Berbagai Jenis Gangguan Tidur yang Bisa Terjadi, Apa Saja?

Tak hanya insomnia, ada berbagai jenis gangguan tidur yang bisa terjadi
Insomnia menjadi salah satu gangguan tidur yang kerap terjadi

Tidur tentu menjadi kebutuhan bagi setiap orang. Ketika tidur, tubuh beristirahat untuk memulihkan energi. Selain itu, tidur juga dapat membantu memperkuat kekebalan tubuh, mempertajam ingatan, dan menunjang pertumbuhan.

National Sleep Foundation merekomendasikan jam tidur pada orang dewasa adalah 7–9 jam per hari atau tidak kurang dari 6 jam per hari. Sementara lansia (di atas 64 tahun) adalah 7–8 jam per hari.

Sayangnya, tidak semua orang dapat tidur dengan baik. Sebagian orang mungkin mengalami gangguan tidur yang dapat memengaruhi kualitas maupun kuantitas tidurnya. Bahkan ada pula yang hingga mengancam keselamatan jiwa.

Jenis-jenis gangguan tidur

Memiliki gangguan tidur tak hanya membuat frustasi, namun bisa berdampak pada kehidupan sehari-hari. Terdapat berbagai jenis gangguan tidur yang dapat terjadi, di antaranya:

1. Insomnia

Insomnia merupakan gangguan tidur yang paling umum terjadi. Insomnia kronis terjadi pada 10% orang dewasa, sementara insomnia akut terjadi pada 25% orang dewasa. Kondisi ini membuat Anda tidak mendapat cukup tidur sehingga sering menguap di sepanjang hari. 

Insomnia akut hanya terjadi dalam jangka waktu yang pendek, sedangkan insomnia kronis terjadi dalam jangka waktu yang panjang setidaknya tiga malam per minggu selama minimal tiga bulan.

Terdapat pula insomnia fatal familial, yaitu insomnia parah yang menurun dalam keluarga sehingga bisa membuat kesehatannya menurun. Insomnia terjadi dalam berbagai bentuk, ada yang menghabiskan waktu lebih dari 30 menit untuk mencoba tidur. Namun, ada pula yang sering terbangun dan tak bisa tidur lagi.

Berdasarkan penyebabnya, terdapat dua jenis insomnia:

  • Insomnia primer adalah insomnia yang tidak berhubungan dengan suatu penyakit
  • Insomnia sekunder adalah insomnia yang disebabkan oleh gangguan kesehatan, seperti penyakit autoimun, gangguan lambung, depresi, asma, kanker, dsb.

2. Sleep apnea

Sleep apnea adalah suatu kondisi di mana napas terhenti ketika tidur. Gangguan tidur ini terjadi ketika saluran pernapasan atas tersumbat dan menghalangi proses pernapasan. Seseorang yang mengalami sleep apnea akan berhenti bernapas selama 10 detik atau lebih dalam beberapa kali per jam. 

Hal tersebut membuat kadar oksigen dalam darah menurun. Saat tubuh merasakan itu terjadi, maka Anda akan terbangun agar bisa bernapas kembali. Pada kasus yang parah, sleep apnea bisa menyebabkan serangan jantung, gagal jantung, stroke, atau kematian mendadak.

3. Parasomnia

Parasomnia adalah gangguan tidur yang ditandai dengan perilaku tidur abnormal. Bentuk parasomnia yang cukup umum terjadi, yaitu sleep terrors, tidur berjalan, makan sambil tidur, berhubungan seks saat tidur, tidur bicara (mengigau), merintih, mengompol, menggertakkan gigi, dan gangguan tidur gerakan mata cepat. 

Bahkan pada kasus yang parah, kondisi ini bisa menyebabkan seseorang terjatuh atau mengambil benda tajam secara tidak sadar. Parasomnia dapat dipicu oleh beberapa faktor, seperti stres, trauma, efek samping obat tertentu, penggunaan narkoba, atau kebiasaan mengonsumsi alkohol.

4. Sleep paralysis

Sleep paralysis atau yang lebih dikenal dengan “ketindihan” adalah gangguan tidur yang menyebabkan Anda merasa lumpuh atau tak dapat bergerak selama masa transisi antara tidur dan bangun. 

Kondisi ini juga kerap disertai dengan halusinasi yang mengerikan, seperti halnya didekati makhluk halus. Sleep paralysis dialami sekitar 25% orang setidaknya sekali dalam hidupnya. Umumnya, durasi kondisi ini hanya berlangsung selama beberapa menit.

5. Narkolepsi

Narkolepsi adalah gangguan tidur yang ditandai dengan rasa kantuk berlebihan pada siang hari. Hal ini bisa menyebabkan Anda tertidur dalam situasi yang tidak pantas, seperti saat bekerja atau mengendarai mobil. Selain itu, narkolepsi juga dapat disertai dengan gejala lain, seperti hilangnya kekuatan otot secara tiba-tiba, sleep paralysis, dan halusinasi hypnagogic

Gangguan tidur yang bisa membahayakan ini diyakini terjadi akibat kurangnya zat kimia otak yang disebut hipokretin yang dapat meningkatkan kesadaran dan mempertahankan kekuatan otot. Kurangnya zat kimia tersebut dipicu oleh proses autoimun, genetika, atau kerusakan pada otak.

6. Sindrom kaki gelisah

Sindrom kaki gelisah (restless leg syndrome) adalah kelainan saraf yang ditandai dengan gerakan kaki di luar kendali ketika tidur. Kondisi ini juga dapat menyebabkan rasa sakit, terbakar, geli, atau seperti ada serangga yang merangkak di kaki, betis, dan paha. 

Sindrom kaki gelisah bisa membuat Anda sulit untuk tertidur, tidak bisa tidur nyenyak, atau membuat Anda terbangun ketika tidur. Menggerakkan kaki dapat membantu Anda menghilangkan sensasi tersebut.

7. Gangguan ritme sirkadian

Gangguan ritme sirkadian adalah suatu kondisi yang dapat terjadi karena jam biologis tubuh tidak selaras dengan lingkungan sehingga tak dapat membedakan siang dan malam. Kondisi ini dapat terjadi karena kebutaan, jet lag, atau shift kerja. Ketidaksesuaian tersebut bisa menyebabkan insomnia atau kantuk berlebihan pada waktu yang tidak tepat. Padahal ritme sirkadian sangat penting dalam menentukan kapan waktu tidur dan kapan waktu bangun.

Catatan SehatQ

Gangguan tidur bisa menyebabkan kesehatan fisik maupun mental Anda menjadi buruk. Oleh sebab itu, jika Anda mengalami gangguan tidur, sebaiknya konsultasikan pada dokter. Dokter akan menentukan penyebab dan penanganan yang tepat untuk keluhan Anda.

Verywell Health. https://www.verywellhealth.com/overview-of-common-sleep-disorders-3014775
Diakses pada 11 Juni 2020

Healthline. https://www.healthline.com/health/sleep/disorders#types
Diakses pada 11 Juni 2020

Artikel Terkait