Bercerai Atau Bertahan? Ini 6 Hal yang Harus Jadi Pertimbangan

0,0
01 Sep 2021|Azelia Trifiana
Bercerai membawa perubahan besar dalam hidupBercerai membawa perubahan besar dalam hidup
Tidak lagi tabu, seseorang yang ingin bercerai karena tidak bahagia dalam pernikahannya adalah hal manusiawi. Pilihannya adalah bercerai atau bertahan. Satu yang pasti, jangan diputuskan berlandaskan emosi dan sebaiknya melewati proses pertimbangan sebelum bercerai.Ketika seseorang dan pasangan telah sampai di tahap membicarakan opsi perceraian, konsekuensinya sangat beragam. Baik bercerai atau bertahan, sama-sama akan memberikan konsekuensi. Ingat pula sebelum menikah, bahwa pernikahan bukan berarti seseorang bisa berubah.

Bercerai atau bertahan?

Bagi pasangan yang ingin bercerai karena tidak bahagia, berikut ini beberapa pertimbangan sebelum bercerai:

1. Kenali pemicunya

Setiap orang memiliki pemicu berbeda-beda ketika sudah sampai berbicara tentang perceraian. Mulai dari konflik yang bagaikan gunung es, hilangnya rasa sayang, perselingkuhan, komunikasi buruk, dan banyak lagi.Tentu untuk mengetahui apa pemicunya, perlu diskusi matang bersama pasangan. Ini hanya bisa diketahui lewat komunikasi dua arah yang serius. Jika tidak, pemicunya bisa semakin tak terlacak dan membuat hubungan semakin kusut.

2. Upaya yang telah dilakukan

Tentunya sebelum memutuskan untuk bercerai, harus ada upaya yang dilakukan. Mungkin saja, setiap pihak belum mencoba semaksimal mungkin untuk berubah dan mempertahankan pernikahan. Atau bisa jadi, kedua belah pihak belum benar-benar jujur kepada satu sama lain.Tak ada salahnya mencari konselor pernikahan profesional apabila menemui jalan buntu. Sebab, keputusan bercerai atau bertahan sangatlah krusial. Siapa tahu, masalah yang ada selama ini belum bisa terselesaikan karena perlu campur tangan pihak yang netral.

3. Dampak terhadap anak-anak

Bagi pasangan suami istri yang sudah memiliki keturunan, pertimbangan sebelum bercerai juga harus meliputi dampak kepada anak. Pikirkan bagaimana perceraian ini akan berdampak pada mereka. Di sisi lain, kalkulasikan pula apa saja kerugian yang anak-anak alami apabila tetap bertahan dalam pernikahan tak bahagia.Ingat, seberapa mulus dan baiknya proses perceraian terjadi, pasti akan ada dampak signifikan terhadap anak-anak. Pertimbangkan pula tentang kemungkinan hadirnya pasangan baru yang nantinya juga akan menimbulkan tanda tanya pada anak-anak.

4. Ingat waktu-waktu terbaik kebersamaan

Runut kembali kapan saja merasa paling terkoneksi dengan pasangan. Kapan merasa paling bahagia, dan kapan waktu-waktu terbaik kebersamaan kalian? Tak hanya itu, ingat-ingat pula apa saja yang membuat Anda tertarik kepadanya pertama kali.Kemudian, bayangkan apakah Anda ingin mengulangnya kembali? Apakah mungkin diwujudkan? Jika jawabannya adalah ya, maka proses yang tepat akan membawa Anda kembali.

5. Pisahkan dari pemicu stres

Terkadang bisa saja situasi terasa kusut karena ada banyak pemicu stres hadir di saat bersamaan. Oleh sebab itu, coba petakan satu persatu apa saja yang tengah dihadapi. Selain stres dalam rumah tangga, apakah ada penyebab lain?Mungkin dari pekerjaan, keluarga, finansial, dan banyak lagi. Mencerna apa yang tengah terjadi akan membantu berpikir lebih jernih dalam mengambil keputusan.

6. Siapkan rencana cadangan

Situasi bisa berjalan tidak sesuai ekspektasi. Mungkin saja itu terjadi di luar kendali. Namun ada yang bisa Anda kendalikan, yaitu mempersiapkan rencana cadangan.Rencana ini bisa apa saja, yang pasti memberikan Anda wewenang akan hidup sendiri. Entah dipakai atau tidak, rencana semacam ini akan sangat membantu ketika situasi krisis datang. Hal ini juga termasuk rencana yang berkaitan dengan aspek finansial.Jangan terjebak dalam gelembung rasa bingung terlalu lama. Pilihannya adalah bercerai atau bertahan. Untuk bertahan, bisa dengan memperbaiki diri dan pasangan lalu memulai segalanya dari awal. Di sisi lain, bisa juga berupa melanjutkan pernikahan begitu saja tanpa benar-benar menuntaskan masalah.Mengambil keputusan – apapun itu, bercerai atau bertahan – adalah hal yang lebih baik ketimbang terus-menerus terjebak tak bisa memutuskan. Belum lagi jika merasa ingin bercerai karena tidak bahagia, tentu perlu melakukan sesuatu demi mengatasinya.

Catatan dari SehatQ

Apabila keamanan fisik dan juga emosional menjadi taruhannya ketika memilih untuk bertahan dengan pasangan, maka bercerai adalah prioritas. Keamanan sekaligus kewarasan diri sendiri adalah yang paling penting.Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan orang yang berpengalaman dalam memberikan konseling pernikahan. Terapis bisa memberikan pemahaman tentang duduk perkara yang mungkin belum pernah terbayangkan sebelumnya.Ketika sudah mengambil keputusan, pastikan berkomitmen terhadapnya. Jika memilih untuk bercerai, jangan merasa gagal. Sebab, hubungan pernikahan yang tidak sehat memang tidak layak diperjuangkan.Untuk berdiskusi lebih lanjut seputar kapan pernikahan disebut toxic, tanyakan langsung pada dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Download sekarang di App Store dan Google Play.
hubungan seksualmempertahankan pernikahanmenjalin hubungan
Verywell Mind. https://www.verywellmind.com/questions-before-you-leave-your-marriage-2302139
Diakses pada 16 Agustus 2021
Verywell Mind. https://www.verywellmind.com/throwing-the-towel-in-marriage-2300478
Diakses pada 16 Agustus 2021
Fatherly. https://www.fatherly.com/parenting/staying-together-for-the-kids/
Diakses pada 16 Agustus 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait