Berbagai Masalah Gizi pada Bayi yang Perlu Diwaspadai

(0)
05 Sep 2020|Annisa Trimirasti
Ditinjau olehdr. Karlina Lestari
ASI eksklusif termasuk cara mencegah masalah gizi pada bayiMasalah gizi pada bayi bisa dicegah dengan pemberian ASI eksklusif
Bayi membutuhkan gizi yang cukup agar dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Masalah gizi pada bayi bisa berdampak buruk pada kedua hal tersebut.Bila dibiarkan, dampaknya dapat terus berlangsung hingga buah hati menginjak usia kanak-kanak bahkan dewasa.Gizi yang buruk dapat menyebabkan kualitas hidup yang buruk pula. Bukan hanya perkembangan fisik anak saja yang terganggu, namun juga perkembangan intelektualitasnya.

Beberapa masalah gizi pada bayi yang perlu diwaspadai

Kekurangan gizi pada bayi, bahkan sejak ia masih dalam kandungan, dapat menyebabkan sejumlah masalah gizi. Apa sajakah contohnya malnutrisi pada bayi yang penting untuk diperhatikan?
  • Berat bayi lahir rendah

Berat bayi lahir rendah terjadi saat bayi terlahir dengan berat badan di bawah 2,5 kg. Kondisi ini membuat bayi lebih mungkin mengalami gangguan perkembangan dan lebih mudah terserang penyakit. Kurang gizi selama kehamilan bisa menjadi salah satu pemicunya.Oleh karena itu, penting bagi para calon ibu untuk mencukupi kebutuhan gizinya selama mengandung. Terutama asam folat, kalsium, zat besi, dan protein.Namun bila bayi sudah terlanjur lahir dengan berat yang rendah, perawatan intensif di ruang NICU biasanya diperlukan.Bayi juga perlu diberi ASI eksklusif setelah ia lahir. Maka dari itu, ibu menyusui tetap harus memperhatikan asupan makanannya agar bayi dengan berat badan rendah dapat kembali normal dan sehat.
  • Kekurangan gizi

Menurut WHO, kekurangan gizi (underweight) didefinisikan jika skor z pada grafik pertumbuhan bayi berada pada minus 2 SD (-2 SD) sampai minus 3 SD (-3 SD).SD adalah singkatan dari standar deviasi. Contohnya, bayi perempuan usia 8 bulan yang seharusnya memiliki berat sekitar 8 kg, hanya memiliki berat sekitar 6 kg.Kondisi tersebut bisa berdampak buruk pada perkembangan otak, otot, hingga metabolisme bayi.Dalam jangka panjang, masalah kurang gizi pun dapat menyebabkan rendahnya kemampuan nalar dan imunitas tubuh. Bahkan, kekurangan gizi bisa meningkatkan risiko terjadinya sejumlah penyakit, seperti diabetes dan kanker.
  • Gizi buruk

Dari informasi WHO, gizi buruk didefinisikan jika skor z pada grafik pertumbuhan bayi kurang dari -3 SD. Sebagai contoh dari grafik WHO, bila bayi perempuan di usia 8 bulan seharusnya mempunyai berat sekitar 8 kg, bayi dengan gizi buruk memiliki berat di bawah 5,8 kg.Secara umum, dampak gizi buruk tidak jauh berbeda dengan kekurangan gizi. Namun pada bayi dengan masalah gizi buruk, perkembangan kognitifnya juga akan terganggu.
  • Kelebihan gizi

Kelebihan gizi (overweight) didefinisikan jika skor z pada grafik pertumbuhan bayi berada di antara +2 SD sampai +3 SD. Contohnya, jika bayi perempuan usia 8 bulan seharusnya memiliki berat badan kira-kira 8 kg, bayi yang kelebihan gizi akan mempunyai berat di antara 10-11,5 kg.Kelebihan gizi pada bayi bisa memicu obesitas. Dalam jangka panjang, obesitas termasuk pemicu dari berbagai penyakit. Dari diabetes hingga penyakit jantung.
  • Stunting

Stunting adalah kekurangan gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama. Akibatnya, anak mengalami gangguan pertumbuhan.Pada bayi, stunting atau kerdil ditandai dengan panjang bayi yang kurang secara signifikan dari standar usia seharusnya. Dampak dari stunting tidak jauh beda dari kondisi gizi kurang.Pemenuhan gizi yang lebih baik lewat ASI maupun MPASI bisa menjadi solusi dari stunting yang dialami oleh bayi.Tips mengatasi masalah gizi pada bayiUntuk mengatasi masalah gizi pada bayi, asupan nutrisinya perlu terpenuhi dengan saksama. Secara umum, bayi usia 0-6 bulan butuh mengonsumsi ASI eksklusif.Di atas usia tersebut, buah hati harus mendapatkan 5 kelompok makanan di bawah ini:
  • Berbagai jenis sayur dan buah
  • Biji-bijian utuh, contohnya nasi merah, bubur gandum (oatmeal), maupun jagung
  • Susu dan produk olahannya, seperti keju dan yoghurt
  • Protein, misalnya daging rendah lemak, ikan, telur, tahu, dan kacang-kacangan
  • Air putih
Selain itu, hindari makanan cepat saji atau yang mengandung banyak gula. Misalnya, pizza, keripik kentang, donat, dan kue-kue manis.Bayi membutuhkan asupan gizi seimbang selama 1 tahun pertamanya. Mulai dari protein, kalsium, karbohidrat, lemak sehat, zat besi, asam lemak omega-3, hingga berbagai vitamin (seperti vitamin A, B, C, dan E). Ketika kebutuhan nutrisi ini tidak terpenuhi dengan benar, masalah gizi dapat terjadi.Masalah gizi pada bayi umumnya terdeteksi saat Anda mengajak buah hati menjalani kontrol rutin ke bidan atau dokter anak. Dokter dapat menyarankan penanganan secara mandiri maupun medis, tergantung pada tingkat keparahan malnutrisi yang dialami oleh anak Anda.
gizi anakgizi burukmalnutrisistunting
Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. http://spesialis1.ika.fk.unair.ac.id/wp-content/uploads/2017/03/Rekomendasi-IDAI-Asuhan-Nutrisi-Pediatrik.pdf
Diakses pada 5 September 2020
Ikatan Dokter Anak Indonesia. https://www.idai.or.id/wp-content/uploads/2015/07/merged_document.pdf
Diakses pada 5 September 2020
Kementerian Kesehatan RI. https://www.kemkes.go.id/resources/download/info-terkini/Rakerkesnas-2020/02-Side-event/SE_08/Studi%20Status%20Gizi%20Balita%20Terintegrasi%20SUSENAS%202019%20(Kapus%20Litbang%20UKM).pdf
Diakses pada 5 September 2020
Raising Children. https://raisingchildren.net.au/toddlers/nutrition-fitness/daily-food-guides/babies-toddlers-food-groups
Diakses pada 5 September 2020
World Health Organization. https://www.who.int/nutrition/nlis_interpretation_guide.pdf
Diakses pada 5 September 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait