Berbagai Kebiasaan Penyebab Usus Buntu yang Harus Dihentikan

(0)
18 Feb 2021|Dina Rahmawati
Ditinjau olehdr. Karlina Lestari
Kebiasaan penyebab usus buntu salah satunya jarang mencuci tanganJarang mencuci tangan sebabkan kuman menempel dan tertelan
Tahukah Anda kalau ada kebiasaan tertentu bisa memicu terjadinya usus buntu? Penyakit usus buntu adalah peradangan pada usus buntu atau apendiks yang terletak di sisi kanan bawah perut. Usus buntu adalah sebuah kantung yang terhubung pada usus besar.Kondisi ini menyebabkan Anda mengalami nyeri perut di dekat pusar yang kemudian bergerak ke bawah dan kanan perut. Selanjutnya, kondisi ini dapat memburuk dalam hitungan jam, apalagi ketika Anda bergerak, menarik napas, batuk, ataupun bersin.Selain itu, gejala usus buntu lain yang mungkin Anda rasakan, yaitu mual, muntah, sembelit atau diare, tidak bisa kentut, demam, hilang nafsu makan, perut bengkak, dan ingin buang air besar. Seperti yang telah disinggung sebelumnya, ada berbagai kebiasaan yang dapat menyebabkan masalah ini. Lantas, apa saja kebiasaan penyebab usus buntu?

Kebiasaan penyebab usus buntu

Sebetulnya, penyakit usus buntu terjadi saat usus buntu tersumbat oleh kotoran, benda asing, atau tumor. Selain itu, penyumbatan juga dapat terjadi akibat infeksi karena usus buntu membengkak sebagai respons terhadap infeksi tersebut. Beberapa kebiasaan juga bisa menyebabkan usus buntu tersumbat hingga memicu peradangan, di antaranya:
  • Jarang buang air besar

Penumpukan feses bisa menyumbat usus buntu
Apakah Anda jarang buang air besar? Kebiasaan ini bisa menyebabkan kotoran menumpuk dan mengeras. Akibatnya, kotoran dapat menyumbat usus buntu. Lama-kelamaan bakteri akan berkembang di dalamnya hingga menyebabkan usus buntu meradang. Penumpukan feses bisa terjadi karena Anda jarang mengonsumsi makanan berserat atau sering menahan BAB.
  • Jarang mencuci tangan

Disadari atau tidak, jarang mencuci tangan bisa menyebabkan kuman atau cacing bertahan di sana. Apabila tertelan, kuman dan cacing ini dapat menyebabkan infeksi saluran cerna yang bisa berbahaya. Kuman yang menyebar sampai ke apendiks bisa menyebabkan terjadinya usus buntu yang menyakitkan.
  • Mengonsumsi makanan atau minuman sembarangan

Cuci sayur dan buah sebelum dikonsumsi
Kebiasaan penyebab usus buntu lainnya adalah mengonsumsi makanan atau minuman yang kurang higiensi. Makanan atau minuman ini kemungkinan telah terkontaminasi oleh kuman. Jika tertelan, kuman dapat menginfeksi pencernaan atau bahkan menyebar ke usus buntu. Alhasil, apendiks dapat meradang hingga perut Anda terasa begitu nyeri.
  • Sering terpapar polusi udara

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Environmental Health Perspectives mengungkapkan bahwa terpapar polusi udara bisa meningkatkan risiko usus buntu. Hal tersebut kemungkinan disebabkan oleh tingkat ozon yang tinggi sehingga membuat Anda lebih rentan terinfeksi bakteri dan virus. Saat menginfeksi tubuh, bakteri atau virus pun bisa menyebar ke usus buntu sehingga membuatnya meradang.Ada pula mitos yang beredar bahwa makan biji buah-buahan tertentu juga bisa sebabkan usus buntu. Namun, faktanya sebagian besar orang yang mengonsumsi biji buah ternyata tidak mengembangkan usus buntu. Meski begitu, Anda disarankan untuk tidak mengonsumsi biji buah-buahan yang tak dapat tercerna dengan baik, misalnya biji apel.

Pengobatan usus buntu

Penyakit usus buntu harus segera mendapat penanganan. Jika dibiarkan, kondisi ini bisa semakin parah hingga berpotensi menyebabkan kematian. Usus buntu yang meradang pun bisa pecah sehingga bakteri dan kotoran masuk ke dalam rongga perut. Kondisi ini dapat menyebabkan peradangan serius pada lapisan rongga perut, bahkan menyebar ke organ lain.Untuk mengatasi penyakit usus buntu, dokter akan menyarankan dilakukannya operasi usus buntu. Namun, apabila pada usus buntu muncul abses (kantung nanah), dua prosedur akan dilakukan. Pertama, untuk mengeluarkan nanah dan cairan dari abses. Kedua, untuk mengangkat usus buntu yang meradang. Sebelum usus buntu diangkat, Anda akan diberi antibiotik untuk melawan infeksi. Pengangkatan usus dilakukan dengan alat bernama laparoskopi. Jika setelah operasi timbul gejala tak biasa, seperti demam, muntah terus-menerus, muntah darah, pusing, nyeri perut hebat, atau keluar nanah di bekas luka operasi, segera hubungi dokter.Proses pemulihan setelah operasi usus buntu membutuhkan waktu sekitar 2-3 minggu. Pastikan Anda beristirahat dengan cukup supaya cepat pulih.Untuk berdiskusi lebih lanjut seputar usus buntu, tanyakan langsung pada dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Download sekarang di App Store dan Google Play.
masalah pencernaangangguan pencernaanusus buntu
NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3609170/
Diakses pada 04 Februari 2021
NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4559619/
Diakses pada 04 Februari 2021
NIDDK. https://www.niddk.nih.gov/health-information/digestive-diseases/appendicitis/symptoms-causes
Diakses pada 04 Februari 2021
Web MD. https://www.webmd.com/digestive-disorders/digestive-diseases-appendicitis#1
Diakses pada 04 Februari 2021
Healthline. https://www.healthline.com/health/appendicitis#symptoms
Diakses pada 04 Februari 2021
Everyday Health. https://www.everydayhealth.com/appendicitis/guide/causes/
Diakses pada 04 Februari 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait