Berbagai Komplikasi Anemia Sel Sabit yang Dapat Terjadi pada Bayi

Komplikasi anemia sel sabit pada bayi dapat terjadi ketika adanya penyumbatan pembuluh darah
Bayi yang lebih rewel dari biasanya bisa menjadi tanda dari anemia sel sabit pada bayi

Apakah Anda pernah mendengar istilah anemia sel sabit? Mungkin istilah tersebut terdengar asing, namun ini merupakan kondisi serius yang dapat membahayakan bayi Anda. Anemia sel sabit merupakan penyakit genetik sel darah merah. 

Pada penyakit genetik ini, sel darah merah berbentuk abnormal menyerupai bulan sabit. Padahal normalnya, sel darah merah berbentuk bulat, dan dapat dengan mudah bergerak melalui pembuluh darah.

Apa saja komplikasi anemia sel sabit?

Anemia sel sabit dapat menyebabkan komplikasi parah yang terjadi ketika sel sabit menyumbat pembuluh darah di berbagai area tubuh. Adapun komplikasi yang dapat terjadi akibat anemia sel sabit, yaitu:

1. Anemia berat

Sel darah merah sabit dapat dengan mudah rusak, dan maksimal hidup selama 10-20 hari. Sementara, sel darah merah normal dapat hidup selama 120 hari. Mudah rusaknya sel sabit bisa menyebabkan anemia berat.

2. Pembengkakan tangan dan kaki

Ketika sel darah merah sabit memblokir pembuluh darah di tangan dan kaki, maka dapat menyebabkan terjadinya pembengkakan tangan dan kaki. 

3. Pembesaran limpa

Limpa dapat membesar karena sel sabit terperangkap dalam limpa. Ini terjadi secara tiba-tiba dan menyakitkan. Bahkan seiring bertambahnya usia, keadaan limpa bisa menjadi sangat parah dan tidak berfungsi lagi. Limpa yang rusak tidak dapat membantu melawan infeksi sehingga penderita anemia sel sabit mudah terserang infeksi.

4. Pertumbuhan lambat

Bayi dengan anemia sel sabit bisa mengalami pertumbuhan yang lambat. Umumnya, memiliki tinggi badan yang lebih pendek karena sel darah merah sabit tidak dapat menyediakan oksigen dan nutrisi yang cukup.

5. Komplikasi neurologis

Anemia sel sabit dapat menyebabkan komplikasi neurologis, seperti halnya kejang atau bahkan koma karena penyumbatan pembuluh darah di otak.

6. Masalah mata

Retina rusak atau kebutaan dapat terjadi karena penyumbatan pembuluh darah di mata akibat sel sabit.

7. Ulkus kulit atau eksim basah

Sel sabit dapat menyebabkan ulkus kulit di kaki karena pembuluh kecil yang ada di kaki menjadi tersumbat.

8. Penyakit jantung

Anemia sel sabit tentu dapat mengganggu pasokan oksigen darah sehingga dapat menyebabkan masalah jantung, seperti serangan jantung, gagal jantung, dan irama jantung yang tidak normal.

9. Penyakit paru-paru 

Kerusakan paru-paru dari waktu ke waktu terkait dengan penurunan aliran darah dapat menyebabkan tekanan darah tinggi di paru-paru dan jaringan parut paru-paru. Kerusakan paru-paru membuat paru-paru lebih sulit untuk mentransfer oksigen ke dalam darah hingga sering menyebabkan terjadinya krisis sel sabit.

10. Batu empedu

Batu empedu bukan komplikasi yang disebabkan oleh penyumbatan pembuluh darah. Namun, disebabkan oleh rusaknya sel darah merah pada penderita anemia sel sabit.

11. Sindrom dada akut

Ini merupakan komplikasi parah yang dapat terjadi pada penderita anemia sel sabit. Komplikasi ini menyebabkan sakit dada yang parah dan gejala-gejala lain seperti batuk, demam, produksi dahak, sesak napas, dan oksigen yang rendah. Bahkan dapat menjadi lebih buruk seiring waktu 

Bagaimana anemia sel sabit diturunkan?

Penderita anemia sel sabit memiliki sel darah merah yang lengket, kaku, dan sering terperangkap dalam pembuluh kecil. Oleh sebab itu, darah pun sulit menjangkau berbagai bagian tubuh dan menyebabkan terjadinya anemia. 

Gejala anemia sel sabit biasanya muncul sejak bayi, kira-kira di usia 6 bulan. Adapun gejala yang dapat muncul pada bayi, yaitu lebih rewel, kulit dan putih mata menguning, lemas, mudah marah, sering infeksi, demam, dan pembengkakan di beberapa bagian tubuh.

Perlu Anda ketahui bahwa anemia sel sabit dapat diturunkan dari orangtua pada bayinya. Anemia sel sabit diturunkan sebagai kondisi resesif autosomal yang berarti gen tersebut tidak terkait dengan kromosom seks. 

Singkatnya, gen dapat diturunkan dari orangtua pada bayi laki-laki maupun perempuan. Tidak ada penelitian yang menunjukkan persentase yang lebih tinggi pada laki-laki ataupun perempuan.

Anemia sel sabit dapat terjadi jika gen sel sabit diturunkan dari ibu dan ayah sehingga bayi memiliki dua gen sel sabit. 

Jika hanya satu yang menurunkan gen sel sabit, maka itu merupakan sifat sel sabit dan tidak menyebabkan anemia sel sabit. Bayi yang memiliki sifat sel sabit biasanya tidak akan merasakan banyak gejala, dan memiliki harapan hidup yang sama dengan bayi normal.

Anemia sel sabit sulit untuk dicegah karena kelainan genetik ini diturunkan. Namun ketika berencana memiliki anak, Anda dapat melakukan pemeriksaan pada dokter terkait dengan kemungkinan Anda dan pasangan memiliki gen sel sabit ataukah tidak.

Jika salah satu memilikinya atau bahkan keduanya, maka Anda dapat berkonsultasi pada dokter mengenai diturunkannya gen sel sabit tersebut pada anak Anda dan langkah apa saja yang dapat dilakukan untuk mencegah hal-hal buruk yang dapat terjadi pada dirinya kelak. 

Healthline. https://www.healthline.com/health/sickle-cell-anemia#complications
Diakses pada 22 Agustus 2019

Medicinenet. https://www.medicinenet.com/sickle_cell/article.htm#what_is_the_outlook_for_sickle_cell_anemia_can_it_be_cured
Diakses pada 22 Agustus 2019

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Banner Telemed