Bronkodilator, Obat untuk Atasi Asma hingga PPOK


Bronkodilator adalah obat yang bekerja dengan cara mengendurkan otot-otot saluran pernapasan agar aliran udara menjadi lebih lancar. Biasanya, obat ini diberikan untuk mengatasi masalah sesak napas akibat asma atau PPOK.

0,0
Obat bronkodilator bekerja dengan cara melancarkan aliran udaraObat golongan bronkodilator diberikan untuk membantu meredakan gejala sesak napas karena asma atau PPOK
Penyempitan saluran napas akibat asma maupun penyakit pernapasan lain kerap kali menimbulkan gejala, seperti batuk, mengi, hingga sesak napas. Untuk mengatasi kondisi ini, dokter biasanya merekomendasikan penggunaan bronkodilator. Simak ulasan lengkap mengenai obat bronkodilator beserta jenis, cara pakai, hingga efek samping yang mungkin ditimbulkan. 

Apa itu obat bronkodilator?

Bronkodilator berfungsi meredakan gejala sesak napas
Bronkodilator berfungsi meredakan gejala sesak napas
Bronkodilator adalah jenis obat yang dapat memperlancar aliran udara dari dan ke paru-paru sehingga membuat pernapasan lebih mudah. Bronkodilator bekerja dengan cara mengendurkan otot-otot di saluran pernapasan dan melebarkan saluran udara (bronkus). Dengan begitu, aliran udara di saluran sistem pernapasan menjadi lebih lancar. Obat bronkodilator digunakan untuk mengobati kondisi yang terjadi akibat penyempitan atau peradangan saluran pernapasan, seperti:
  • Asma
  • Bronkitis
  • Penyakit paru obstruktif kronis (PPOK)
Mengutip dari Cleveland Clinic, terdapat dua jenis obat bronkodilator jika dilihat dari efek kerjanya, yaitu:
  • Jangka pendek (short acting): untuk sesak napas yang datang tiba-tiba dan tak terduga, seperti pada saat serangan asma atau perburukan gejala (flare-up) PPOK.
  • Jangka panjang (long acting): berguna untuk mengontrol gejala sesak napas. Tujuannya biasanya sekaligus mencegah serangan asma atau perburukan gejala, dan meningkatkan keampuhan obat kortikosteroid pada asma.

Jenis bronkodilator dan cara pakainya

Penggunaan inhaler menjadi salah satu cara pemberian obat bronkodilator
Penggunaan inhaler menjadi salah satu cara pemberian obat bronkodilator
Terdapat 3 jenis obat bronkodilator yang umum digunakan untuk mengatasi sesak napas, yaitu agonis beta-2, antikolinergik, dan teofilin.

1. Agonis beta-2

Agonis beta-2 merupakan obat golongan bronkodilator yang bekerja dengan cara merangsang reseptor beta-2 di otot yang melapisi saluran udara (bronkus). Dengan begitu, otot-otot bronkus menjadi lebih relaks. Otot yang relaks kemudian memungkinkan saluran udara melebar dan udara mengalir dengan lebih mudah. Agonis beta-2 dalam bronkodilator digunakan dengan cara menghirupnya menggunakan inhaler. Namun, tersedia pula dalam bentuk tablet dan sirup. Pada kondisi sesak napas berat, pemberian obat bronkodilator agonis beta-2 dapat dilakukan lewat injeksi atau proses nebulisasi. Agonis beta-2 dapat digunakan sebagai bronkodilator jangka panjang ataupun jangka pendek. Contoh obat bronkodilator jenis ini antara lain:
  • Salbutamol (Azmacon, Salbuven, Suprasma)
  • Salmeterol (Respitide, Salmeflo, Flutias)
  • Formoterol (Innovair, Symbicort)
  • Vilanterol

