu, kandungan antioksidan memaksimalkan fungsi tubuh dan mencegah penuaan dini. Penggunaannya biasanya lewat minyak akar wangi.

7. Mengatasi depresi

Tak hanya cemas berlebih, macam-macam gangguan psikologis seperti depresi hingga ADHD juga bisa mendapatkan manfaat akar wangi. Tak hanya lewat essential oil, manfaat minyak narwastu yang serupa dengan akar wangi juga bisa menghilangkan stres pemicu depresi.

Sementara untuk orang yang mengalami attention deficit hyperactivity disorder atau ADHD, manfaat akar wangi dapat mencegah orang merasa lelah secara mental. Tak hanya itu, orang dengan ADHD juga bisa menjadi lebih fokus pada apa yang sedang dilakukan.

Cara menggunakan minyak akar wangi

Minyak akar wangi aman dihirup sebagai aromaterapi atau dicampurkan dalam diffuser. Selain itu, minyak akar wangi juga bisa dioleskan langsung ke kulit setelah dicampurkan dengan carrier oil seperti minyak kelapa. Caranya adalah mencampur 1-2 tetes minyak akar wangi dengan 10 tetes carrier oil.

Meski demikian, penggunaan minyak akar wangi harus sesuai dengan dosis. Ibu hamil atau menyusui sebaiknya konsultasi terlebih dahulu dengan dokter spesialis kandungan untuk tahu apakah aman untuk menggunakannya.

Catatan dari SehatQ

Ada risiko keracunan dari minyak akar wangi, namun hanya bagi mereka yang memiliki alergi tertentu. Jika belum tahu apakah memiliki alergi terhadap akar wangi atau tidak, aplikasikan terlebih dahulu lewat patch test untuk tahu reaksinya dalam kurun waktu 24-48 jam.

Sementara untuk menghirup aroma akar wangi, sebaiknya lebih berhati-hati jika digunakan oleh anak-anak. Belum tentu anak berusia di bawah 2 tahun aman menghirup atau dioleskan minyak akar wangi.

Hingga kini, penelitian tentang manfaat akar wangi masih terus berkembang. Utamanya, dalam kaitannya dengan membuat otak menjadi lebih tenang dan fokus.

Healthline. https://www.healthline.com/health/vetiver-oil
Diakses 8 Mei 2020

WebMD. https://www.webmd.com/vitamins/ai/ingredientmono-695/vetiver
Diakses 8 Mei 2020

Verywell Health. https://www.verywellhealth.com/the-benefits-of-spikenard-essential-oil-88802
Diakses 8 Mei 2020

NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4805151/
Diakses 8 Mei 2020

Artikel Terkait