Alasan Pentingnya Pendidikan Seks untuk Anak Sejak Usia Dini


Pendidikan seks memiliki peran penting untuk tumbuh kembang anak, mulai dari mencegahnya dari penyakit menular seksual hingga mengajarinya tentang anatomi tubuh.

0,0
09 Dec 2019|Fadli Adzani
Ditinjau olehdr. Reni Utari
Pendidikan seks untuk anak harus diajarkan sejak dini, namun harus menyesuaikan dengan usia sang anak.Pendidikan seks untuk anak memang cukup menantang untuk disampaikan.
Pendidikan seks masih dianggap tabu di tengah masyarakat. Karena ranahnya pribadi, pembahasan tentang seks sering kali dihindari. Padahal, anak-anak perlu mengetahui pentingnya pendidikan seks untuk kehidupan mereka kelak. Di sinilah peran orangtua dinilai penting.Pendidikan seks untuk anak memiliki peran yang sangat krusial untuk kehidupan seks serta kesehatan reproduktif mereka di masa depan. Sebab, tanpa pendidikan seks yang baik, anak-anak bisa terpapar terhadap dampak negatif dari pertemanan yang berisiko. Seberapa pentingkah pendidikan seks untuk anak?

Pentingnya pendidikan seks untuk anak

Pendidikan seks adalah informasi mengenai perkembangan tubuh, seks, seksualitas, dan hubungan. Salah satu tujuan pendidikan seks yang utama adalah mengajari anak-anak bagaimana caranya berkomunikasi dan membuat keputusan yang tepat mengenai seks dan kesehatan seksual mereka.Pengertian pendidikan seks ini perlu dipahami oleh anak-anak supaya mereka tidak salah mengartikannya.Simak berbagai alasan mengapa edukasi seks penting untuk diberikan kepada anak sejak usia dini.

1. Mencegah penyakit menular seksual

Salah satu pentingnya mengajarkan edukasi seks pada anak adalah mencegah penyakit menular seksual. Saat anak mengetahui seberapa bahayanya hubungan seks di luar nikah, mereka dapat menghindarinya sehingga risiko penyakit menular seksual dapat dicegah.

2. Mencegah kehamilan di luar nikah

Dalam pendidikan seks, anak-anak dapat diberi pemahaman tentang dari hubungan seks di luar nikah, salah satunya kehamilan yang tak direncanakan.Dengan begitu, anak-anak dapat melakukan tindakan preventif agar mereka tidak melakukan hubungan seks yang berisiko.

3. Menjaga performa akademis di sekolah

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) menyatakan, pelajar yang tidak melakukan hubungan seks berisiko memiliki nilai akademis yang lebih tinggi dibanding pelajar yang melakukan hubungan seks .Pasalnya, kehamilan di luar nikah atau penyakit menular seksual akibat hubungan seks berisiko dapat membuat pelajar sering absen sekolah dan membuat mereka berisiko dikeluarkan atau dropout.

4. Mengajarkan anak tentang anatomi tubuh

Pendidikan seksual sejak dini dinilai penting untuk anak agar bisa mengenal anatomi tubuh, terutama alat reproduksi mereka.Tidak hanya itu, pendidikan seks mampu mengajarkan anak tentang pubertas dan perubahan bentuk tubuh yang akan mereka alami saat beranjak dewasa.

5. Mengajarkan anak untuk mengatakan 'tidak'

Pentingnya pendidikan seksual sejak dini yang tak boleh diremehkan adalah mengajarkan anak untuk mengatakan 'tidak' saat mereka diajak untuk berhubungan seksual di luar nikah.Dalam pendidikan seks, anak-anak dibekali dengan bahaya penyakit menular seksual hingga hamil di luar nikah. Berbagai hal ini dapat membuat anak belajar untuk menolak saat mereka diajak berhubungan seksual berisiko.Terlebih lagi, edukasi seksual dapat membuat anak memahami mana yang baik dan juga buruk.

Pendidikan seks untuk anak perlu peran orangtua

Sebagai orangtua, mungkin Anda juga masih bingung dengan pemilihan bahasa dan cara yang baik saat berbicara tentang pendidikan seks dengan anak-anak. Maka dari itu, berkonsultasi dengan psikolog adalah hal yang tepat untuk membantu Anda supaya nyaman saat berbincang kepada mereka.Marcelina Melisa, M.Psi., seorang psikolog anak dari lembaga konsultasi psikologi TigaGenerasi dan konselor di North Jakarta Intercultural School, menjabarkan pentingnya pendidikan seks untuk anak. Ia juga menyampaikan beberapa saran untuk orangtua yang sedang bingung mencari cara dalam memberikan pendidikan seks dengan tepat untuk anak-anak mereka.

Kapan anak harus mendapatkan pendidikan tentang seks?

Pendidikan seks identik dengan pengetahuan yang diberikan saat anak menginjak masa pra-pubertas atau pubertas. Namun sebenarnya, pendidikan seks sebaiknya diberikan pada masa awal (sejak anak berusia dini), tentunya melalui penyampaian materi yang disesuaikan dengan rentang usia anak. Sebab, kesadaran akan kepemilikan tubuh, kesehatan dan kebersihan tubuh harus dilatih sejak anak masih kecil.
  • Anak usia 2 tahun

Saat anak mulai berusia 2 tahun, penting untuk memulai toilet training. Saat anak buang air kecil/besar, biasakan anak selalu menutup pintu. Tujuannya agar anak mempersepsikan bahwa aktivitas tersebut bersifat pribadi. Anak dapat membuka pintu setelah selesai untuk dibantu membersihkan.
  • Anak usia 3-5 tahun

Saat anak berusia 3-5 tahun, berikan pemahaman melalui berbagai contoh mengenai anggota tubuhnya yang tidak boleh disentuh orang lain, terutama lawan jenisnya. Anak juga belajar merespons saat dirinya merasa tidak nyaman.
  • Anak usia 6-11 tahun

Anak berusia 6-11 tahun (sampai dengan masa pra-pubertas) dapat diberikan pengetahuan mengenai perbedaan laki-laki dan perempuan, cara menjaga kesehatan dan kebersihan tubuh terutama organ reproduksi, serta persiapan yang dilakukan menjelang pubertas.
  • Anak usia 12-16 tahun

Remaja usia 12-16 tahun dapat diajarkan mengenai pemikiran jangka panjang atas konsekuensi akibat keputusan yang mereka ambil terhadap diri sendiri.Anak sedari dini perlu diajarkan untuk memikirkan konsekuensi setiap kali akan melakukan sesuatu. Dengan demikian cara berpikir ini akan terbawa sampai ia berada pada masa pubertas dan harus bertanggungjawab pada tubuhnya sendiri.Hal yang juga penting adalah keterbukaan anak semenjak kecil dalam membicarakan hal yang pribadi dengan orangtua, karena anak akan banyak memiliki pertanyaan. Maka dari itu, orangtua bersama dengan tenaga kependidikan lainnya, diharapkan menjadi sumber informasi utama bagi anak.

Siapa yang memegang peranan terpenting dalam pendidikan seks untuk anak?

Orangtua tentunya memegang peranan utama, karena rumah dan keluarga merupakan tempat pendidikan anak yang utama. Sebagian orangtua menggantungkan pemberian pendidikan seks pada sekolah, namun sebaiknya orangtua selalu menjadi figur pendidik yang pertama.Sebab, setiap orangtua tentunya memiliki nilai yang ingin diajarkan. Nilai yang ingin diajarkan oleh satu orangtua berbeda dari orangtua yang lain. Oleh karena itu, orangtua lah yang memberikan batasan, sesuai dengan nilai yang ingin diajarkan.Selain itu, anak dapat berpindah sekolah, dan tugas guru sangatlah terbatas. Oleh karena itu, orangtua harus menjadi sosok yang membuat anak nyaman menceritakan segala sesuatu mengenai dirinya.Saran terbaik apa yang bisa diberikan pada orangtua, agar bisa menjadi “tempat curhat” anak-anaknya, termasuk dalam hal seksualitas?Jadikan pembicaraan mengenai seksualitas sebagai pembahasan yang tidak tabu, melainkan hal yang ilmiah dan wajar untuk dibicarakan. Namun tekankan juga kepada siapa dan dalam situasi yang seperti apa mereka boleh membicarakannya.

Bagaimana sebaiknya menjawab pertanyaan seksual dari anak?

Biasakan menggunakan istilah ilmiah dalam menyebut bagian tubuh. Jika istilah ilmiah dirasakan terlalu formal, orangtua dapat menggunakan sebutan yang sesuai dengan fungsi organ, misalnya: alat kelamin.Hindari menggunakan istilah yang dapat membingungkan anak. Dengan terbiasa menggunakan nama ilmiah anggota tubuh, hal ini juga akan mengurangi ketabuan anak dalam membicarakan tubuhnya sendiri.

Bagaimana cara merespons pertanyaan seksual dari anak-anak?

Usahakan sebisa mungkin untuk tidak menghakimi anak saat ia ingin membicarakan topik seksualitas. Jaga ekspresi wajah, nada suara, bahasa tubuh, dan respons secara general saat anak bercerita atau bertanya. Melalui cara ini, anak akan merasa nyaman dengan orangtua.Marcelina mengungkapkan, orangtua tidak perlu menjawab pertanyaan saat itu juga. Jika tidak tahu atau kurang yakin, orangtua dapat mencari melalui sumber yang terpercaya. Orangtua juga dapat meminta bantuan tenaga profesional untuk menjelaskan topik yang sensitif, atau jika merasa kurang mampu dalam memberikan penjelasan.Selain itu, jangan malu untuk berkonsultasi tentang pendidikan seks, kepada psikolog. Sebab, psikolog bisa memberikan cara terbaik, agar informasi pendidikan seks, bisa tersampaikan kepada anak melalui orangtuanya.Jika Anda memiliki pertanyaan seputar pendidikan seksual sejak dini, jangan ragu untuk bertanya dengan dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ secara gratis. Unduh di App Store atau Google Play sekarang juga.
hubungan seksmasalah seksualsekspendidikan seks
Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/us/blog/talk-dirty-me/201910/let-s-talk-about-the-taboo-sex
Diakses pada 6 Desember 2019
Science Direct. https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S1877042815055573
Diakses pada 6 Desember 2019
Advocates for Youth. https://www.advocatesforyouth.org/resources/fact-sheets/sexuality-education-2/
Diakses pada 18 Oktober 2021
Very Well Health. https://www.verywellhealth.com/support-comprehensive-education-schools-3133083
Diakses pada 18 Oktober 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait