Bibir Kemaluan Bentol dan Gatal? Mungkin Salah Satu dari 7 Hal Ini Penyebabnya

(0)
26 Sep 2020|Azelia Trifiana
Perubahan hormon jadi bisa penyebab bibir kemaluan gatalBibir kemaluan bentol dan gatal disebabkan oleh berbagai hal.
Vulva atau bagian luar vagina bekerja bagaikan mesin yang bisa membersihkan dirinya sendiri, tanpa perlu sabun pembersih kewanitaan atau zat kimia lainnya. Namun terkadang, seseorang bisa merasakan bibir kemaluan bentol dan gatal disertai iritasi. Tak hanya di vulva, iritasi bisa berdampak pada bagian lain seperti labia, klitoris, uretra, dan mulut vagina.Iritasi yang terjadi singkat dapat diatasi sendiri di rumah. Namun apabila iritasi menjadi semakin parah, perlu dilakukan pemeriksaan untuk tahu apa pemicunya.

Penyebab bibir kemaluan bentol dan gatal

Bentol pada vagina memberikan rasa tak nyaman
Beberapa penyebab bibir kemaluan bentol dan gatal adalah:

1. Folikulitis

Pernahkah merasakan bibir kemaluan bentol dan gatal setelah melakukan brazilian waxing atau mencukur rambut kemaluan? Jika iya, mungkin yang terjadi adalah folikulitis. Ini terjadi ketika ada folikel rambut kemaluan yang terinfeksi atau mengalami inflamasi. Istilah kondisi ini adalah razor burn.Benjolan yang terjadi pada kondisi folikulitis sekilas tampak seperti fungal acne. Biasanya, kondisi ini disertai dengan gejala lain seperti rasa nyeri, pembengkakan, hingga adanya nanah.Tanpa perlu perawatan, folikulitis di vulva akan mereda dengan sendirinya. Hanya saja, bisa dibantu dengan memberikan kompres es batu, mengoleskan krim hidrokortison, dan juga mengenakan pakaian dalam yang menyerap keringat.

2. Dermatitis kontak

Dermatitis kontak terjadi ketika ada substansi yang menyebabkan kulit iritasi. Mulai dari deterjen pencuci pakaian, residu zat kimia di pakaian dalam baru, pewangi di produk pembalut, lubrikan, hingga kondom.Reaksi akibat dermatitis kontak ini bisa muncul langsung setelah terjadi kontak dan mereda beberapa hari kemudian. Gejala lainnya yang muncul adalah sensasi terbakar, gatal, ruam, dan juga bengkak.Setelah mengetahui penyebab terjadinya bibir kemaluan bentol dan gatal, hilangkan pemicunya. Kemudian, basuh vulva dengan sabun dan air hangat untuk menghilangkan penyebab dermatitis kontak. Obat antihistamin juga dapat meredakan gejala yang muncul.

3. Perubahan hormonal

Perempuan bisa mengalami perubahan hormonal cukup drastis, contohnya saat sedang haid, hamil, hingga menyusui. Kondisi medis seperti PCOS juga bisa menyebabkan hormon menjadi fluktuatif. Selain itu, menopause juga bisa mengakibatkan perubahan hormon dan berpengaruh terhadap sensitivitas vulva.Contohnya ketika hormon estrogen menurun drastis, kulit vulva bisa menjadi lebih kering dan tidak elastis. Artinya, kemungkinan mengalami iritasi pun meningkat.Cara mengatasinya bisa dengan menggunakan lubrikan untuk melembapkan vagina. Selain itu, aplikasikan lubrikan berbahan dasar air atau silikon sebelum melakukan aktivitas seksual. Terapi hormonal juga dapat menjadi opsi bergantung pada kondisi masing-masing.

4. Infeksi jamur

Jenis jamur yang paling sering menginfeksi area kemaluan adalah Candida. Gejala lain yang menyertai adalah rasa gatal, bengkak, nyeri saat bercinta, muncul ruam, hingga keluarnya cairan vagina kental berwarna putih.Sebagian besar infeksi jamur bisa diatasi dengan obat anti-jamur yang digunakan selama 1-7 hari. Selain itu, pastikan tidak melakukan aktivitas seksual apapun hingga infeksi jamur benar-benar sembuh.

5. Infeksi bakteri

Infeksi bakteri yang terjadi pada vagina disebut dengan bacterial vaginosis. Ini terjadi ketika bakteri berkembang biak tak terkendali sehingga kondisi vulva tak lagi seimbang.Infeksi bakteri umum dialami perempuan berusia 15-44 tahun. Gejala lain infeksi bakteri disertai dengan keluarnya cairan dengan warna dan aroma tidak normal serta sensasi terbakar di vagina.Untuk mengatasinya, dokter akan meresepkan antibiotik oles maupun oral. Habiskan antibiotik sesuai resep dokter. Selain itu, pastikan untuk tidak melakukan aktivitas seksual apapun hingga infeksi benar-benar tuntas.

6. Psoriasis

Psoriasis adalah kondisi autoimun yang menyebabkan akumulasi sel kulit dengan cepat. Jika terjadi di vulva, ini disebut dengan genital psoriasis. Gejalanya adalah ruam berwarna kemerahan namun tidak menyebabkan kulit menjadi pecah-pecah seperti psoriasis di bagian tubuh lain.Untuk mengatasinya, dokter akan meresepkan krim steroid untuk mengurangi rasa tidak nyaman dan gatal. Selain itu, bisa juga dilakukan prosedur menyembuhkan kulit dengan sinar ultraviolet khusus.

7. Lichen planus

Lichen planus adalah inflamasi yang bisa terjadi di vulva dan vagina. Biasanya gejala yang muncul disertai rasa gatal, ruam berwarna putih, luka terbuka, benjolan berwarna keunguan, serta nyeri ketika berhubungan seksual.Orang yang sudah menopause juga bisa mengalami lichen sclerosus, dengan ciri munculnya luka berwarna putih di vulva dan vagina.Kedua kondisi ini bisa diredakan dengan memberikan kompres es batu untuk meredakan nyeri, mengaplikasikan krim hidrokortison, dan minum obat antihistamin agar inflamasi berkurang.Kasus lichen planus ringan akan mereda setelah beberapa tahun. Namun jika melibatkan membran mukosa vagina, penanganannya bisa jadi lebih sulit.

Bibir kemaluan bentol dan gatal tentu menyebabkan rasa tidak nyaman dan dapat mengganggu aktivitas seseorang. Untuk itu, penting mengetahui apa yang menjadi pemicunya. Baik itu ringan maupun berat, pastikan area vulva dan vagina selalu terjaga kebersihannya agar iritasi tidak meluas.
kesehatan organ intimkesehatan wanitaorgan intim wanita
Healthline. https://www.healthline.com/health/womens-health/irritated-vulva
Diakses pada 13 September 2020
Women’s Health Mag. https://www.womenshealthmag.com/health/a19926317/bumps-on-vagina/
Diakses pada 13 September 2020
WebMD. https://www.webmd.com/women/guide/vaginal-itching-burning-irritation
Diakses pada 13 September 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait