Berkat Penemu Vaksin Cacar, Penyakit Ini Tak Lagi mematikan

Berkat penemu vaksin cacar, penyakit ini tak lagi mematikan
Vaksin cacar merupakan cara mencegah cacar (smallpox) yang efektif

Dulu, cacar (smallpox) merupakan penyakit yang amat mematikan. Sekitar 3 dari 10 orang yang menderita cacar meninggal dunia.

Namun sejak seorang dokter asal Inggris bernama Edward Jenner memperkenalkan metode untuk mengendalikan cacar pada akhir abad ke-18, penyakit ini tidak lagi mematikan. Berkat prestasinya sebagai penemu vaksin cacar, ia mendapatkan julukan Bapak Imunologi.

Penyakit cacar bukanlah cacar air

Meski serupa, cacar berbeda dengan cacar air. Penemu vaksin cacar dan vaksin cacar air juga tidak sama.

Penyakit cacar atau smallpox adalah penyakit menular akut yang disebabkan oleh virus variola. Sementara cacar air (chickenpox) disebabkan oleh virus varicella.

Dalam kebanyakan kasus, penularan cacar terjadi ketika seseorang menghirup udara yang mengandung virus ini. Misalnya, dari percikan air yang keluar ketika penderita batuk, bersin, atau berbicara.

Ketika tertular penyakit cacar, Anda umumnya tidak langsung merasakan keluhan tertentu. Perlu waktu sekitar 7-17 hari sampai gejala muncul.

Jeda waktu penularan infeksi hingga gejala muncul tersebut dinamakan masa inkubasi. Selama masa inkubasi, penderita belum dapat menyebarkan virus variola ke orang lain.

Penyebaran virus variola baru bisa terjadi jika penderita sudah mengalami gejala cacar. Gejala penyakit ini umumnya berupa munculnya lepuh kecil berisi nanah di wajah, lengan, dan tubuh penderita.

Penyakit cacar termasuk mematikan di zaman dulu. Namun bahaya smallpox berkurang berkat ditemukannya vaksin cacar.

Sejarah penemu vaksin cacar

edward jenner si penemu vaksin cacar
Edward Jenner menemukan vaksin cacar di tahun 1798 (Sumber: Shutterstock)

Sebelum vaksin cacar ditemukan, salah satu teknik pertama yang digunakan untuk mengendalikan penyakit menular ini adalah variolasi.

Diperkenalkan pada tahun 1721 di Inggris, variolasi merupakan proses pemindahan benjolan kecil cacar (pustula) pada penderita cacar ke orang lain yang belum pernah mengalami cacar. Percobaan ini ternyata tak lepas dari risiko.

Tidak hanya risiko meninggalnya pasien karena prosedur tersebut, gejala cacar yang timbul akibat variolasi juga dapat menyebar dan menyebabkan epidemi.

Pada tahun 1798, Edward Jenner memulai ekperimennya. Saat itu, ia mengamati bahwa para pemerah susu yang terkena cacar sapi (cowpox) justru tidak mengalami gejala smallpox setelah variolasi.

Dr. Jenner pun melakukan uji coba pada seorang pemerah susu bernama Sarah Nelmes dan seorang anak berusia sembilan tahun bernama James Phipps.

Penemu vaksin cacar tersebut mengambil materi cacar sapi dari tangan Nelmes dan memindahkannya ke lengan Phipps. Beberapa bulan kemudian, ia kembali memasukkan virus variola selama beberapa kali ke tubuh Phipps.

Meski telah berkali-kali dilakukan, hasilnya tetap sama, yaitu Phipps sama sekali tidak terjangkit cacar alias kebal.

Eksperimen Dr. Jenner, Si penemu vaksin cacar, tidak pernah berhenti. Ia terus melakukan penelitian-penelitian. Di tahun 1801, ia menerbitkan buku “On the Origin of the Vaccine Inoculation” yang merangkum penemuan-penemuannya.

Dalam buku tersebut, ia mengungkapkan harapannya mengenai penyakit cacar yang merugikan umat manusia ini bisa dibasmi total. Sejak itulah, vaksin cacar mulai diterima secara luas dan perlahan-lahan menggantikan praktik variolasi.

Kabar baik, dunia telah bebas cacar

Dunia dinyatakan bebas cacar pada tahun 1979. Kasus cacar alami terakhir ditemukan di Somalia pada tahun 1977.

Selain karena jasa sang penemu vaksin cacar Edward Jenner, kabar baik ini juga tak lepas dari program vaksinasi global yang diprakarsai oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO). Setelah pemberantasan cacar sukses, vaksinasi cacar tidak lagi digunakan secara luas.

Manfaat dan efek samping vaksin cacar

Vaksinasi cacar berguna untuk melindungi diri dari penyakit cacar. Ketika seseorang mendapatkan suntikan vaksin ini, tubuhnya akan membangun kekebalan terhadap cacar.

Vaksin cacar mengandung virus vaccinia yang masih hidup. Vaccinia ini sejenis poxvirus yang mirip dengan virus variola penyebab cacar, tetapi memiliki efek samping kesehatan yang lebih sedikit.

Untuk orang-orang yang sehat, vaksin cacar termasuk aman dan efektif. Dengan menjalani vaksinasi, seseorang dapat terlindungi dari penyakit cacar selama sekitar tiga hingga lima tahun.

Setelah jangka waktu berakhir, kemampuan vaksin untuk melindungi tubuh akan berkurang. Jika ingin perlindungan jangka panjang, perlu melakukan imunisasi ulangan alias booster.

Vaksin cacar juga terbukti dapat mencegah atau mengurangi infeksi ketika diberikan dalam beberapa hari setelah seseorang terpapar virus variola. Meski begitu, efek samping vaksin cacar juga tidak boleh diremehkan.

Setelah dunia dinyatakan bebas cacar pada 1979, penggunaan vaksin smallpox tidak lagi direkomendasikan untuk masyarakat luas. Pasalnya, vaksin ini berpotensi memicu komplikasi berbahaya hingga kematian.

Hanya kelompok orang tertentu yang memiliki risiko tinggi mengalami komplikasi yang boleh mendapatkannya. Siapa sajakah mereka?

  • Orang yang telah terpapar virus.
  • Peneliti yang setiap hari bersinggungan dengan virus variola atau virus sejenisnya.

Sebagai penemu vaksin cacar, Edward Jenner berkontribusi amat besar dalam dunia medis. Berkatnya, dunia terbebas dari penyakit cacar yang pernah mematikan.

Namun mengingat komplikasinya yang berbahaya, vaksin cacar hanya diperbolehkan bagi orang yang memiliki risiko tinggi terhadap penyakit cacar. Apabila Anda termasuk orang yang membutuhkan vaksin ini, Anda dianjurkan untuk berkonsultasi ke dokter agar lebih pasti dan aman.

Centers for Disease Control and Prevention (CDC). https://www.cdc.gov/smallpox/history/history.html
Diakses pada 10 Desember 2019

Centers for Disease Control and Prevention (CDC). https://www.cdc.gov/smallpox/vaccine-basics/index.html
Diakses pada 10 Desember 2019

U.S. National Library of Medicine. https://www.nlm.nih.gov/exhibition/smallpox/sp_variolation.html
Diakses pada 10 Desember 2019

American Academy of Pediatrics. https://pediatrics.aappublications.org/content/50/6/889
Diakses pada 10 Desember 2019

WHO. https://www.who.int/csr/disease/smallpox/faq/en/
Diakses pada 10 Desember 2019

WebMD. https://www.webmd.com/a-to-z-guides/smallpox-causes-treatment#1
Diakses pada 10 Desember 2019

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Banner Telemed