Bisa Dibeli Tanpa Resep Dokter, Ini 6 Penyalahgunaan Obat Medis yang Sering Terjadi

(0)
13 Aug 2020|Azelia Trifiana
Penyalahgunaan obat bukan hanya dari narkotika tetapi obat resep dokterBeberapa obat yang dibeli dari apotik dapat disalahgunakan
Ada saja kasus penyalahgunaan obat medis yang dilakukan dengan sengaja, yaitu dengan mengonsumsi obat medis bukan untuk kepentingan medis. Penyalahgunaan obat ini dapat menyebabkan dampak negatif bagi kesehatan mulai dari ketagihan, overdosis, hingga kematian.Bahkan obat-obatan yang tidak termasuk NAPZA pun bisa menyebabkan seseorang kecanduan. Contohnya pada orang yang melakukan swamedikasi, bisa saja merasa tergantung pada jenis obat tertentu yang pernah diresepkan padanya.

Penyalahgunaan obat medis yang sering terjadi

Banyak jenis obat medis yang berpotensi disalahgunakan. Di bawah ini adalah daftar obat medis yang paling sering dikonsumsi secara berlebihan, yaitu:

1.Opioid

Dokter kerap kali meresepkan opioid untuk pereda nyeri. Apabila dikonsumsi sesuai dosis, opioid aman dan efektif untuk meredakan nyeri terutama untuk pasien yang baru mengalami cedera, pemulihan dari operasi, atau penderita penyakit kronis.Sebagian besar opioid dikonsumsi lewat mulut atau oral. Penyalahgunaan obat opioid bisa dilakukan dengan menghancurkan tablet sehingga berbentuk bubuk kemudian disuntikkan atau dihisap dengan hidung. Cara ini membuat obat bereaksi dengan cepat dan memunculkan sensasi “high”.Belum lagi jika obat opioid disalahgunakan dan masuk ke dalam aliran darah, maka kemungkinan mengalami ketergantungan pun semakin besar. Penyalahgunaan obat medis jenis opioid sangat berbahaya dan dapat menyebabkan kematian.

2. Stimulan

Ada banyak obat yang bersifat stimulan dan umumnya diresepkan untuk penderita masalah tidur atau ADHD. Cara kerja obat ini adalah meningkatkan rasa waspada, fokus, dan energi orang yang mengonsumsinya.Jika disalahgunakan, stimulan biasanya dikonsumsi lewat oral atau dihancurkan dan dicampurkan dengan air kemudian disuntikkan ke dalam tubuh. Cara ini berpotensi menyebabkan masalah pada jantung. Gejala awal bahaya adalah detak jantung tidak beraturan, tekanan darah tinggi, hingga kerusakan jantung.Tak kalah penting, stimulan juga bisa bereaksi semakin keras apabila dikonsumsi bersamaan dengan obat flu yang mengandung dekongestan. Campuran obat ini bisa menyebabkan tekanan darah tinggi sekaligus detak jantung tak beraturan.

3. Depresan

Jenis obat yang juga kerap disalahgunakan adalah depresan. Biasanya, obat ini digunakan sebagai anestesi, obat kejang, dan dulu digunakan untuk meredakan rasa cemas bagi penderita insomnia. Overdosis obat depresan bisa menyebabkan seseorang tidak sadarkan diri, gagal pernapasan, hingga kematian.

4. Dextromethorphan (DXM)

Jika banyak melihat berita orang mengalami overdosis dengan obat batuk yang dijual di pasaran, kandungan dextromethorphan di dalamnya adalah pemicunya. Biasanya, substansi ini ada dalam obat batuk tablet maupun sirup.Potensi penyalahgunaan obat dengan kandungan DXM sangat besar karena menimbulkan sensasi yang berpengaruh terhadap kondisi mental seseorang. Dextromethorphan menyerang bagian otak yang sama seperti ketamine.Jika dikonsumsi dalam dosis tinggi, DXM bisa membuat seseorang mual dan muntah. Tak hanya itu, tekanan darah dan detak jantung pun meningkat hingga membuat orang yang mengonsumsinya tidak bisa menjalankan fungsi motorik dengan optimal. Bahkan jika mengalami overdosis, asupan oksigen ke otak bisa berkurang.

5. Obat tidur

Orang yang mengalami masalah dengan siklus tidur bisa mendapatkan resep obat seperti zolpidem, eszopiclone, dan zaleplon. Tujuannya agar seseorang bisa beristirahat sesuai kebutuhan tubuhnya. Namun apabila dikonsumsi dalam dosis berlebihan dan durasi terlalu lama, bisa terjadi penyalahgunaan obat. Akibatnya, tubuh selalu meminta obat ini untuk bisa tidur.

6. Pseudoephedrine

Kandungan pseudoephedrine biasanya ada dalam obat penurun demam yang bisa dibeli bebas tanpa resep dokter. Zat ini juga ada dalam obat terlarang seperti methamphetamine. Itulah mengapa di beberapa negara seperti Amerika Serikat, pembelian obat yang mengandung pseudoephedrine diatur lebih ketat.

Catatan dari SehatQ

Obat-obatan medis yang dijual di pasaran belum tentu lebih aman ketimbang obat-obatan NAPZA hanya karena mudah dibeli. Tetap saja ada risiko penyalahgunaan obat medis baik entah itu dari dosis maupun durasi penggunaannya. Perhatikan pula reaksi negatif dari konsumsi beberapa jenis obat sekaligus di saat bersamaan karena dapat berdampak negatif bagi tubuh.
obat penenanghidup sehatpola hidup sehat
WebMD. https://www.webmd.com/mental-health/addiction/ss/slideshow-commonly-abused-drugs
Diakses pada 2 Agustus 2020
Verywell Mind. https://www.verywellmind.com/commonly-abused-medications-67818
Diakses pada 2 Agustus 2020
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/prescription-drug-abuse/symptoms-causes/syc-20376813
Diakses pada 2 Agustus 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait