Bisakah Ibu Hamil Menularkan Virus Corona ke Janin yang Dikandungnya?

Ibu hamil tidak akan menularkan COVID-19 pada janin
Tak sedikit ibu hamil yang berpikir bahwa virus corona mungkin saja dapat menyerang janin dalam kandungan

Virus corona memang masih membuat sebagian besar masyarakat menjadi resah. Terlebih, sejak Presiden Joko Widodo mengumumkan adanya dua orang warga Indonesia yang dinyatakan positif terinfeksi COVID-19 pada Senin, 3 Maret 2020 lalu.

Kekhawatiran akan kasus COVID-19 juga tentunya dirasakan oleh ibu hamil. Tak sedikit ibu hamil yang berpikir bahwa virus corona mungkin saja dapat menyerang janin yang ada di dalam kandungannya. Lantas, benarkah demikian? 

Ibu hamil tidak akan menularkan virus corona pada janin

Virus corona yang ditemukan pertama kali di Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok telah menyebar sangat cepat dan menginfeksi lebih dari 60 ribu orang di sekitar 60 negara berbeda di dunia, tak terkecuali di Indonesia.

Lantaran sudah ada kasus positif terinfeksi COVID-19 di Indonesia, tak sedikit masyarakat yang menjadi semakin resah, termasuk ibu hamil. Tak ayal bila para ibu hamil memiliki kekhawatiran bila virus corona dapat menyerang janin yang tengah dikandungnya.

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat, belum ada laporan ilmiah yang dapat membuktikan kerentanan perempuan hamil terhadap virus corona.

Perempuan hamil mengalami perubahan imunologis dan fisiologis yang mungkin membuatnya lebih rentan terhadap infeksi pernapasan virus, termasuk virus corona. COVID-19 dapat menyebar melalui tetesan cairan tubuh penderita, seperti air liur saat batuk dan bersin.

Namun, dalam serangkaian kasus baru pada bayi lahir dari ibu yang terinfeksi COVID-19, tidak terdapat bayi yang terbukti positif terkena virus tersebut.

Sebuah studi pun juga dilakukan guna meneliti kerentanan ibu hamil terhadap penyakit pernapasan. Studi tersebut berawal ketika ada bayi baru lahir yang ibunya terinfeksi COVID-19 pada kurun waktu 36 jam setelah melahirkan.

Berita tersebut kemudian mendorong para ilmuwan untuk mencari tahu apakah COVID-19 dapat ditularkan ke janin di dalam rahim atau tidak. Studi yang dilakukan melibatkan 9 orang wanita hamil pada trimester ketiga berusia 26-40 tahun yang didiagnosis mengidap pneumonia yang disebabkan oleh COVID-19.

Hasil studi mengungkapkan bahwa virus tidak dapat ditularkan dari ibu ke janin di dalam rahim. Kesembilan wanita tersebut sukses melahirkan bayi mereka melalui persalinan Caesar.

Wei Zhang, seorang profesor sekaligus peneliti studi dari Universitas Northwestern Feinberg School of Medicine mengungkapkan bahwa virus corona tampaknya tidak dapat menular melalui penularan secara vertikal, seperti cairan ketuban, darah tali pusat, atau air susu ibu (ASI).

Sampel cairan ketuban, darah tali pusat, ASI, dan usap tenggorokan neonatal kesembilan partisipan studi yang telah diuji untuk sindrom pernapasan akut coronavirus 2 (SARS-Cov-2), ternyata didapatkan hasil semuanya negatif.

Akan tetapi, masih terlalu dini untuk mengetahui dampak pada bayi yang ibunya terinfeksi COVID-19.

Pasalnya penelitian hanya dilakukan pada wanita hamil trimester ketiga sehingga tidak dapat diketahui efeknya terhadap wanita hamil dengan usia kehamilan trimester pertama pertama dan kedua.

Selain itu, partisipan studi yang diteliti seluruhnya melalui persalinan Caesar. Jadi, belum dapat diketahui efeknya pada wanita yang melahirkan secara normal.

Cara virus corona menular ke janin pun masih belum dapat diketahui. Dr. Jennifer Wu, seorang obgyn di Lenox Hill Hospital, menyatakan bahwa bila virus menyebar melalui tetesan cairan pernapasan, maka risiko penularan seharusnya akan sama antara persalinan normal dan persalinan Caesar.

Namun, jika infeksi virus menyebar melalui darah atau cairan tubuh, seperti HIV, maka risiko penularan virus dapat dikurangi melalui operasi Caesar.

informasi selengkapnya mengenai virus corona

Adakah dampak negatif pada bayi yang lahir dari ibu yang terinfeksi COVID-19?

Sampai saat ini belum ditemukan laporan ilmiah yang mengungkapkan dampak negatif pada bayi yang lahir dari ibu yang terinfeksi COVID-19.

Akan tetapi, kondisi bayi lahir prematur, bayi cacat lahir, berat badan lahir rendah, merupakan beberapa dampak negatif yang terjadi pada kasus infeksi virus corona lainnya, seperti SARS-CoV dan MERS-CoV, selama masa kehamilan.

Cara melindungi diri dari penularan COVID-19 pada ibu hamil

COVID-19 adalah penyakit baru sehingga pencegahan dan pengobatan penularannya pun masih terus dikembangkan, termasuk pada ibu hamil. Untuk sementara waktu, Anda dapat melindungi diri dari infeksi virus corona dengan melakukan langkah-langkah sebagai berikut:

  • Sering cuci tangan menggunakan air mengalir dan sabun atau hand sanitizer yang mengandung alkohol.
  • Saat bersin atau batuk, JANGAN tutup mulut dengan telapak tangan, TETAPI menggunakan tisu atau siku bagian dalam.
  • Jangan menyentuh mulut, mata, atau hidung, sebelum mencuci tangan sampai bersih.
  • Hindari berdekatan dengan orang yang sedang sakit.
  • Jangan berbagi benda apa pun bersama dengan orang lain yang sedang sakit. Ini termasuk gelas, peralatan makan, selimut, atau handuk.
  • Jangan bepergian apabila sedang sakit, termasuk ke sekolah, kantor, ataupun tempat umum lainnya.

Catatan dari SehatQ

Hasil penelitian terbaru mengungkapkan bahwa jenis virus corona baru tidak dapat menular dari ibu hamil ke janin yang tengah dikandungnya. Pada penelitian tersebut, seluruh partisipan ibu hamil yang diteliti berhasil melahirkan melalui proses persalinan Caesar.

Akan tetapi, masih perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai kerentanan ibu hamil terhadap penularan penyakit pernapasan. Yang terpenting, pastikan Anda selalu menjaga kesehatan dan kebersihan guna meminimalkan terjadinya risiko penularan virus corona pada ibu hamil.

Healthline. https://www.healthline.com/health-news/coronavirus-may-less-harmful-for-children-pregnant-women#The-infection-appears-less-severe-in-children

Diakses pada 4 Maret 2020

Centers for Disease Control and Prevention. https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/specific-groups/pregnancy-faq.html

Diakses pada 4 Maret 2020

The Lancet. https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0140673620303603

Diakses pada 4 Maret 2020

Artikel Terkait