Bruntusan pada Bayi, Tak Bahaya tapi Bisa Ganggu Tidur Bayi


Bruntusan pada bayi terjadi ketika ada sumbatan kelenjar keringat di lapisan epidermis kulit. Kenali cara mengatasi bruntusan pada bayi dan pencegahannya.

(0)
15 Nov 2019|Azelia Trifiana
Ditinjau olehdr. Karlina Lestari
Biasanya, bruntusan pada bayi akan hilang dengan sendirinya setelah beberapa waktu.Bruntusan pada bayi biasanya semakin parah saat cuaca panas
Wajar jika orangtua merasa panik melihat bruntusan pada bayi mereka. Bruntusan kerap terjadi pada bayi baru lahir karena kulit mereka masih sangat sensitif. Umumnya, bruntusan tidak berbahaya namun bisa membuat bayi merasa tidak nyaman.

Penyebab bruntusan pada bayi

Bruntusan pada bayi muncul ketika keringat tersumbat di bawah kulit. Bayi baru lahir memiliki kelenjar keringat yang sangat kecil dan belum bisa mengendalikan temperatur tubuhnya sendiri. Itulah mengapa bruntusan kerap dialami bayi. Selain itu, sumbatan juga disebabkan oleh bakteri Staphylococcus epidermidis.Biasanya, bruntusan pada bayi terlihat di bagian-bagian lipatan seperti leher, ketiak, paha, punggung, dada, dan banyak lagi. Kondisi ini semakin parah saat cuaca panas dan bayi lebih mudah berkeringat.

Jenis bruntusan pada bayi

Jika dilihat lebih detil lagi, bruntusan pada bayi umumnya dibedakan dalam 2 kondisi, yakni baby eksim atau jerawat bayi dan milia. Ciri-ciri baby eksim lebih cenderung menampakan warna merah pada kulit, sedangkan milia berwarna putih. Bruntusan pada bayi juga bisa dibedakan menjadi beberapa jenis berdasarkan tingkat keparahannya, yaitu:

1. Miliaria rubra

Ini adalah jenis bruntusan pada bayi yang paling sering terjadi. Pemicunya sama, kelenjar keringat yang tersumbat di lapisan epidermis dan dermis kulit. Bruntusan jenis miliaria ruba terlihat menyebabkan tekstur kulit tidak rata dan warna kemerahan hingga rasa gatal.

2. Miliaria crystallina

Jenis bruntusan berikutnya adalah miliaria crystallina yang merupakan kondisi bruntusan paling tidak parah. Kulit bayi akan terlihat bruntusan namun tidak berwarna kemerahan.

3. Miliaria profunda

Jenis bruntusan ini adalah yang paling parah namun jarang terjadi. Penderitanya akan merasakan sensasi terbakar di kulit bahkan merasa lesu dan kehabisan energi. Bruntusan ini juga rentan mengalami infeksi.

4. Miliaira pustulosa

Jenis bruntusan yang juga parah karena muncul kantung-kantung berisi cairan kuning di permukaan kulit. Apabila pecah, ada kemungkinan luka ini mengeluarkan darah.

Cara mengatasi bruntusan pada bayi

Biasanya, bruntusan pada bayi akan hilang dengan sendirinya setelah beberapa waktu. Meski demikian, sebaiknya jangan menunda mengatasi bruntusan dengan beberapa cara seperti:
  • Memastikan suhu ruangan tidak lembap
  • Menjaga kulitnya tidak berkeringat, lembap, dan tetap kering. 
  • Memberikan kompres dingin ke area yang mengalami bruntusan
  • Memandikan bayi dengan air hangat dan tidak menggunakan sabun
  • Usai mandi, keringkan tubuh bayi secara alami tanpa menggunakan handuk
  • Membasuh keringat dengan air dingin dan keringkan hingga tuntas
  • Membersihkan area lipatan kulit agar bruntusan tidak semakin parah
  • Banyak memberikan cairan seperti ASI atau susu formula untuk menjaga agar bayi tidak dehidrasi
  • Jaga jangan sampai bayi menggaruk area kulit yang mengalami bruntusan
  • Memakai losion calamine
Sebaiknya, jangan berikan krim khusus mengatasi bruntusan tanpa saran dari dokter. Ingat, bruntusan yang bukan merupakan reaksi alergi tak perlu diobati dan bisa sembuh dengan sendirinya. Memberikan krim khusus bisa jadi tidak mengatasi masalah ini.Namun apabila bruntusan semakin parah, segera periksakan anak Anda ke dokter. Biasanya, dokter akan meresepkan krim steroid jika bruntusan semakin parah dan membuat bayi tidak nyaman.

Cara mencegah bruntusan pada bayi

Memang tidak ada orangtua yang ingin anaknya mengalami bruntusan. Untuk mencegahnya, lakukan beberapa hal berikut:
  • Memakaikan baju sesuai dengan cuaca, jangan selalu membedong atau memakaikan selimut sepanjang hari
  • Pilih baju dengan bahan yang bisa menyerap keringat seperti katun
  • Hindari bayi terpapar langsung matahari, termasuk saat menjemur bayi
  • Jika bayi terpantau berkeringat berlebih, pindahkan ke tempat yang lebih dingin
  • Jangan mengoleskan krim tanpa resep dokter
  • Hindari penggunaan produk dengan bahan yang keras
  • Jaga kebersihan wajah bayi seperti mencuci wajah bayi setiap hari dengan air hangat
Bruntusan pada bayi tidaklah berbahaya. Umumnya, bruntusan karena cuaca panas bisa mereda dengan sendirinya setelah beberapa hari. Meski demikian, terus pantau apakah bruntusan pada bayi membaik dan jaga jangan sampai masalah kulit ini mengganggu kualitas istirahat si Kecil.
bayikeringatmasalah kulitbiang keringat
Healthline. https://www.healthline.com/health/childrens-health/baby-acne-or-rash#Eczema
Diakses 13 November 2019
Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/324702.php#prevention
Diakses 13 November 2019
NHS. https://www.nhs.uk/conditions/heat-rash-prickly-heat/
Diakses 13 November 2019
Today’s Parent. https://www.todaysparent.com/baby/baby-health/4-best-ways-to-treat-baby-heat-rash/
Diakses 13 November 2019
WebMD. https://www.webmd.com/skin-problems-and-treatments/understanding-heat-rash-basics
Diakses 13 November 2019
Mayoclinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/milia/symptoms-causes/syc-20375073 Diakses pada 13 Oktober 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)
0

Artikel Terkait