2. Antikolinergik

Antikolinergik, dikenal juga sebagai antimuskarinik, bekerja dengan cara melebarkan saluran udara pernapasan dengan menghalangi saraf kolinergik. Saraf kolinergik biasanya melepas bahan kimia yang membuat otot-otot di saluran udara mengencang. Penggunaan obat ini dilakukan dengan cara dihirup menggunakan inhaler, tapi dapat diberikan melalui nebulizer pada kondisi gejala yang lebih parah dan mendadak. Sama seperti agonis beta-2, golongan bronkodilator jenis antikolinergik dapat digunakan sebagai obat jangka panjang maupun jangka pendek. Contoh obat bronkodilator jenis ini antara lain:
  • Ipratropium (Atrovent, Midatro)
  • Tiotropium (Spiriva)
  • Aclidinium (Eklira Genuiar)
  • Glycopyrronium (Ultibro Breezhaler)

3. Teofilin (theophylline)

Satu lagi jenis obat bronkodilator yang dapat mengurangi gejala penyempitan saluran napas adalah teofilin. Efek teofilin terbilang lebih rendah dibandingkan bronkodilator dan kortikosteroid lainnya. Penggunaan obat ini dilakukan dengan cara diminum dalam bentuk tablet maupun kapsul. Namun, pada kondisi darurat, teofilin dapat diberikan langsung ke pembuluh darah (intravena) dalam bentuk aminofilinBerbeda dengan kedua jenis sebelumnya, teofilin hanya dapat digunakan sebagai jangka panjang. Obat ini juga cenderung menyebabkan efek samping yang lebih berat dibandingkan kedua kelompok obat lainnya. 

Efek samping bronkodilator

Umumnya bronkodilator aman, tapi efek samping seperti batuk mungkin muncul
Umumnya bronkodilator aman, tapi efek samping seperti batuk mungkin muncul
Secara umum, jika digunakan sesuai dengan petunjuk dokter, obat bronkodilator aman. Namun, seperti juga obat lainnya, tetap ada risiko efek samping yang mungkin muncul.Efek samping yang timbul akibat penggunaan obat bronkodilator dapat berbeda pada tiap individu, tergantung kondisi, jenis, dan dosis obat yang digunakan. Berikut ini beberapa efek samping bronkodilator yang paling umum:
  • Sakit kepala
  • Tangan gemetar
  • Mulut kering
  • Batuk
  • Palpitasi atau detak jantung tidak beraturan
  • Kram otot
  • Mula dan muntah
  • Diare
Itu sebabnya, penting bagi Anda untuk berkonsultasi dengan dokter terlebih dulu sebelum menggunakan bronkodilator untuk meredakan sesak napas. Nantinya dokter akan menentukan jenis dan dosis yang sesuai dengan kondisi asma, PPOK, atau masalah pernapasan Anda lainnya. Selain itu, sebelum mengonsumsi bronkodilator, pastikan Anda:
  • Menyampaikan pada dokter mengenai riwayat alergi obat, khususnya bronkodilator.
  • Memberi tahu dokter jika memiliki penyakit diabetes, hipertensi, jantung, aritmia, pembesaran prostat, penyakit liver, penyakit lambung, epilepsi dan hipertiroidisme
  • Menginformasikan apabila dalam keadaan hamil atau menyusui
Konsultasikan pula masalah kesehatan Anda dengan dokter ahli kami melalui fitur chat dokter melalui aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Download aplikasinya di App Store dan Google Play sekarang!
penyakit paru-paruasmasesak napasradang paru-paruppokbronkodilator
National Health Service. https://www.nhs.uk/conditions/bronchodilators/
Diakses pada 18 Juni 2021
Cleveland Clinic. https://my.clevelandclinic.org/health/treatments/17575-bronchodilators--asthma
Diakses pada 18 Juni 2021
Almadhoun K, Sharma S. Bronchodilators. [Updated 2021 May 7]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2021 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK519028/
Diakses pada 18 Juni 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait